Semarakkan Utsawa Jnananing Sad Dharma III Buleleng pada Final Dharma Wacana dan Geguritan di Buleleng 

Buleleng, BerandaBali. Id –  Semangat generasi muda Hindu di Kabupaten Buleleng kembali bergelora dalam rangkaian Utsawa Jnananing Sad Dharma III Tahun 2026. Memasuki hari kedua, Kamis (8/10/2026), kegiatan berlangsung semarak dengan babak final Lomba Dharma Wacana dan Lomba Geguritan, sekaligus Dharma Tula yang mengangkat isu penting mengenai pencegahan stunting.

Babak final ini mempertemukan para peserta terbaik yang sebelumnya telah melewati tahapan penyisihan secara virtual. Sebanyak 20 peserta tingkat SMA/SMK se-Kabupaten Buleleng tampil dalam final Dharma Wacana dengan membawa materi keagamaan Hindu yang dikemas relevan dengan kehidupan generasi muda.

Di hadapan dewan juri, para peserta tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi dengan baik, tetapi juga menunjukkan keberanian, penguasaan materi, ekspresi, serta kemampuan menyampaikan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Seksi Urusan Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng mengapresiasi antusiasme para peserta. Menurutnya, Utsawa Jnananing Sad Dharma bukan sekadar kompetisi, tetapi menjadi ruang strategis untuk mendekatkan generasi muda dengan nilai-nilai agama, seni, dan budaya Bali.

“Dengan adanya Utsawa Jnananing Sad Dharma yang ketiga ini, sangat diapresiasi oleh para yowana, utamanya anak-anak sekolah dasar dan menengah. Tujuan kita memang menyasar generasi muda untuk penguatan karakter dan pendalaman Agama Hindu,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menggali potensi generasi muda Hindu di Buleleng. Para Penyuluh Agama Hindu juga dinilai telah menghadirkan inovasi melalui kegiatan yang dikemas dalam bentuk perlombaan, edukasi, dan pembinaan.

“Dari lomba ini tentu kita akan menghasilkan generasi yang hebat di bidang agama. Tahun yang akan datang kita gali kembali dan kita ciptakan yang lebih baik lagi,” katanya.

Geguritan, Merawat Sastra Bali di Kalangan Yowana

Tidak kalah menarik, Lomba Geguritan juga memasuki babak final dengan melibatkan 20 peserta tingkat SMP se-Kabupaten Buleleng.

Para peserta menunjukkan kemampuan dalam membawakan karya sastra Bali melalui penghayatan, ekspresi, pelafalan, serta penjiwaan yang kuat. Kehadiran lomba ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan sastra Bali agar tetap hidup dan dekat dengan generasi muda.

READ  Bahaya Mengintai di Balik Medsos, Polda Bali Minta Orang Tua Lebih Waspada

Geguritan tidak hanya menjadi karya seni yang dipertunjukkan dalam sebuah perlombaan. Lebih dari itu, sastra Bali menjadi salah satu media untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan, tuntunan moral, dan ajaran Dharma kepada generasi muda dengan bahasa serta budaya yang dekat dengan kehidupan mereka.

Dharma Tula Angkat Isu Stunting

Selain perlombaan, hari kedua Utsawa Jnananing Sad Dharma III juga diisi dengan Dharma Tula yang mengangkat tema stunting.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari BKKBN yang memberikan edukasi mengenai pentingnya pencegahan stunting dan upaya membangun generasi yang sehat serta berkualitas.

Peserta diajak memahami bahwa pencegahan stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.

Melalui Dharma Tula, peserta mendapatkan wawasan mengenai pentingnya peran keluarga, pola hidup sehat, pemenuhan kebutuhan gizi, tumbuh kembang anak, serta kepedulian bersama dalam mencegah stunting.

Dengan demikian, Utsawa Jnananing Sad Dharma tidak hanya berbicara tentang pengetahuan agama, tetapi juga menghadirkan persoalan kehidupan nyata yang bersentuhan langsung dengan masa depan generasi muda.

Kemenag Buleleng: Bangun Fondasi Generasi Muda

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng menegaskan bahwa Utsawa Jnananing Sad Dharma memiliki makna yang jauh lebih luas dibandingkan sebuah perlombaan.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun fondasi keagamaan dan karakter generasi muda agar mampu menghadapi tantangan kehidupan serta perkembangan dunia global.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita menyiapkan fondasi yang baik kepada generasi-generasi muda kita,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam ajaran Hindu terdapat konsep Sad Dharma sebagai cara atau tahapan dalam mempelajari Dharma. Karena itu, Utsawa Jnananing Sad Dharma diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai Dharma.

