Gianyar,BerandaBali.id– Calon Perbekel Desa Tulikup nomor urut 3, Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A. atau yang akrab disapa Tut Lengoh, menawarkan arah baru pembangunan Desa Tulikup. Bukan sekadar janji politik, tetapi perubahan cara membangun desa melalui komunikasi yang terbuka, pelayanan publik yang modern, inovasi ekonomi, serta jejaring yang kuat dengan pemerintah kabupaten, provinsi hingga pusat.
Gagasan tersebut disampaikan saat pemaparan visi dan misi di hadapan krama Banjar Kembengan, bertempat di Pura Bale Agung Desa Adat Tulikup Kaler, yang berlangsung penuh antusias.
Dalam kesempatan itu, Tut Lengoh menegaskan bahwa keputusannya maju sebagai calon Perbekel bukan lahir dari ambisi pribadi, melainkan karena dorongan dan aspirasi masyarakat yang terus mengalir selama hampir satu tahun.
“Saya sudah lama berpikir sebelum akhirnya memutuskan maju. Di usia sekarang sebenarnya saya ingin menikmati waktu bersama keluarga. Tetapi ketika begitu banyak masyarakat berharap saya mengabdi di desa, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut membangun Tulikup,” ungkapnya.
Berbekal pengalaman puluhan tahun sebagai aparatur pemerintah, mulai dari tingkat kecamatan, Kabupaten Bangli hingga lebih dari dua dekade mengabdi di Pemerintah Provinsi Bali, Tut Lengoh mengaku memahami bagaimana membangun desa tidak cukup hanya mengandalkan dana desa, tetapi juga membutuhkan kemampuan membangun jaringan dan menghadirkan program dari pemerintah yang lebih tinggi.
Menurutnya, persoalan terbesar yang selama ini dirasakan masyarakat bukan semata-mata minimnya pembangunan, melainkan adanya sumbatan komunikasi antara pemerintah desa dengan masyarakat.
“Kadang pemerintah sudah bekerja, tetapi masyarakat tidak mengetahui. Akibatnya muncul salah paham. Karena itu komunikasi harus dibuka selebar-lebarnya agar masyarakat mengetahui apa yang dikerjakan pemerintah desa,” tegasnya.
Ia juga menilai Tulikup memiliki potensi besar yang belum digarap secara maksimal. Mulai dari sektor pariwisata, kawasan pantai, hingga ekonomi kreatif yang dapat menjadi sumber peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes).
“Desa harus berani berinovasi. Potensi yang kita miliki harus diolah sehingga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat dan menambah kekuatan keuangan desa,” ujarnya.
Tak hanya itu, Tut Lengoh juga memaparkan komitmennya menghadirkan pelayanan pemerintahan berbasis digital agar masyarakat memperoleh pelayanan yang cepat, mudah, transparan dan profesional.
Ia juga menggagas peningkatan pelayanan sosial, termasuk kesiapsiagaan pemerintah desa dalam membantu warga yang membutuhkan penanganan darurat, sehingga pemerintah benar-benar hadir di tengah masyarakat.
Di bidang infrastruktur, Tut Lengoh menilai pembangunan jalan, jembatan, pasar, fasilitas publik hingga penataan wajah desa harus menjadi prioritas. Namun, menurutnya, semua itu tidak mungkin hanya mengandalkan kemampuan anggaran desa.
“Perbekel harus memiliki jaringan yang kuat. Kita harus mampu membawa program dari pemerintah kabupaten, provinsi hingga pusat agar pembangunan Tulikup bisa dipercepat,” katanya.
Dalam suasana Pilkel yang mulai memanas, Tut Lengoh justru mengajak seluruh masyarakat menjaga etika demokrasi. Ia mengingatkan agar media sosial tidak dijadikan sarana menyebarkan kebencian atau menyerang calon lain.
“Gunakan media sosial untuk menyampaikan program, bukan untuk menjatuhkan. Demokrasi harus menjadi ruang pendidikan politik yang sehat sehingga masyarakat memilih berdasarkan gagasan, bukan karena provokasi,” pesannya.
Ia memastikan akan mengikuti seluruh tahapan Pilkel dengan menjunjung tinggi sportivitas serta menerima apa pun keputusan masyarakat.
Sebagai landasan perjuangannya, Tut Lengoh kembali menegaskan filosofi JAS (Jemet, Anteng, Seken) yang selama ini menjadi identitas perjuangannya.
Menurutnya, Jemet berarti bekerja keras tanpa mengenal lelah, Anteng bermakna menjaga ketenangan dan keharmonisan dalam memimpin, sedangkan Seken adalah komitmen untuk menuntaskan setiap amanah yang diberikan masyarakat.
“Bagi saya, nomor tiga adalah nomor yang istimewa. Nomor tiga melambangkan kesatuan antara pikiran, ucapan dan tindakan. Itulah yang saya wujudkan melalui semangat JAS, Jemet, Anteng, Seken,” tegas Tut Lengoh.
Ia pun menutup pemaparannya dengan mengajak seluruh masyarakat menjadikan Pilkel sebagai momentum mempererat persaudaraan.
“Berbeda pilihan adalah hal biasa dalam demokrasi. Tetapi setelah Pilkel selesai, kita tetap satu keluarga besar Desa Tulikup. Mari bersama-sama membangun Tulikup menjadi desa yang lebih maju, harmonis, jaya dan sejahtera,” pungkasnya. (Tim)