Gianyar, BerandaBali. Id— Sampah di kawasan Pantai Siyut, Desa Tulikup, tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan. Di tangan Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., atau Tut Lengoh, persoalan sampah justru ingin dibalik menjadi sebuah peluang ekonomi sekaligus gerakan masyarakat.
Calon Perbekel Desa Tulikup periode 2026–2034 ini melontarkan gagasan yang cukup berani: bukan sekadar mengajak masyarakat membersihkan sampah, tetapi menciptakan kondisi agar masyarakat justru berebut mengumpulkan sampah karena memiliki nilai ekonomi.
“Bagaimana mewujudkan Desa Tulikup, khususnya Pantai Siyut, supaya tidak ada sampah? Kalau sampah memiliki nilai yang luar biasa, orang akan berlomba-lomba mengumpulkan sampah. Dengan militansi masyarakat, otomatis sampah tidak lagi berserakan di tempat ini,” tegas Tut Lengoh.
Menurutnya, persoalan sampah di Pantai Siyut memiliki kompleksitas tinggi. Karena itu, penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan kegiatan bersih-bersih sesaat.
Harus ada sistem. Harus ada edukasi. Harus ada pengolahan. Dan yang paling penting, harus ada nilai ekonomi yang membuat masyarakat memiliki kepentingan untuk menjaga kebersihan.
“Sampah Jangan Jadi Beban, Tapi Jadi Nilai”
Tut Lengoh menilai masyarakat harus diedukasi untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik dan anorganik harus dipisahkan sehingga pengolahan dapat dilakukan secara lebih efektif.
Fasilitas TPS 3R yang tersedia juga harus dioptimalkan. Sementara untuk kebutuhan pengolahan lebih lanjut, Desa Tulikup dapat membangun kerja sama dengan desa tetangga yang sudah memiliki teknologi pengolahan sampah, termasuk Desa Temesi.
“Kita edukasi masyarakat untuk memilah dan memilih. TPS 3R kita optimalkan. Kalau membutuhkan pengolahan lebih jauh, kita bisa bekerja sama dengan Desa Temesi dan memanfaatkan teknologi yang sudah ada,” ujarnya.
Namun Tut Lengoh tidak ingin persoalan ini berhenti pada urusan teknis pengangkutan dan pengolahan sampah.
Ia ingin membangun ekosistem ekonomi sampah.
Sampah dikumpulkan. Sampah dipilah. Sampah diolah. Sampah yang memiliki nilai dijual atau dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Dengan demikian, masyarakat bukan hanya diajak menjaga kebersihan karena kewajiban, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi dari apa yang mereka kumpulkan.
Komunitas Lingkungan Jadi Mesin Gerakan
Jika dipercaya memimpin Desa Tulikup, Tut Lengoh juga berkomitmen memperkuat komunitas-komunitas peduli lingkungan.
Komunitas pencinta lingkungan, komunitas bersih-bersih, hingga kelompok yang bergerak dalam pelestarian penyu akan didorong agar semakin besar dan memiliki gerakan yang lebih luas.
Ia menyebut keberadaan komunitas seperti Bumi Kita harus menjadi kekuatan sosial dalam menjaga lingkungan Desa Tulikup.
“Kita akan dorong komunitas Bumi Kita maupun komunitas bersih-bersih lingkungan lainnya supaya semakin besar dan semakin luas. Mereka harus menjadi bagian dari gerakan menjaga lingkungan Desa Tulikup,” katanya.
Bagi Tut Lengoh, pemerintah desa tidak bisa bekerja sendirian.
Dibutuhkan kolaborasi dengan masyarakat, komunitas, pemilik lahan, pihak ketiga, perbankan melalui program CSR, pemerintah kabupaten hingga seluruh pemangku kepentingan.
Pantai Siyut Bersih, Pariwisata Bangkit
Tut Lengoh juga optimistis kebersihan Pantai Siyut akan berdampak langsung terhadap daya tarik kawasan tersebut.
Pantai yang bersih, tertata dan memiliki ekosistem lingkungan yang terjaga diyakini akan semakin menarik masyarakat dan wisatawan untuk datang.
Karena itu, ia ingin persoalan sampah ditempatkan sebagai bagian dari strategi besar pembangunan desa.
Bukan sekadar membersihkan pantai, tetapi membangun kesadaran, ekonomi, komunitas dan daya tarik wisata secara bersamaan.
“Kalau semua bergerak bersama, pantai ini bisa bersih. Komunitas semakin kuat, masyarakat mendapatkan manfaat, dan Pantai Siyut semakin menarik untuk dikunjungi,” ujarnya.
Dari Sampah Menjadi Berkah
Gagasan Tut Lengoh pada akhirnya bermuara pada satu perubahan cara berpikir.
Sampah tidak harus selalu menjadi masalah. Sampah bisa menjadi berkah apabila dikelola dengan benar.
Dari yang selama ini dibuang, menjadi sesuatu yang dikumpulkan.
Dari sesuatu yang dianggap tidak berguna, menjadi bernilai.
Dari beban lingkungan, menjadi peluang ekonomi.
Dan dari gerakan kecil membersihkan pantai, menjadi gerakan besar membangun kesadaran masyarakat.
Tut Lengoh ingin Pantai Siyut tidak hanya dikenal karena keindahan pesisirnya, tetapi juga karena masyarakatnya yang mampu menjaga lingkungan dan mengubah sampah menjadi nilai.
“Kalau sampah sudah bernilai, orang tidak akan membuangnya sembarangan. Orang justru akan mencarinya.”
Inilah gagasan Tut Lengoh: bukan sekadar Pantai Siyut bebas sampah, tetapi bagaimana sampah justru menjadi bagian dari kekuatan ekonomi masyarakat Tulikup. (Tim)