Gianyar, BerandaBali.com – Penguatan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu perhatian utama I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag., Calon Perbekel Desa Sayan nomor urut 1. Dalam gagasan pembangunan yang ditawarkannya, UMKM tidak sekadar ditempatkan sebagai kegiatan ekonomi warga, tetapi sebagai kekuatan ekonomi kerakyatan yang harus memiliki akses pasar, permodalan, pendampingan dan jejaring usaha.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari konsep “Dedikasi Murni Mewujudkan Tri Hita Siddhi Sayan Bersinar”, dengan menempatkan kemandirian ekonomi masyarakat sebagai salah satu fondasi menuju Desa Sayan yang sejahtera, harmonis dan mandiri.
Konsep tersebut menempatkan kesejahteraan Desa Sayan dalam kerangka keseimbangan hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama manusia, dan alam lingkungan.
Dalam visi yang ditawarkan, Ketut Gede Kesumawijaya menargetkan terwujudnya Desa Sayan yang sejahtera, harmonis, dan mandiri, berlandaskan tata kelola yang berintegritas dan bersinergi serta berorientasi budaya.
Gagasan itu kemudian diterjemahkan ke dalam lima misi utama yang menjadi fondasi program pembangunan selama enam tahun ke depan.
Pertama, kesejahteraan dan pengembangan sumber daya manusia. Fokusnya mencakup peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial, pemberdayaan perempuan, anak dan pemuda.
Di bidang kesehatan, program yang ditawarkan antara lain optimalisasi Posyandu di setiap banjar, penguatan Posbindu dan layanan lansia, pencegahan stunting, penanganan gizi buruk dan anemia ibu hamil, fasilitasi jaminan sosial bagi pekerja rentan serta dukungan layanan kesehatan jiwa dan psikososial berbasis kader.
Sementara di sektor pendidikan, terdapat dukungan operasional bagi PAUD/TK serta beasiswa atau insentif pendidikan bagi warga kurang mampu.
Program kesejahteraan juga diarahkan pada penyediaan bursa kerja dan pelatihan vokasi, akses permodalan bagi usaha mikro, program rumah layak huni, akses air bersih dan sanitasi, bantuan bagi lansia terlantar dan penyandang disabilitas hingga fasilitasi administrasi kependudukan bagi warga rentan.
Perhatian juga diberikan kepada perempuan dan generasi muda melalui penguatan PKK, pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, edukasi kesehatan reproduksi remaja, pembinaan Karang Taruna, pengembangan olahraga serta penguatan literasi dan perpustakaan desa.
Misi kedua adalah menciptakan keamanan, ketertiban dan kerukunan sosial. Desa Sayan diarahkan memiliki sistem keamanan terpadu melalui sinergi Pecalang, Linmas, Babinsa dan Bhabinkamtibmas serta penguatan Siskamling di seluruh banjar.
Ketahanan desa terhadap bencana juga menjadi perhatian melalui mitigasi longsor dan banjir, pelatihan tanggap darurat, penataan CCTV di titik strategis serta sistem pelaporan cepat bagi masyarakat.
Dalam kawasan wisata, program diarahkan pada penataan parkir, PKL, bangunan liar, alih fungsi lahan tanpa izin serta penanganan kemacetan. Pengawasan terhadap peredaran miras dan narkoba juga menjadi bagian dari agenda keamanan desa.
Untuk menjaga keharmonisan masyarakat, konsep “Asah-Asih-Asuh” menjadi salah satu nilai penting. Dialog lintas warga, mediasi konflik berbasis musyawarah adat, gotong royong lintas komunitas serta edukasi anti-hoaks dan literasi digital menjadi bagian dari upaya menjaga persatuan.
Misi ketiga diarahkan pada kemandirian dan ekonomi kerakyatan, dengan UMKM menjadi salah satu ujung tombaknya. Ketut Gede Kesumawijaya menilai pengembangan usaha warga harus dilakukan dengan pola yang lebih konkret, yakni mempertemukan produk masyarakat dengan lembaga usaha dan pasar yang tersedia di sekitar Desa Sayan.
“Ekonomi kerakyatan itu harus kita bangun bersama. Kita bersinergi dengan lembaga-lembaga usaha yang ada di Sayan,” demikian gagasan yang disampaikan Ketut Gede Kesumawijaya.
Menurutnya, potensi UMKM Sayan cukup beragam. Selain usaha kuliner dan kerajinan, masyarakat juga memiliki potensi ekonomi kreatif berbasis pertanian dan peternakan, termasuk pengembangan ayam kampung yang dipelihara secara organik.
Potensi tersebut akan diarahkan agar tidak berhenti pada produksi, tetapi memiliki rantai pemasaran yang jelas. Pemerintah desa nantinya diharapkan berperan sebagai penghubung antara pelaku UMKM dengan hotel, restoran, lembaga pendidikan dan pelaku usaha lainnya.
