Siapkan Sekolah Lansia, Kesumawijaya  calon kades Sayan Wujudkan Masa Tua yang Sehat, Bahagia dan Tetap Berdaya

Gianyar BerandaBali. Id– Menjadi tua bukan berarti berhenti berkarya. Usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk hidup sehat, bersosialisasi, belajar dan memberikan manfaat bagi keluarga maupun masyarakat tidak boleh padam.

Semangat itulah yang menjadi salah satu perhatian I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag., Calon Perbekel Desa Sayan nomor urut 1, dalam Pemilihan Perbekel Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.

Kesumawijaya memandang para lanjut usia (lansia) bukan sebagai kelompok yang harus sekadar diperhatikan, melainkan sebagai bagian penting dari masyarakat yang memiliki pengalaman, pengetahuan, nilai-nilai kehidupan dan kearifan yang sangat berharga untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di Desa Sayan, menurut Kesumawijaya, perhatian terhadap lansia menjadi penting karena jumlahnya cukup besar. Desa Sayan memiliki delapan banjar, dengan jumlah lansia yang tersebar di masing-masing banjar. Data yang disampaikannya menunjukkan terdapat sekitar 80 lansia dalam lingkup desa, sementara jika dihitung berdasarkan kegiatan di masing-masing banjar, jumlah warga lanjut usia yang perlu mendapat perhatian mencapai sekitar 100 orang per wilayah kegiatan, atau sekitar 200 orang yang aktif dalam kelompok-kelompok lansia.

Kategori lansia dalam program tersebut juga tidak semata-mata dibatasi pada usia 60 tahun ke atas. Warga yang telah memasuki usia sekitar 55 tahun pun mulai diarahkan untuk mengikuti kegiatan lansia, terutama kegiatan olahraga yang disesuaikan dengan kemampuan fisik.

“Usia 55 tahun saja sudah mulai bisa ikut dalam gerakan lansia, karena gerakan-gerakan olahraganya lebih ringan dan disesuaikan dengan kondisi mereka,” ujar Kesumawijaya.

Olahraga Rutin hingga Yoga

Salah satu gagasan yang ingin terus diperkuat adalah kegiatan olahraga rutin bagi lansia. Dalam konsep yang disiapkannya, kegiatan olahraga tidak dilakukan secara sporadis, tetapi menjadi bagian dari aktivitas rutin masyarakat.

Pada minggu pertama hingga minggu ketiga setiap bulan, lansia diarahkan mengikuti kegiatan senam yang dilaksanakan melalui pemerintahan desa. Sementara pada minggu keempat, kegiatan dapat diisi dengan yoga.

Selain kegiatan tingkat desa, kelompok lansia di masing-masing banjar juga tetap didorong melakukan aktivitas secara rutin. Kegiatan di banjar dapat berlangsung sekitar dua kali dalam sepekan, sesuai kesepakatan dan kondisi masing-masing kelompok.

READ  Konektivitas Bali–Bandung Semakin Bertambah, Bandara I Gusti Ngurah Rai Sambut Penerbangan Perdana Super Air Jet

Menurut Kesumawijaya, kegiatan tersebut bukan sekadar menjaga kebugaran tubuh. Lebih dari itu, olahraga menjadi ruang perjumpaan sosial bagi para lansia.

Mereka dapat bertemu dengan teman sebaya, saling menyapa, berbagi cerita dan menjaga komunikasi. Hal sederhana tersebut dinilai sangat penting agar lansia tidak merasa sendirian atau kehilangan ruang dalam kehidupan sosial.

Sekolah Lansia, Belajar Menjalani Masa Tua dengan Kesadaran

Gagasan yang menjadi perhatian khusus Kesumawijaya adalah pengembangan sekolah bagi lansia.

Sekolah tersebut tidak dimaksudkan seperti sekolah formal pada umumnya. Konsep yang dikembangkan lebih mengarah pada pendidikan spiritual, kesehatan, kesadaran diri serta penguatan kehidupan sosial lansia.

