Karangasem, BerandaBali, id— Kepercayaan masyarakat menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Di tengah persaingan lembaga keuangan yang semakin ketat dan tawaran bunga simpanan yang beragam, masyarakat diingatkan agar tidak semata-mata tergiur iming-iming bunga tinggi, tetapi lebih mengutamakan keamanan dana.
Direktur Utama BPR Mitra Bali Artha Mandiri Karangasem, I Putu Darmawan, SH, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu ragu menyimpan dana di BPR, sepanjang memilih lembaga yang resmi dan menjadi peserta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) serta memperhatikan ketentuan tingkat bunga penjaminan yang berlaku.
Hal tersebut disampaikan I Putu Darmawan saat ditemui Newsyess pada Kamis, 3 September 2026.
Menurutnya, BPR Mitra Bali Artha Mandiri terus memberikan edukasi kepada masyarakat agar memahami bahwa menabung bukan hanya persoalan mendapatkan bunga, tetapi juga memastikan dana yang disimpan memiliki perlindungan dan dikelola oleh lembaga keuangan yang sehat.
“Masyarakat tidak perlu khawatir menabung di BPR. Yang penting BPR-nya resmi, sehat dan menjadi peserta LPS. Masyarakat juga harus memperhatikan tingkat bunga penjaminan LPS yang berlaku,” tegasnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan ketentuan yang berlaku saat ini, tingkat bunga penjaminan LPS untuk simpanan di BPR berada pada angka 6,25 persen, namun angka tersebut bukan merupakan angka yang bersifat permanen.
LPS melakukan evaluasi secara berkala sehingga tingkat bunga penjaminan dapat berubah sesuai dengan kondisi dan perkembangan pasar.
“Bunga penjaminan LPS itu bisa naik atau turun. Biasanya dievaluasi secara berkala. Karena itu masyarakat harus selalu mengikuti informasi terbaru mengenai tingkat bunga penjaminan LPS,” jelasnya.
I Putu Darmawan mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan tawaran bunga simpanan yang berada jauh di atas tingkat bunga penjaminan LPS.
Sebab, apabila bunga yang diberikan melebihi batas tingkat bunga penjaminan, maka simpanan tersebut berpotensi tidak mendapatkan jaminan LPS apabila terjadi permasalahan pada bank.
“Kalau bunganya di atas tingkat bunga penjaminan LPS, simpanan tersebut tidak dijamin LPS. Jadi masyarakat harus hati-hati. Jangan hanya melihat bunga tinggi, tetapi lihat juga keamanan dan legalitas lembaga keuangannya,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat pada dasarnya dapat menempatkan dana dalam jumlah lebih besar di BPR. Namun, yang harus dipahami adalah ketentuan penjaminan LPS memiliki batas tertentu, termasuk terkait nominal simpanan dan tingkat bunga yang memenuhi persyaratan penjaminan.
Karena itu, edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi sangat penting.
BPR Mitra Bali Artha Mandiri, kata Darmawan, tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga aktif melakukan literasi dan edukasi keuangan kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk menyasar sekolah serta masyarakat umum.
“Literasi dan edukasi itu penting supaya masyarakat tahu bagaimana keamanan menyimpan dana, bagaimana ketentuan LPS, dan bagaimana memilih lembaga keuangan yang aman,” katanya.
Ia menyebut, edukasi dilakukan lebih dari dua kali dalam setahun. Untuk kalangan pelajar, kegiatan literasi dapat dilakukan melalui program edukasi perbankan ke sekolah. Sementara masyarakat umum menjadi sasaran kegiatan literasi yang dilakukan di lingkungan masyarakat, termasuk pasar.
“Minimal dua kali setahun, tetapi kami melakukannya lebih dari itu. Sasarannya sekolah dan masyarakat umum. Kami ingin masyarakat semakin paham tentang perbankan dan tidak mudah tergiur tawaran yang tidak jelas,” ungkapnya.
Dari sisi produk simpanan, masyarakat Karangasem memiliki sejumlah pilihan tabungan di BPR Mitra Bali Artha Mandiri.
Di antaranya tabungan biasa atau harian yang dapat digunakan untuk kebutuhan transaksi dan dapat ditarik sesuai ketentuan. Selain itu terdapat pula produk tabungan berjangka yang memiliki periode tertentu.
Menurut Darmawan, tabungan harian dan tabungan berjangka menjadi produk yang cukup diminati masyarakat.