Ketut Gede Kesumawijaya menawarkan penguatan Pendapatan Asli Desa melalui diversifikasi sumber pendapatan, optimalisasi aset desa, kerja sama sektor pariwisata serta kemitraan investasi dan CSR yang transparan. Pola tersebut sekaligus diarahkan untuk membuka ruang yang lebih besar bagi produk UMKM lokal masuk ke rantai pasok usaha pariwisata.
BUMDes didorong menjadi motor penggerak ekonomi desa. UMKM akan diperkuat melalui digitalisasi pemasaran, sentra pemasaran bersama, pendampingan NIB, PIRT dan sertifikasi halal. Koperasi dan LPD juga diarahkan semakin optimal menjadi sumber akses permodalan masyarakat.
Namun, program tersebut tidak berhenti pada pelatihan. Salah satu strategi yang ditawarkan adalah membangun kemitraan langsung dengan pelaku usaha di kawasan Sayan dan sekitarnya, sehingga produk warga dapat terserap oleh pasar yang sudah ada.
Salah satu contoh yang disiapkan adalah pemanfaatan bahan lokal untuk kebutuhan usaha pariwisata. Limbah atau bagian tanaman yang selama ini kurang dimanfaatkan, seperti pelepah pisang, dapat dikembangkan menjadi produk ramah lingkungan, termasuk sedotan untuk minuman kelapa muda. Begitu pula hasil olahan janur dan daun kelapa dapat dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai ekonomi.
Produk-produk tersebut selanjutnya dapat dipasarkan melalui jejaring hotel dan restoran yang berada di Desa Sayan. Ketut Gede Kesumawijaya menyebut lembaga usaha seperti Bambu Indah sebagai salah satu pihak yang dapat diajak bersinergi dalam pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.
Kerja sama dengan pihak swasta juga diarahkan tidak hanya dalam bentuk pembelian produk, tetapi dapat diperluas melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Dukungan tersebut diharapkan mampu membantu pengembangan pelatihan, fasilitas produksi maupun ruang pemasaran bagi pelaku UMKM.
Menurut gagasan yang disampaikannya, manajemen Bambu Hina juga telah membuka ruang kerja sama dengan Desa Sayan. Selain pengembangan ekonomi kreatif, terdapat pula pengalaman kerja sama di bidang pendidikan yang dapat menjadi dasar untuk memperluas kemitraan ke sektor pemberdayaan masyarakat.
Tidak hanya Bambu Indah , jejaring usaha lain seperti Ubud Raya, Sayan Point dan berbagai hotel yang berada di kawasan Sayan juga akan dirangkul. Pemerintah desa ke depan diharapkan mampu menjadi jembatan antara dunia usaha dengan masyarakat, sehingga keberadaan investasi dan aktivitas pariwisata memberikan manfaat yang lebih nyata bagi ekonomi warga.
Konsep kemitraan tersebut juga menyasar pemanfaatan dana CSR untuk membangun fasilitas yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Dukungan dunia usaha dapat diarahkan untuk menghadirkan sarana modern di tempat-tempat strategis desa, termasuk kawasan pelayanan umum, balai banjar dan lokasi yang membutuhkan peningkatan fasilitas.
Dengan pola ini, CSR tidak hanya dipandang sebagai bantuan sesaat, tetapi menjadi instrumen untuk memperkuat ekosistem ekonomi desa. Fasilitas yang dibangun dapat mendukung aktivitas UMKM, kegiatan masyarakat, pendidikan, pelayanan publik maupun pengembangan ekonomi kreatif.
Ketut Gede Kesumawijaya yang pernah dipercaya sebagai Penjabat Kepala Desa Sayan selama tiga tahun, sejak 2023 hingga 2026, menilai pengalaman tersebut menjadi modal untuk memahami kebutuhan dan potensi desa secara lebih dekat.
Ia ingin pengembangan UMKM ke depan dilakukan secara terintegrasi: mulai dari pemetaan potensi produk, peningkatan kualitas, pengemasan, legalitas, akses permodalan, promosi hingga kepastian pasar.
“UMKM adalah ekonomi kerakyatan. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya diberikan pelatihan, tetapi harus dibantu menemukan pasar dan dibangun jejaring dengan usaha-usaha yang berkembang di sekitar Sayan,” menjadi semangat utama gagasan penguatan UMKM tersebut.
Sektor pertanian tidak ditinggalkan. Revitalisasi irigasi subak, penguatan ketahanan pangan, perbaikan jalan desa dan jalan usaha tani serta revitalisasi pasar desa menjadi bagian dari agenda ekonomi kerakyatan.
Sementara di bidang pariwisata, penguatan Pokdarwis di setiap banjar, pengembangan usaha wisata berbasis BUMDes, pelatihan pemandu wisata, promosi destinasi secara digital, pengembangan homestay berbasis warga dan ekowisata subak menjadi sejumlah program yang ditawarkan.
