Apresiasi  Positif dari Bumi Kita atas Kepedulian Tut Lengoh terhadap Lingkungan Tulikup, Dorong Pengelolaan Sampah Plastik Berkelanjutan

Gianyar, BerandaBali. Id– Kepedulian terhadap lingkungan mendapat apresiasi dari komunitas Bumi Kita di Desa Tulikup, Kecamatan Gianyar. Komunitas yang selama hampir dua tahun konsisten bergerak melakukan edukasi dan aksi pengurangan sampah plastik tersebut menilai perhatian calon Perbekel Desa Tulikup nomor urut 3, Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A. atau akrab disapa Tut Lengoh, terhadap persoalan lingkungan merupakan langkah positif yang perlu terus didukung.

Bagi Bumi Kita, persoalan sampah plastik bukan sekadar masalah kebersihan, tetapi menyangkut masa depan lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Perwakilan Bumi Kita, Kadek Lelung, mengatakan gerakan yang selama ini dilakukan komunitasnya lebih banyak diarahkan pada edukasi masyarakat. Salah satu fokus utama adalah mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta memahami dampak jangka panjang sampah plastik terhadap lingkungan.

“Poin utama kami adalah mengedukasi masyarakat bagaimana cara mengolah sampah, terutama sampah plastik sekali pakai, sehingga penggunaannya bisa dikurangi. Sampah plastik ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai. Kalau tidak kita pedulikan dari sekarang, dampaknya akan kita wariskan kepada anak cucu,” ujarnya.

Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan juga sejalan dengan nilai-nilai yang selama ini diwariskan dalam kehidupan masyarakat Bali, yakni menjaga keseimbangan dan keharmonisan dengan alam.

Karena itu, kehadiran dan dukungan Tut Lengoh terhadap gerakan lingkungan Bumi Kita dinilai sebagai sinyal positif. Terlebih, persoalan sampah di kawasan lingkungan dan pesisir membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk pemerintah desa.

“Beliau sangat mendukung hal-hal seperti ini. Kami berharap dukungan tersebut bisa dilakukan secara konsisten, karena edukasi lingkungan juga harus dilakukan secara terus-menerus,” katanya.

Bumi Kita sendiri telah bergerak di wilayah Tulikup selama hampir dua tahun. Fokus kegiatan tidak hanya melakukan aksi bersih-bersih, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya mengurangi sampah plastik sejak dari sumbernya.

READ  Pilkel Klungkung, Ngakan Nyoman Kancana Calon kades Tusan Ajak Pendukung Jaga Kondusivitas dan Hindari Gesekan dalam Deklarasi Damai 

Dalam perjalanan tersebut, kesadaran masyarakat dinilai mulai mengalami peningkatan. Namun, perubahan perilaku membutuhkan proses panjang dan tidak dapat dilakukan secara instan.

“Selama dua tahun berjalan, sudah ada peningkatan kesadaran masyarakat, tetapi memang masih sedikit. Kesadaran itu membutuhkan proses yang panjang. Karena itu edukasi harus terus dilakukan,” ungkapnya.

Saat ini, Bumi Kita memiliki sekitar 34 relawan aktif yang secara konsisten terlibat dalam kegiatan edukasi dan aksi lingkungan. Mereka tidak hanya memungut sampah, tetapi berupaya mengajak masyarakat agar mengurangi penggunaan plastik.

Namun, di balik aksi tersebut masih terdapat persoalan yang membutuhkan dukungan pemerintah, terutama terkait pengelolaan sampah setelah dikumpulkan.

Kadek Lelung mengungkapkan, selama ini komunitas lebih mudah melakukan pengumpulan sampah plastik. Tantangan berikutnya adalah memastikan sampah tersebut memiliki tempat pengelolaan dan pembuangan akhir yang tepat.

“Kami bisa melakukan pemungutan sampah dan mengumpulkannya. Tetapi setelah itu, eksekusi terakhirnya harus ke mana? Kami masih kesulitan karena tidak memiliki akses ke TPS atau tempat pengelolaan lainnya,” ujarnya.

Ia berharap ke depan pemerintah desa maupun pemerintah daerah dapat memberikan solusi terhadap persoalan tersebut. Sampah yang telah dikumpulkan oleh relawan diharapkan dapat disalurkan melalui sistem pengelolaan sampah yang resmi dan aman.

Bumi Kita juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah plastik secara sembarangan. Pembakaran plastik dapat menghasilkan zat berbahaya yang berdampak terhadap kesehatan manusia dan kualitas lingkungan.

“Jangan sampai sampah plastik yang sudah kita kumpulkan justru dibakar. Itu berbahaya karena menghasilkan racun dan bisa berdampak ke lingkungan sekitar,” tegasnya.

Bagi Bumi Kita, keberadaan komunitas lingkungan bukan untuk mengambil alih tugas pemerintah. Relawan hanya berusaha melakukan hal-hal kecil yang bisa mereka lakukan untuk menjaga bumi.

READ  Pilkades 2028 Mulai di Panaskan DPMD Gianyar  Sambangi KEMENDAGRI, Bahas Aturan Main 

Karena itu, keterlibatan pemerintah justru sangat dibutuhkan untuk memperkuat gerakan masyarakat tersebut.

“Ini sebenarnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kami sebagai komunitas dan relawan hanya bisa melakukan hal-hal kecil untuk bumi. Kalau ada komunitas seperti Bumi Kita, pemerintah seharusnya memberikan support agar gerakan ini bisa lebih kuat,” katanya.

Ia berharap perhatian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Program clean up atau aksi bersih lingkungan, khususnya kawasan pesisir, diharapkan dapat dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

“Harapan kami ada kegiatan bersih-bersih atau clean up secara rutin, misalnya sebulan sekali. Jangan hanya seremonial, sekali dilakukan kemudian selesai. Harus kontinu,” ujarnya.

Sementara itu, apresiasi Bumi Kita terhadap Tut Lengoh menjadi catatan penting bahwa persoalan lingkungan membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, komunitas dan pemerintah.

Bagi Bumi Kita, langkah kecil seperti edukasi, mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan merupakan investasi jangka panjang untuk generasi mendatang.

Dukungan terhadap gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti pada momentum Pilkel, tetapi menjadi komitmen bersama untuk menjadikan Tulikup sebagai desa yang semakin peduli terhadap lingkungan.

“Bumi Kita bergerak dari hal kecil. Tetapi kalau dilakukan bersama dan konsisten, dampaknya akan menjadi besar untuk bumi dan generasi yang akan datang.” (Tim)

Populer

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10

Terbaru

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10