Tabungan berjangka bahkan memiliki daya tarik tersendiri karena memberikan kesempatan kepada nasabah untuk memperoleh hadiah sesuai program yang ditawarkan.
“Tabungan berjangka itu ada hadiahnya. Nasabah menabung secara rutin sesuai ketentuan, kemudian pada waktunya bisa ditarik. Kalau tidak mendapatkan hadiah, uangnya tetap kembali dan nasabah tetap memperoleh bunga sesuai ketentuan,” jelasnya.
Skema tersebut menjadi salah satu pilihan masyarakat yang ingin membangun kebiasaan menabung secara disiplin sekaligus memperoleh manfaat dari program simpanan.
Dari sisi kinerja, I Putu Darmawan memastikan kondisi BPR Mitra Bali Artha Mandiri hingga Agustus 2026 masih berada dalam kondisi sehat.
Pertumbuhan kredit mulai menunjukkan pergerakan positif dibandingkan bulan sebelumnya. Meski belum terlalu signifikan, tren tersebut dinilai menjadi sinyal positif di tengah kondisi persaingan industri keuangan yang semakin ketat.
“Sampai Agustus kondisi masih sehat. Kredit tumbuh sedikit dibandingkan bulan sebelumnya. Dari Juli ke Agustus sudah ada kenaikan, walaupun belum signifikan,” ujarnya.
Pertumbuhan tersebut, lanjutnya, tidak terlepas dari upaya perusahaan kembali memperkuat aktivitas pemasaran dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.
Pihaknya kini lebih aktif menyasar pasar serta berbagai wilayah potensial untuk meningkatkan penyaluran kredit sekaligus menghimpun dana masyarakat.
“Kami sekarang lebih menggiatkan marketing, masuk ke pasar dan daerah-daerah. Tabungan juga tumbuh. Aset masih stabil, walaupun kenaikannya belum besar,” katanya.
I Putu Darmawan mengakui persaingan industri keuangan saat ini tidak mudah. BPR harus berhadapan dengan berbagai lembaga keuangan, mulai dari bank umum, koperasi, LPD hingga lembaga keuangan non-bank.
Selain menawarkan bunga dan produk yang kompetitif, sejumlah lembaga juga memberikan proses pelayanan yang relatif cepat dan mudah.
“Persaingannya lumayan ketat. Kita bersaing dengan koperasi, LPD, bank umum maupun lembaga keuangan non-bank yang memberikan kemudahan dan kecepatan pelayanan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Dalam kondisi tersebut, BPR dituntut mampu tumbuh sekaligus tetap menjalankan prinsip kehati-hatian dan memenuhi berbagai regulasi yang ditetapkan regulator.
Karena itu, I Putu Darmawan berharap regulator, khususnya OJK, dapat terus menghadirkan kebijakan yang mendukung pertumbuhan BPR tanpa mengurangi prinsip kehati-hatian dan perlindungan terhadap masyarakat.
Menurutnya, BPR membutuhkan regulasi yang mampu memberikan ruang gerak lebih luas agar dapat berkembang dan bersaing secara sehat.
“Harapan kami kepada OJK, agar ada regulasi-regulasi yang mendukung pertumbuhan BPR. Regulasi jangan terlalu ribet dan jangan terlalu membatasi ruang gerak BPR, tetapi tetap menjamin BPR bisa tumbuh dan berkembang secara sehat,” tegasnya.
Ia menilai, tuntutan agar BPR terus tumbuh harus diimbangi dengan regulasi yang proporsional. Sebab, di lapangan BPR berhadapan langsung dengan lembaga keuangan lain yang memiliki kecepatan dan fleksibilitas dalam memberikan layanan.
“Kita diminta tumbuh, tetapi kalau regulasinya terlalu ketat, ruang geraknya menjadi sulit. Karena itu kami berharap regulasi betul-betul memberikan kemudahan bagi BPR untuk tumbuh, tanpa mengabaikan keamanan dan prinsip kehati-hatian,” pungkasnya.
Bagi BPR Mitra Bali Artha Mandiri Karangasem, pertumbuhan bisnis bukan satu-satunya tujuan. Kepercayaan masyarakat tetap menjadi modal utama. Sebab, di balik setiap rupiah yang ditabung masyarakat, terdapat harapan, kerja keras dan masa depan yang ingin dijaga.
Karena itu, edukasi menjadi jembatan penting agar masyarakat tidak sekadar pandai menabung, tetapi juga cerdas memilih tempat menyimpan uang. (TBB)