Gianyar, BerandaBali.id – Komitmen Pemerintah Kabupaten Gianyar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus menekan angka pengangguran mendapat apresiasi dari Direktur Monarch Bali Gianyar, I Nengah Budiarta, SE., MM.
Menurut Budiarta, program beasiswa yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Gianyar melalui dinas terkait merupakan kebijakan yang sangat positif karena memberikan kesempatan kepada masyarakat, khususnya anak-anak dari keluarga kurang mampu, untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Ia menilai program tersebut bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan sebuah investasi pemerintah dalam menciptakan SDM Gianyar yang kompeten, mandiri dan memiliki daya saing.
“Ini sesuatu yang luar biasa dilakukan oleh Pemerintah Daerah Gianyar bagi masyarakat yang kurang mampu. Karena peluang kerja yang ada di Bali, khususnya di bidang pariwisata, sangat tinggi. Sehingga pemerintah ingin sekali memajukan SDM Bali,” ujar Budiarta.
Program beasiswa tersebut, kata dia, telah berjalan sekitar tiga tahun. Pada tahap awal, program pendidikan dan pelatihan juga mendapat dukungan melalui CSR dan Bank BPD Bali. Selanjutnya, Monarch Bali turut menjadi salah satu lembaga pelatihan yang menerima peserta program beasiswa Pemerintah Kabupaten Gianyar.
Pada salah satu tahap, Monarch Bali menerima sebanyak 27 siswa, kemudian pada tahun berikutnya kembali menerima sekitar 82 siswa.
Jika diakumulasi, selama program berjalan jumlah peserta yang telah memperoleh kesempatan pendidikan melalui skema tersebut telah mencapai lebih dari 80 hingga 100 orang.
Budiarta menilai jumlah tersebut menjadi bukti bahwa perhatian pemerintah terhadap peningkatan kualitas SDM masyarakat bukan sekadar wacana, tetapi telah diwujudkan melalui program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Beasiswa yang Berujung pada Pekerjaan
Salah satu hal yang paling diapresiasi Monarch Bali adalah orientasi program yang tidak berhenti pada pendidikan, tetapi diarahkan hingga peserta memiliki kompetensi dan peluang untuk memasuki dunia kerja.
Peserta beasiswa mendapatkan pendidikan dan pelatihan di bidang pariwisata, antara lain culinary, tata hidangan, bar, housekeeping dan front office.
Bidang-bidang tersebut dinilai sangat relevan dengan kebutuhan industri pariwisata Bali yang terus berkembang.
“Kita mendidik mereka di bidang pariwisata, ada culinary, tata hidangan, bar, housekeeping dan front office. Harapan pemerintah terhadap peningkatan sumber daya manusia yang kurang mampu ini luar biasa,” jelasnya.
Hasilnya pun mulai terlihat.
Budiarta mengungkapkan, dari peserta yang telah menyelesaikan pendidikan sebelumnya, 10 orang sudah bekerja seluruhnya. Kemudian sebanyak 27 peserta yang telah dididik juga sudah lulus, mengikuti wisuda dan telah bekerja.
Sebagian besar lulusan tersebut terserap di industri perhotelan di Bali.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa program beasiswa Pemkab Gianyar mampu membuka jalan bagi masyarakat kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan keterampilan sekaligus memasuki dunia kerja.
Sementara itu, sekitar 82 peserta saat ini masih menjalani pendidikan di Monarch Bali. Mereka ditargetkan menyelesaikan pelatihan pada Desember mendatang, sebelum memasuki tahapan internship atau pemagangan.
Sejumlah peserta juga memiliki minat dan peluang untuk mendapatkan pengalaman kerja ke luar negeri melalui mitra penempatan yang bekerja sama dengan lembaga terkait.
Seleksi Peserta Dilakukan Pemerintah
Budiarta menjelaskan, Monarch Bali tidak menentukan sendiri siapa yang menjadi penerima program beasiswa. Seluruh kriteria dan proses penetapan peserta dilakukan oleh pemerintah melalui dinas terkait dengan melibatkan Dinas Sosial.
Karena itu, lembaga pelatihan menerima peserta yang telah ditetapkan berdasarkan kriteria pemerintah.
Program tersebut juga memberikan kesempatan kepada masyarakat dari tujuh kecamatan di Kabupaten Gianyar untuk memilih lembaga pelatihan yang sesuai dengan minat dan keinginan mereka.
Terdapat sekitar 12 lembaga pelatihan kerja yang telah terakreditasi dan mengajukan diri untuk menerima peserta program beasiswa tersebut.
Menurut Budiarta, pola tersebut sangat baik karena masyarakat diberikan ruang untuk memilih lembaga pendidikan dan bidang keterampilan yang sesuai dengan keinginan mereka.
