Calon kades Tulikup Tut Lengoh Bekali 80 orang Saksi dari 7 Banjar, Tegaskan Saksi sebagai Pilar Demokrasi Pilkel Tulikup

Gianyar, BerandaBali. Id – Menjelang pelaksanaan Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Tulikup, calon Perbekel Desa Tulikup nomor urut 3, Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., yang akrab disapa Tut Lengoh, menggelar bimbingan teknis (bimtek) dan pembekalan bagi para saksi, Minggu (6/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 80 orang saksi yang berasal dari tujuh banjar di wilayah Desa Tulikup. Pembekalan ini menjadi bagian penting dari persiapan menghadapi seluruh tahapan pemungutan dan penghitungan suara Pilkel.

Bagi Tut Lengoh , keberadaan saksi bukan sekadar menjalankan tugas administratif pada hari pemungutan suara. Lebih dari itu, saksi memiliki tanggung jawab besar untuk ikut mengawal, mengawasi, dan memastikan seluruh proses demokrasi di tingkat desa berjalan secara jujur, tertib, transparan, dan sesuai ketentuan.

“Sesungguhnya kegiatan ini untuk mengedukasi masyarakat agar pelaksanaan Pilkel berjalan lancar dan tidak ada hambatan. Saksi ikut bertanggung jawab melakukan pengawasan dan kontrol dalam prosesnya,” ujar Tut Lengoh.

Menurutnya, kualitas sebuah pesta demokrasi tidak hanya ditentukan oleh kandidat maupun penyelenggara, tetapi juga oleh orang-orang yang berada langsung di lapangan untuk mengawal proses tersebut.

Karena itu, pembekalan saksi dilakukan sebagai langkah preventif. Saksi diharapkan mampu mengenali setiap tahapan, memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sekaligus mengambil langkah yang tepat apabila menemukan persoalan dalam proses pemungutan maupun penghitungan suara.

“Jadi sebelum terjadi sesuatu, saksi itulah yang berperan untuk mencegah supaya tidak terjadi hal-hal yang menyimpang dari nilai-nilai demokrasi berkaitan dengan jalannya pelaksanaan Pilkel,” tegasnya.

Saksi Disebut Kunci Keberhasilan Kandidat

Tut Lengoh menilai posisi saksi sangat strategis. Bahkan, ia menyebut saksi sebagai salah satu kunci keberhasilan seorang kandidat dalam menjaga proses demokrasi tetap berjalan sesuai aturan.

READ  Bali–Phuket Kini Makin Dekat, TransNusa Buka Rute Internasional Baru dari Ngurah Rai

“Saksi memiliki peran yang sangat strategis, penting, dan sangat-sangat penting. Karena di sanalah kunci keberhasilan para kandidat,” katanya.

Ia mengibaratkan, kerja keras seorang kandidat dalam membangun komunikasi dengan masyarakat dan menyampaikan gagasan akan menjadi kurang bermakna apabila tidak dibarengi dengan kesiapan saksi di lapangan.

“Kalau saksinya lemah, apa pun yang telah dilakukan dengan penuh optimisme, kalau saksinya lemah, tidak berarti apa-apa,” ujarnya.

Karena itulah, Tut Lengoh memberikan perhatian khusus terhadap kualitas dan pemahaman para saksi yang akan bertugas di masing-masing wilayah.

Belajar Demokrasi dari Generasi ke Generasi

Dalam kegiatan tersebut, para saksi juga mendapatkan materi dari sejumlah narasumber yang memiliki pengalaman dalam proses demokrasi dan kepanitiaan berbagai kegiatan pemilihan.

Pengalaman tersebut dinilai penting agar para saksi tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengetahui bagaimana menghadapi situasi nyata yang mungkin terjadi di lapangan.

Menurut Tut Lengoh, pengetahuan tentang proses demokrasi harus terus diwariskan dari generasi ke generasi.