Program pendidikan spiritual tersebut, menurut Kesumawijaya, telah mendapatkan dukungan dan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi melalui instansi terkait, pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa.

Para lansia tidak hanya diajak berolahraga, tetapi juga diberikan ruang untuk kembali belajar memahami kehidupan, terutama ketika seseorang memasuki fase kehidupan yang lebih matang.

Kajian spiritual diarahkan pada pemahaman Catur Asrama, khususnya fase Wanaprastha dan Bhiksuka, sebagai bagian dari perjalanan kehidupan manusia.

Dalam proses tersebut, para lansia diajak memahami kesadaran diri, menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran, serta mempersiapkan kehidupan yang lebih tenang dan bermakna.

Materi juga menyentuh konsep Panca Maya Kosa, antara lain bagaimana tubuh manusia berkaitan dengan unsur makanan, energi kehidupan, pikiran dan kebahagiaan.

“Pada usia 60 tahun ke atas, mereka penting untuk memperhatikan makanan, melakukan kegiatan yang menyehatkan tubuh, melakukan yoga dan membangun kesadaran diri. Pada akhirnya, kita berharap mereka mendapatkan ketenangan melalui yoga, tapa, brata dan semadi,” jelasnya.

Bagi Kesumawijaya, ketenangan batin menjadi bagian yang tidak kalah penting dibandingkan kesehatan fisik.

Sebab, masa tua seharusnya bukan masa untuk merasa tersisih. Masa tua justru menjadi fase untuk menikmati kehidupan dengan lebih tenang, mendekatkan diri kepada Tuhan, memperkuat hubungan sosial dan berbagi pengalaman kepada generasi muda.

Gratis, Lansia Tetap Bisa Berkarya

Menariknya, program pendidikan lansia yang digagas tersebut tidak membebani peserta dengan biaya.

Kesumawijaya menegaskan, para lansia tidak dipungut biaya untuk mengikuti program tersebut. Pembiayaan diupayakan melalui dukungan pemerintah serta kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk kalangan pengusaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

READ  NGAKAN NYOMAN JAYAWIJAYA, CALON KADES  KEDEWATAN GELAR SEMBAHYANG DI PURA TAMAN SARI, MOHON PETUNJUK DAN PILKEL DAMAI

Salah satu pihak yang disebut telah menjalin kerja sama adalah Bambu Indah, yang diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi kreatif bagi lansia.

Melalui pendidikan ekonomi kreatif tersebut, lansia tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga dapat kembali berkarya sesuai kemampuan masing-masing.

“Semua tidak dipungut biaya. Ada dukungan dari pemerintah dan juga kalangan pengusaha. Kami ingin lansia tetap bisa berkarya dan menikmati masa tuanya,” katanya.

Konsep tersebut diharapkan mampu menciptakan masa tua yang lebih produktif. Lansia tetap mempunyai kegiatan, tetap bertemu dengan teman-temannya dan tetap merasa memiliki peran di tengah masyarakat.

Agar Lansia Merasa Masih Dibutuhkan

Kesumawijaya menilai, persoalan lansia tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Ada kebutuhan yang lebih dalam, yakni kebutuhan untuk merasa dihargai dan dibutuhkan.

Ketika para lansia memiliki jadwal kegiatan, mereka mempunyai alasan untuk bangun, berkumpul, bergerak dan berinteraksi.

“Di sekolah akhirnya mereka merasa bahwa mereka juga masih dibutuhkan. Mereka masih mempunyai kegiatan yang harus dilakukan, walaupun sudah lansia,” ujarnya.

Ia memberikan gambaran, dalam satu pekan para lansia dapat memiliki berbagai kegiatan. Ada olahraga, kegiatan di banjar, yoga maupun aktivitas lainnya.