“Jadi mereka memilih di mana sekolahnya, sesuai dengan yang mereka mau pilih. Itu adalah bagian dari keinginan masyarakat itu sendiri,” katanya.
Anak Kurang Mampu Diberikan Kesempatan yang Sama
Budiarta juga memberikan apresiasi terhadap cara Monarch Bali memperlakukan peserta penerima beasiswa.
Tidak ada perbedaan antara siswa penerima beasiswa dengan mahasiswa yang mengikuti pendidikan secara mandiri. Mereka mendapatkan fasilitas, proses pembelajaran, teori dan praktik yang sama.
“Tidak ada pembedaan. Mereka sama dengan yang lain. Tidak ada kelas khusus. Mereka mendapatkan fasilitas dan pendidikan yang sama,” tegasnya.
Menurut dia, kondisi tersebut justru membuat peserta beasiswa semakin termotivasi.
Fasilitas pembelajaran yang tersedia di Monarch Bali juga dirancang sedekat mungkin dengan kondisi industri sehingga peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik yang relevan dengan dunia kerja.
Motivasi peserta pun dinilai sangat tinggi. Kehadiran mereka dalam proses pembelajaran sangat baik, baik saat mengikuti teori maupun praktik.
Program Strategis Tekan Pengangguran
Budiarta menilai program beasiswa tersebut memiliki dua manfaat besar, yakni meningkatkan kompetensi SDM sekaligus membantu mengurangi pengangguran.
“Ini adalah program dari Bupati sendiri untuk pengurangan pengangguran dan efektivitas kompetensi sumber daya manusia,” ujarnya.
Ia berharap program tersebut dapat terus dilanjutkan oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar karena manfaatnya telah dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Harapan kita sebagai lembaga pelatihan, mudah-mudahan tetap berjalan ke depannya. Karena jujur kami katakan, ini program yang luar biasa dan sangat berpihak kepada masyarakat,” ungkap Budiarta.
Bahkan, menurutnya, kebijakan yang dilakukan Pemkab Gianyar tersebut layak menjadi contoh bagi daerah lain.
“Kami juga sering mendengar kabupaten lain mencontoh Gianyar untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini,” imbuhnya.
Monarch Bali Siap Bersinergi dengan Pemkab Gianyar
Monarch Bali sendiri telah berusia sekitar 17 tahun dan terus mengambil bagian dalam pengembangan pendidikan serta pelatihan di bidang pariwisata.
Monarch Bali memiliki sejumlah cabang di Bali, termasuk Gianyar, Candidasa, Singaraja dan Negara.
Program pendidikan yang ditawarkan mulai dari Diploma I hingga Diploma II atau sertifikasi level 4, dengan bidang kompetensi seperti culinary, tata hidangan, bar, front office dan housekeeping.
Untuk program Diploma II, pendidikan diarahkan untuk membentuk tenaga profesional yang memiliki kemampuan lebih tinggi, termasuk menuju jenjang supervisor maupun manajemen.
“Kami sangat menekankan Training Need Analysis (TNA), sehingga pendidikan yang diberikan benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan industri,” jelas Budiarta.
Ia berharap Monarch Bali dapat terus berkontribusi terhadap pembangunan Gianyar, khususnya dalam peningkatan kualitas SDM.
Menurutnya, Gianyar merupakan salah satu destinasi penting di Bali dengan perkembangan pariwisata yang sangat pesat. Kondisi tersebut membutuhkan SDM lokal yang memiliki kompetensi, profesionalisme dan kesiapan menghadapi kebutuhan industri.
“Kami ingin ikut ambil bagian dalam pendidikan dan pelatihan, khususnya peningkatan sumber daya manusia. Harapan kami, 100 persen lulusan kami tidak ada yang menganggur,” tegasnya.
Monarch Bali juga menyatakan komitmennya untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah dan mengikuti seluruh ketentuan yang telah ditetapkan, termasuk aspek legalitas, akreditasi lembaga pelatihan serta regulasi lainnya.
Bagi Monarch Bali, sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan menjadi kekuatan penting dalam menciptakan SDM yang berkualitas.
Dan melalui program beasiswa Pemkab Gianyar, anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk bersekolah, tetapi juga mendapatkan jalan menuju keterampilan, pekerjaan dan masa depan yang lebih baik.
Apresiasi Monarch Bali tersebut menjadi gambaran bahwa kebijakan pemerintah yang tepat sasaran dapat memberikan dampak nyata. Ketika beasiswa diberikan kepada mereka yang membutuhkan dan dipertemukan dengan pendidikan yang sesuai kebutuhan industri, maka bantuan itu berubah menjadi investasi masa depan—bagi anak-anak, keluarga, sekaligus bagi Gianyar. (Tim)