“Ini pembelajaran dari generasi ke generasi. Ada Pilpres, ada Pilkada, ada Pileg, dan sekarang Pilkel. Semakin banyak pembelajaran yang dilakukan, semakin cerdas pula masyarakat dalam memahami proses pemilihan seorang pemimpin,” jelasnya.

Ia berharap para saksi nantinya tidak hanya menjadi pengawas bagi kepentingan kandidat, tetapi juga mampu menjadi sumber edukasi bagi masyarakat secara luas.

Para saksi diharapkan mampu menjelaskan kepada masyarakat mengenai berbagai ketentuan dalam Pilkel, termasuk memahami batasan-batasan tindakan yang diperbolehkan maupun yang tidak diperbolehkan.

“Saksi-saksi itu akan menularkan pengetahuan kepada masyarakat secara umum dan menyeluruh. Mana yang boleh, mana yang tidak boleh,” katanya.

Disebut Pilar Demokrasi di Tingkat Desa

Tut Lengoh bahkan memberikan makna yang lebih luas terhadap keberadaan para saksi. Menurutnya, mereka merupakan bagian dari pilar demokrasi yang berada di lapisan paling bawah, yakni di tingkat desa.

READ  Kini Birokrat Itu Pulang:  Cokorda Gde Agusnawa Tinggalkan Dunia Birokrasi, Kembali Mengabdi untuk Desa Peliatan

“Saksi-saksi itu semacam pilar-pilar demokrasi di tingkat paling bawah,” ujarnya.

Antusiasme peserta mengikuti pembekalan pun mendapat perhatian khusus. Meski kegiatan berlangsung cukup lama, para peserta disebut tetap bertahan dan serius mengikuti materi yang diberikan.

Tut Lengoh mengapresiasi semangat tersebut. Menurutnya, antusiasme para saksi menunjukkan adanya kesadaran bahwa tugas mereka bukanlah pekerjaan sederhana.

“Antusiasmenya luar biasa. Sampai belum ada yang pulang, semuanya mendengarkan. Biasanya orang mendengarkan materi seperti ini bisa bosan, tetapi mereka tetap mengikuti,” katanya.

Materi yang disampaikan narasumber juga dikemas secara praktis dan implementatif sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan ketika para saksi menjalankan tugas di lapangan.

Pesan Tut Lengoh: Cerdas, Tuntas dan Jangan Lengah

Menutup pembekalan tersebut, Tut Lengoh menyampaikan pesan khusus kepada seluruh saksi yang akan bertugas.

Ia meminta para saksi bekerja dengan penuh kecermatan, memahami tugas dan tanggung jawab, serta mengikuti seluruh proses Pilkel secara utuh.

“Harapan saya, para saksi tetap bekerja dengan cerdas, kemudian tuntas, dan selanjutnya terus mengikuti proses secara utuh,” pesannya.

Ia juga mengingatkan agar para saksi tidak lengah dalam menjalankan tugas. Menurutnya, sekecil apa pun kelengahan dapat membuka ruang terjadinya persoalan yang tidak diinginkan.

“Tidak boleh lengah. Karena sedetik saja lengah, itu bisa memberikan ruang kepada pihak lain untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.

Bagi Tut Lengoh, pembekalan saksi bukan semata-mata persiapan menghadapi hari pencoblosan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran demokrasi masyarakat Desa Tulikup.

Sebab demokrasi yang sehat, menurutnya, tidak hanya membutuhkan kandidat yang memiliki gagasan, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang memahami aturan, penyelenggara yang berintegritas, serta saksi yang mampu menjalankan fungsi pengawasan secara cerdas dan bertanggung jawab.

READ  Antrean Kendaraan Mengular di SPBU, Pertamina Pastikan Pasokan Pertalite Terus Diperkuat

Dengan bekal tersebut, sekitar 80 saksi dari tujuh banjar diharapkan mampu menjalankan tugasnya secara profesional dan ikut memastikan Pilkel Desa Tulikup berlangsung aman, tertib, jujur, serta menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. (Tim)

Populer

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10

Terbaru

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10