Gianyar, BerandaBali.id – Dukungan terhadap calon Perbekel Desa Tulikup nomor urut 3, Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., atau yang akrab disapa Tut Lengoh, terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat.
Salah satunya datang dari Ketua Yayasan Braya Siyut Bersatu, I Wayan Eka Widanta, yang melihat sosok Tut Lengoh bukan semata dari gagasan yang disampaikan dalam momentum Pilkel, tetapi juga dari rekam jejak, pengalaman, kompetensi serta program nyata yang ditawarkan untuk masyarakat Desa Tulikup.
Ketika ditemui Newsyess pada Senin, I Wayan Eka Widanta menyampaikan bahwa dukungan terhadap Tut Lengoh memiliki alasan yang jelas. Menurutnya, masyarakat membutuhkan pemimpin desa yang tidak hanya pandai menyampaikan visi dan misi, tetapi mampu menerjemahkan gagasan menjadi program yang bisa dirasakan langsung oleh warga.
Salah satu gagasan yang dinilai memiliki prospek kuat adalah program “Satu Rumah Satu Sapi”, yang dirancang Tut Lengoh sebagai program pemberdayaan ekonomi keluarga berbasis peternakan dan kemitraan.
“Yang kami lihat bukan hanya siapa yang maju, tetapi apa yang dibawa untuk masyarakat. Tut Lengoh memiliki pengalaman, latar belakang keilmuan dan gagasan yang menurut kami bisa dikembangkan menjadi program nyata untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar I Wayan Eka Widanta.
Bagi Yayasan Braya Siyut Bersatu, salah satu hal penting dari seorang calon pemimpin desa adalah kemampuan memahami persoalan masyarakat secara langsung.
Tut Lengoh memiliki latar belakang sebagai dokter hewan dan akademisi, dengan pengalaman yang berkaitan erat dengan peternakan, pertanian serta pemberdayaan masyarakat.
Latar belakang tersebut kemudian dituangkan dalam gagasan pembangunan ekonomi Desa Tulikup yang tidak berhenti pada bantuan, tetapi berupaya membangun ekosistem usaha produktif.
Program “Satu Rumah Satu Sapi”, misalnya, tidak dirancang sebagai program membagikan sapi kemudian selesai. Konsep tersebut diarahkan menjadi sebuah sistem yang mencakup penyediaan ternak, pakan, kesehatan hewan, pendampingan, penggemukan hingga pemasaran.
Inilah yang menjadi salah satu alasan Yayasan Braya Siyut Bersatu memberikan perhatian terhadap gagasan Tut Lengoh.
Menurut I Wayan Eka Widanta, program yang baik harus memiliki keberlanjutan dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkembang secara mandiri.
“Satu Rumah Satu Sapi”, Ekonomi Dimulai dari Keluarga
Program “Satu Rumah Satu Sapi” menjadi salah satu gagasan unggulan Tut Lengoh dalam membangun ekonomi masyarakat Tulikup.
Konsepnya sederhana, tetapi memiliki tujuan besar. Rumah tangga masyarakat didorong menjadi bagian dari kegiatan ekonomi produktif melalui pemeliharaan ternak.
Namun, Tut Lengoh memahami bahwa program tersebut tidak bisa dilakukan secara serampangan.
Tidak semua keluarga memiliki kandang, waktu maupun kemampuan yang sama dalam memelihara sapi. Karena itu, pelaksanaannya dirancang bertahap dengan memperhatikan kesiapan warga.
Yang dibangun bukan hanya kepemilikan sapi, tetapi rantai ekonomi di belakangnya.
Mulai dari penyediaan bakalan, pakan, kesehatan ternak, pendampingan peternak, penggemukan hingga pemasaran.
Dengan sistem tersebut, sapi diharapkan dapat menjadi aset produktif sekaligus tabungan keluarga.
Salah satu bagian menarik dari gagasan Tut Lengoh adalah bagaimana menghubungkan sektor pertanian dan peternakan.
Limbah pertanian seperti jerami, batang tanaman dan bahan organik lainnya tidak harus berakhir menjadi sampah atau dibakar. Dengan teknologi pengolahan dan fermentasi, bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Tut Lengoh bahkan menggagas pengembangan pakan dalam bentuk balok padat yang lebih mudah disimpan dan didistribusikan.
Konsep ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan hijauan yang harus dicari setiap hari sekaligus menekan biaya produksi.
Petani menghasilkan limbah pertanian. Limbah diolah menjadi pakan. Pakan diberikan kepada sapi. Sapi digemukkan. Ternak dipasarkan. Hasilnya kembali menjadi pendapatan keluarga.
Jika dikelola secara konsisten, siklus tersebut dapat menciptakan mata rantai ekonomi baru di tingkat desa.