READ  Monarch Bali Apresiasi Pemkab Gianyar, Program Beasiswa Buka Jalan Anak Kurang Mampu Menuju Dunia Kerja

Fondasi tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh peserta lomba, tetapi menjadi bagian penting dalam membentuk generasi muda Hindu yang memiliki karakter, pemahaman agama, serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan.

Yowana Amertaning Bhumi, Generasi Muda dan Masa Depan Bumi

Utsawa Jnananing Sad Dharma III Tahun 2026 juga membawa pesan kuat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan.

Hal tersebut sejalan dengan pendekatan ekoteologi yang menjadi salah satu perhatian dalam program Kementerian Agama. Dalam perspektif ini, kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Kesadaran tersebut dinilai penting ditanamkan sejak dini kepada generasi muda.

Pesan itu semakin kuat melalui tema Utsawa tahun ini, “Yowana Amertaning Bhumi”, yang menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam menjaga kelestarian bumi.

Kepala Kantor Kemenag Buleleng menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan seharusnya tidak berhenti sebagai sebuah slogan, tetapi tumbuh menjadi kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.

Hal sederhana dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti menjaga kebersihan dan kerapian rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini, mulai dari pemanasan global, kekeringan, hingga perubahan kondisi iklim.

Karena itu, generasi muda tidak hanya diharapkan memiliki kecerdasan dan prestasi, tetapi juga mempunyai kesadaran ekologis serta tanggung jawab menjaga bumi.

Utsawa Diharapkan Berkelanjutan

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng berharap Utsawa Jnananing Sad Dharma dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan pada tahun-tahun mendatang.

Menurutnya, keberlanjutan kegiatan menjadi penting agar pembinaan generasi muda Hindu tidak berhenti hanya pada satu momentum perlombaan.

Sinergi dengan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Buleleng, DPRD Kabupaten Buleleng, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya diharapkan terus diperkuat sehingga kegiatan dapat berkembang semakin baik.

READ  Sasar Pelajar SMA-SMK Polda Bali Dorong Bijak Manfaatkan AI

“Harapan saya, Utsawa Jnananing Sad Dharma ini terus berjalan. Ini satu hal yang sangat baik untuk memberi fondasi kepada anak-anak kita ke depannya,” ungkapnya.

Inilah Para Juara

Setelah melalui rangkaian penilaian, berikut hasil Lomba Dharma Wacana dan Geguritan dalam Utsawa Jnananing Sad Dharma III Tahun 2026:

Lomba Dharma Wacana

Juara I: I Gede Widi Artha — SMK Negeri Bali Mandara
Juara II: Komang Merry Suciariani — SMA Negeri 2 Singaraja
Juara III: Dewa Ayu Bintang Pradnyani — SMA Negeri Bali Mandara
Juara Favorit: I Gede Widi Artha — SMK Negeri Bali Mandara

Lomba Geguritan

Juara I: Gede Kori Adyatama dan Komang Tubuh Adnyana — SMP Negeri 1 Kubutambahan
Juara II: Ketut Damyanta Lesmana dan Kadek Soni Pasek Sutariawan — SMP Negeri 3 Sawan
Juara III: Komang Krisna Dwipayana dan Kadek Reza Dwitama Riana — SMP Negeri 8 Singaraja
Juara Favorit: Qianna Lintang Prameswari dan Ngurah Kadek Ganda Paramarta Wiguna — SMP Lab Undiksha Singaraja

Rangkaian Utsawa Jnananing Sad Dharma III Tahun 2026 yang berlangsung pada 7–9 Oktober 2026 pada akhirnya tidak sekadar menghadirkan kompetisi.

Di balik panggung Dharma Wacana dan lantunan Geguritan, tersimpan sebuah misi yang lebih besar: membangun generasi muda Hindu yang berani tampil, mencintai agama dan budaya, memiliki karakter kuat, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Dengan semangat Yowana Amertaning Bhumi, generasi muda Buleleng diharapkan tidak hanya tumbuh sebagai generasi yang berprestasi, tetapi juga menjadi generasi yang berbudaya, berkarakter, peduli terhadap sesama, dan mampu menjaga bumi sebagai bagian dari tanggung jawab kehidupan.

Utsawa pun menjadi sebuah ruang bertemunya Dharma, budaya, pendidikan, kesehatan, dan kepedulian terhadap lingkungan—sebuah investasi nilai untuk menyiapkan generasi Hindu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki pijakan moral dan spiritual dalam menatap masa depan. (Tim)

Populer

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10

Terbaru

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10