Pemerintahan desa diarahkan bekerja secara transparan, akuntabel dan responsif. Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah transparansi APBDes berbasis digital sehingga masyarakat dapat mengakses informasi pengelolaan keuangan desa.
Digitalisasi juga diarahkan pada pelayanan administrasi, pengelolaan arsip, kanal pengaduan masyarakat serta keterbukaan informasi publik.
Kompetensi aparatur desa akan ditingkatkan melalui pelatihan rutin, evaluasi kinerja secara berkala dan terukur, serta penerapan kode etik aparatur. Pencegahan penyalahgunaan anggaran dan nepotisme juga menjadi bagian dari agenda penguatan integritas pemerintahan.
Di sisi kelembagaan, Pemerintah Desa akan didorong membangun komunikasi dan koordinasi rutin dengan BPD, LKD, PKK, Karang Taruna, Desa Adat dan seluruh unsur masyarakat.
Sayan yang berada dalam kawasan Ubud memiliki kekayaan alam dan budaya yang menjadi modal penting pembangunan. Karena itu, kelestarian subak, Sungai Ayung, kawasan hijau dan lingkungan menjadi bagian integral dari pembangunan.
Program yang ditawarkan meliputi optimalisasi TPS 3R dan Bank Sampah, penghijauan kawasan rawan longsor, pengendalian alih fungsi lahan sawah, edukasi lingkungan serta pengawasan pembangunan agar tetap sesuai tata ruang dan tidak merusak lanskap alam.
Pada sektor adat dan budaya, dukungan diarahkan pada pemeliharaan pura, pelaksanaan upacara adat, penguatan Pasraman dan Sekaa Teruna-Teruni, pembinaan kesenian tradisional, dokumentasi sejarah dan cerita rakyat Desa Sayan hingga pelestarian awig-awig.
Dukungan sosial-keagamaan juga dirancang diberikan kepada tempat ibadah di Desa Sayan sesuai ketentuan dan skala kebutuhan, dengan tetap memperhatikan hak seluruh warga lintas agama yang berdomisili secara resmi di wilayah tersebut.
Lima pilar pembangunan tersebut kemudian dirangkum dalam akronim SAYAN, sebagai nilai yang mudah diingat masyarakat.
S berarti Sejahtera dan Sumber Daya Optimal untuk desanya, A berarti Aman serta Asah-Asih-Asuh untuk kramanya, Y berarti Yasa Kerthi dan Yadnya sebagai dasar pengabdian, A berarti Ajeg dan Asri sebagai komitmen menjaga alam serta warisan seni budaya, Sedangkan N berarti Nata Desa dan Niti Dharma sebagai sistem dalam menjalankan pemerintahan dan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan konsep tersebut, “Sayan Bersinar” tidak hanya diposisikan sebagai slogan, tetapi sebagai kerangka besar pembangunan yang menghubungkan kesejahteraan masyarakat, keamanan, ekonomi, pemerintahan, alam dan budaya.
I Ketut Gede Kesumawijaya resmi menjadi salah satu Calon Perbekel Desa Sayan setelah mendaftarkan diri pada 17 Juli 2026 dan ditetapkan sebagai calon pada 17 Agustus 2026.
Penetapan calon dan pengundian nomor urut dilaksanakan Panitia Pemilihan Kepala Desa Sayan pada Senin, 17 Agustus 2026, melalui proses verifikasi administrasi, penelitian kelengkapan persyaratan, musyawarah dan pengundian secara terbuka.
Hasil pengundian menetapkan I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag. sebagai calon nomor urut 1, disusul Drh. I Wayan Arimbawa, M.Si. nomor urut 2 dan I Made Suwitra nomor urut 3.
Dalam perjalanan menuju pemilihan, Ketut Gede Kesumawijaya juga mendapat dukungan keluarga. Ia bersama istrinya, Ni Nyoman Srimnis Sadmerti, S.E., serta tiga orang anaknya, membawa gagasan tersebut sebagai bagian dari pengabdian untuk Desa Sayan.
Bagi Ketut Gede Kesumawijaya, pembangunan desa pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak infrastruktur yang dibangun, tetapi tentang bagaimana potensi ekonomi masyarakat dapat tumbuh dan memberikan penghasilan yang berkelanjutan. UMKM, menurut gagasannya, harus menjadi bagian penting dari manfaat pembangunan dan perkembangan pariwisata Sayan.
Melalui “Dedikasi Murni Mewujudkan Tri Hita Siddhi Sayan Bersinar”, ia menawarkan arah pembangunan yang menempatkan manusia, alam, spiritualitas, budaya dan tata kelola pemerintahan dalam satu kesatuan.Sayan Bersinar, dengan semangat sejahtera desanya, aman kramanya, lestari alam dan budayanya, serta berintegritas tata kelolanya. (TBB)