Rutinitas tersebut secara perlahan membangun kembali rasa percaya diri. Lansia belajar mengatur waktu, berinteraksi dan menjadi kreatif sesuai dengan kemampuan mereka.

“Kalau mereka merasa masih berguna dan diperlukan oleh keluarga serta masyarakat, tentu kehidupannya menjadi lebih bahagia,” ungkapnya.

Menurutnya, pengalaman hidup para lansia juga merupakan kekayaan sosial yang tidak ternilai.

Generasi muda mungkin memiliki teknologi, energi dan pengetahuan baru. Namun, para lansia memiliki pengalaman panjang melewati berbagai zaman.

Karena itu, keberadaan mereka harus ditempatkan sebagai sumber pembelajaran bagi generasi muda.

Dharma Yatra, Menjaga Kebahagiaan Lansia

Program pemberdayaan lansia juga tidak berhenti pada kegiatan olahraga dan pendidikan.

Kesumawijaya berencana melanjutkan kegiatan Dharma Yatra bagi lansia apabila dipercaya kembali memimpin Desa Sayan.

READ  Mahayastra Paparkan Perubahan APBD Gianyar 2026, Pendapatan Naik Jadi Rp3,414 Triliun

Kegiatan tersebut menjadi ruang rekreasi sekaligus spiritual bagi para lansia untuk mengunjungi tempat-tempat suci.

Ia mengingat pengalaman kegiatan Dharma Yatra yang telah dilakukan pada 2025. Saat itu para lansia Desa Sayan diajak mengunjungi sejumlah pura di Buleleng, di antaranya Pura Pulaki dan Pura Ponjok Batu.

Menurutnya, kebahagiaan terlihat jelas dari wajah para lansia ketika mengikuti perjalanan tersebut.

“Luar biasa senangnya mereka. Karena itu, kalau dipercaya, program tersebut akan dilanjutkan. Bahkan kalau perlu setiap akhir tahun kita ajak lansia melakukan Dharma Yatra ke pura-pura dan tempat lainnya,” katanya.

Lansia Sehat, Bahagia dan Tetap Menjadi Sumber Inspirasi

Kesumawijaya berharap keberadaan sekolah lansia dan berbagai kegiatan pemberdayaan tersebut dapat melahirkan generasi lansia yang sehat secara fisik, tenang secara spiritual dan tetap aktif secara sosial.

Lebih jauh, ia berharap para lansia dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus mewariskan pengalaman kepada anak-anak muda.

“Harapan saya kepada para lansia, semoga mereka terus memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, terutama mewariskan ilmu dan pengalaman yang mereka miliki kepada generasi muda,” tuturnya.

Ia meyakini, pengalaman hidup yang baik harus terus diwariskan. Nilai-nilai yang telah dibangun para orang tua dapat menjadi fondasi bagi keluarga dan masyarakat.

“Kalau orang tua saja masih semangat, generasi muda jangan sampai lemah. Generasi muda harus lebih semangat,” tegasnya.

Gagasan tersebut menegaskan bahwa pembangunan desa, bagi Kesumawijaya, bukan hanya tentang infrastruktur atau pembangunan fisik. Desa juga harus mampu membangun manusianya dari anak-anak, generasi muda hingga para lansia.

Sebab, di balik rambut yang memutih dan langkah yang mulai melambat, ada sejarah panjang sebuah keluarga dan desa. Ada pengalaman yang tidak tertulis di buku, tetapi hidup dalam ingatan mereka.

Dan ketika para lansia diberi ruang untuk tetap bergerak, belajar, berkarya dan berbagi, maka masa tua bukanlah akhir dari perjalanan.

Ia justru menjadi sebuah fase kehidupan yang lebih teduh ketika seseorang dapat menikmati hasil perjalanan hidupnya, tetap berguna bagi sesama, sekaligus mewariskan cahaya pengalaman kepada generasi yang akan melanjutkan perjalanan desa. (Tim)

Populer

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10

Terbaru

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10