Beranda Bali id

Berandabali.id – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi ujian nyata bagi kerja sama regional Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan NTT.

Gubernur Bali Wayan Koster dan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal datang langsung ke Labuan Bajo untuk melihat kondisi masyarakat sekaligus dampak yang ditimbulkan akibat gempa. Keduanya disambut Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena.

Pertemuan tiga kepala daerah tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat koordinasi penanganan bencana sekaligus menunjukkan bahwa kerja sama Bali-Nusra tidak hanya berhenti pada kesepakatan di atas kertas.

Tiga Gubernur, Satu Kawasan

Kerja sama Bali, NTB, dan NTT sebelumnya telah dibangun melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) regional lintas sektor yang ditandatangani pada awal 2026.

Konsep yang dikenal sebagai Trio Gubernur Bali-Nusra tersebut diarahkan untuk memperkuat konektivitas dan mengurangi sekat antarwilayah di kawasan Sunda Kecil.

Ketiga provinsi memiliki karakter dan potensi yang berbeda. Bali dikenal sebagai salah satu pusat pariwisata utama Indonesia, sementara NTB dan NTT memiliki potensi besar di sektor pariwisata, pertanian, peternakan, kelautan, hingga energi.

Gempa Flores kemudian menjadi salah satu momentum awal untuk melihat sejauh mana kolaborasi tersebut dapat diwujudkan dalam situasi nyata.

Pemerintah Bali dan NTB bersama Kodam IX/Udayana turut mengerahkan tim medis serta bantuan logistik ke wilayah terdampak. Selain memberikan bantuan, tim juga melakukan asesmen untuk mengetahui kebutuhan masyarakat setelah bencana.

Kerja Sama Tidak Hanya Saat Bencana

Kerja sama Bali-Nusra sebenarnya memiliki agenda yang jauh lebih luas dibandingkan penanganan bencana.

Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah pariwisata. Ketiga wilayah diharapkan dapat membangun jaringan destinasi yang saling terhubung sehingga wisatawan yang datang ke Bali memiliki pilihan untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di NTB maupun NTT.

Mandalika di Lombok dan Labuan Bajo di Flores menjadi dua contoh kawasan yang dapat dikembangkan dalam satu ekosistem perjalanan wisata bersama Bali.

Dengan pola tersebut, hubungan antarwilayah tidak lagi semata-mata dilihat sebagai persaingan destinasi, tetapi sebagai peluang untuk membangun pasar wisata yang lebih besar.

Perkuat Konektivitas dan Rantai Pasok

Kolaborasi Bali-Nusra juga mencakup sektor transportasi, rantai pasok, energi terbarukan, serta pembangunan yang memperhatikan lingkungan dan budaya lokal.

NTB dan NTT memiliki potensi untuk menjadi pemasok berbagai kebutuhan pangan, peternakan dan komoditas lainnya bagi kawasan pariwisata. Di sisi lain, Bali memiliki pasar dan ekosistem pariwisata yang dapat menjadi penggerak ekonomi bagi wilayah di sekitarnya.

Agar konsep tersebut berjalan, konektivitas udara, laut, dan darat menjadi faktor penting. Pergerakan manusia, barang dan jasa antarprovinsi harus semakin mudah dan efisien.

Karena itu, kunjungan Koster dan Iqbal ke Flores tidak hanya memiliki makna sebagai bentuk solidaritas antarpemerintah daerah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun koordinasi kawasan.

Gempa Flores Jadi Ujian Awal Bali-Nusra

Selama ini Bali menjadi salah satu motor utama pariwisata di kawasan Indonesia bagian timur. Namun, jika konsep Bali-Nusra berjalan sesuai rencana, pertumbuhan ekonomi kawasan tidak lagi bertumpu pada satu daerah.

Bali dapat menjadi pintu masuk wisatawan, sementara NTB dan NTT menawarkan destinasi serta potensi ekonomi yang melengkapi perjalanan tersebut.

Dalam konteks itu, penanganan gempa Flores menjadi ujian awal yang cukup penting. Ketika masyarakat membutuhkan bantuan, koordinasi antarwilayah harus mampu bergerak lebih cepat dibandingkan sekadar menjalankan prosedur birokrasi.

Untuk saat ini, perhatian utama tetap pada keselamatan dan pemulihan masyarakat Flores yang terdampak gempa.

Namun, dari peristiwa tersebut terlihat bahwa kerja sama Bali, NTB dan NTT mulai menghadapi ujian sebenarnya. Bukan melalui agenda investasi atau promosi pariwisata, melainkan melalui kebutuhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Jika koordinasi ini mampu berjalan efektif, gempa Flores dapat menjadi momentum untuk membuktikan bahwa konsep Bali-Nusra benar-benar dapat menjadi fondasi kerja sama kawasan yang lebih kuat. (Tim Berandabali.id)