Denpasar,BerandaBali.id – Berani memulai sesuatu yang baru setelah puluhan tahun menekuni dunia kerja menjadi kisah inspiratif tersendiri bagi I Wayan Gede Budha Arte. Pria berusia 56 tahun ini memilih meninggalkan dunia Lembaga Perkreditan Desa (LPD) setelah mengabdi selama kurang lebih 28 tahun, untuk mengikuti passion sekaligus hobinya di bidang kuliner.
Budha Arta sebelumnya bekerja di LPD Kute sejak 1995 hingga Juli 2023. Selama hampir tiga dekade, ia dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai kepala LPD sejak awal kariernya.
Namun, setelah memutuskan resign atau pensiun lebih awal pada Juli 2023, Budha Arta tidak memilih untuk berhenti beraktivitas. Kecintaannya terhadap kuliner dan kegemarannya memasak justru mendorongnya mencoba peruntungan di dunia usaha makanan.
Tahun 2024 menjadi titik awal perjalanan barunya. Dengan modal keberanian dan tekad, ia membuka sebuah gerobak nasi goreng di sebuah lapak kecil di kawasan Jalan Imam Bonjol, tepat di depan atau sisi timur Trans Studio Mall Bali.
Usaha tersebut kemudian diberi nama Nasi Goreng MME.
Nama MME memiliki arti sederhana namun menjadi filosofi usaha yang dipegang hingga kini, yakni Murah, Meriah, Enak.
“Kenapa MME? Karena kepanjangannya murah, meriah, enak. Saya ingin memberikan makanan yang enak dengan harga yang tetap terjangkau,” ujar Budha Arta.
Bukan sekadar nama, konsep tersebut menjadi identitas Nasi Goreng MME. Salah satu keunikan yang ditawarkan adalah cita rasa yang menurut Budha Arte memiliki sensasi ala restoran, tetapi dibanderol dengan harga kaki lima.
Konsep sederhana tersebut perlahan mendapatkan respons positif dari masyarakat. Pelanggan pun mulai berdatangan dan sebagian menjadi pelanggan setia.
Selama kurang lebih satu tahun, Budha Arte menjalankan usaha tersebut menggunakan gerobak. Dari gerobak kecil itulah, ia membangun pelanggan, memperkenalkan cita rasa masakannya, sekaligus membuktikan bahwa usaha yang dimulai dari sederhana dapat berkembang apabila dijalankan dengan ketekunan.
Memasuki tahun 2026, langkah baru kembali dilakukan. Seiring berkembangnya pelanggan, Budha Arte kemudian menyewa sebuah warung yang berada di samping lokasi gerobaknya.
Lokasinya tetap strategis, yakni di kawasan Jalan Imam Bonjol, tepat di depan atau sebelah timur Trans Studio Mall Bali.
Tidak hanya mengandalkan nasi goreng, warung tersebut kini juga menawarkan sejumlah pilihan menu yang bisa menjadi alternatif bagi pelanggan. Di antaranya soto ayam, lalapan ayam, mi goreng, kwetiau, hingga capcay.
Dengan pilihan menu yang beragam, pelanggan dapat menikmati makanan sesuai selera, baik untuk makan siang, makan malam maupun sekadar menikmati hidangan bersama keluarga dan teman.
Bagi Budha Arta, perjalanan dari seorang kepala LPD selama 28 tahun menjadi pelaku usaha kuliner bukan sekadar pergantian profesi. Ini merupakan keberanian untuk mengikuti passion dan membangun sesuatu dari nol.
Ia pun berharap warung yang dirintisnya tersebut dapat terus berkembang dan suatu saat mampu membuka cabang di berbagai tempat.
“Harapan saya, warung ini bisa berkembang dan terus berkembang, sehingga bisa memberikan kontribusi bagi keluarga. Ke depannya mudah-mudahan bisa membuka cabang di tempat lain,” harapnya.
Perjalanan Nasi Goreng MME menjadi bukti bahwa usaha tidak selalu harus dimulai dengan tempat besar dan modal yang besar. Dari sebuah gerobak sederhana, dengan ketekunan menjaga rasa dan pelayanan, sebuah usaha dapat perlahan menemukan pelanggan dan berkembang menjadi warung.
Bagi masyarakat yang ingin mencicipi kuliner dengan konsep “rasa restoran, harga kaki lima”, Nasi Goreng MME dapat menjadi salah satu pilihan kuliner di kawasan Jalan Imam Bonjol, Denpasar.
Nasi Goreng MME — Murah, Meriah, Enak. Berawal dari gerobak, tumbuh bersama pelanggan. (Tim Newsyess)