Tut Lengoh juga menawarkan pola kemitraan dengan dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Menurutnya, CSR perusahaan yang berada di sekitar wilayah desa dapat diarahkan pada kegiatan yang memiliki dampak ekonomi jangka panjang.
Bukan hanya bantuan yang habis digunakan, tetapi dukungan yang menghasilkan aset produktif bagi masyarakat.
CSR dapat diarahkan untuk membantu penyediaan ternak, pembangunan kandang, pengembangan pakan, pelayanan kesehatan hewan, pelatihan peternak hingga pemasaran.
Dengan demikian, perusahaan tidak hanya hadir sebagai pemberi bantuan, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan masyarakat.
Pemerintah desa menjadi penggerak, masyarakat menjadi pelaku utama, dunia usaha menjadi mitra, sementara tenaga ahli dan perguruan tinggi dapat memberikan dukungan teknologi serta pendampingan.
Dukungan Yayasan Braya Siyut Bersatu terhadap Tut Lengoh, menurut I Wayan Eka Widanta, tidak terlepas dari pentingnya menghadirkan pembangunan yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
Masyarakat desa, kata dia, membutuhkan pemimpin yang mampu melihat potensi yang ada di lingkungan sekitar dan mengubahnya menjadi peluang ekonomi.
Karena itu, rekam jejak dan kapasitas calon menjadi bagian penting dalam menentukan pilihan.
“Harapan kami, siapa pun yang mendapat kepercayaan masyarakat nantinya benar-benar bekerja untuk masyarakat. Kami melihat Tut Lengoh memiliki gagasan dan kemampuan yang bisa dikembangkan. Yang paling penting adalah bagaimana program itu nantinya benar-benar diwujudkan,” kata I Wayan Eka Widanta.
Bagi pendukungnya, Tut Lengoh memiliki modal pengalaman yang tidak hanya diperoleh dari dunia politik desa.
Sebagai dokter hewan dan akademisi, ia memiliki pengalaman di bidang yang berkaitan dengan pengembangan peternakan dan sumber daya manusia.
Ia juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan pemberdayaan masyarakat.
Rekam jejak tersebut kemudian menjadi dasar ketika ia menawarkan program pembangunan Desa Tulikup.
Bagi Yayasan Braya Siyut Bersatu, pengalaman dan kompetensi menjadi penting karena pembangunan desa membutuhkan perencanaan yang matang.
Terlebih ketika program yang ditawarkan menyangkut ekonomi masyarakat. Program tidak cukup hanya memiliki slogan, tetapi harus mempunyai konsep, sumber daya, pendampingan dan keberlanjutan.
Pilkel Desa Tulikup 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang nomor urut.
Kontestasi ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat siapa calon yang memiliki visi, pengalaman dan kemampuan menerjemahkan gagasan menjadi kerja nyata.
Tut Lengoh dengan nomor urut 3 menawarkan sejumlah gagasan yang berangkat dari potensi Desa Tulikup, salah satunya melalui program “Satu Rumah Satu Sapi”.
Program tersebut ingin menjadikan rumah tangga sebagai titik awal pertumbuhan ekonomi.
Bukan memberikan bantuan lalu selesai, tetapi membangun sistem.
Bukan menciptakan ketergantungan, tetapi mendorong kemandirian.
Bukan sekadar memiliki sapi, tetapi bagaimana sapi tersebut dapat menjadi aset yang memberikan nilai ekonomi.
Dukungan Yayasan Braya Siyut Bersatu menjadi bagian dari dinamika Pilkel Tulikup menjelang pemilihan.
Namun, pada akhirnya masyarakatlah yang akan menentukan siapa yang dipercaya memimpin Desa Tulikup.
Bagi I Wayan Eka Widanta dan Yayasan Braya Siyut Bersatu, pilihan kepada Tut Lengoh dilandasi harapan agar Desa Tulikup memiliki pemimpin yang mampu menggabungkan pengalaman, keilmuan, kepedulian dan program nyata.
Masyarakat membutuhkan program yang bisa dilihat, dirasakan dan diukur hasilnya.
Dari halaman rumah melalui seekor sapi, dari limbah pertanian menjadi pakan, dari CSR menjadi modal produktif, hingga terciptanya rantai usaha yang melibatkan masyarakat.
Di situlah gagasan Tut Lengoh ingin menemukan bentuknya.
Satu rumah, satu peluang. Satu keluarga, satu aset. Dari banyak keluarga, tumbuh kekuatan ekonomi Desa Tulikup.
Bagi pendukungnya, jika gagasan tersebut mampu diwujudkan dengan konsisten, maka Pilkel bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi dapat menjadi pintu masuk menuju perubahan ekonomi masyarakat yang lebih mandiri dan berkelanjutan.(TBB)