Gianyar, BerandaBali. Id – Calon Perbekel Desa Sayan nomor urut 1, I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag., membawa pesan kuat dalam kontestasi Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Sayan 2026. Di tengah geliat pembangunan dan perubahan wajah desa, Kesumawijaya menegaskan bahwa kemajuan Sayan tidak boleh dibayar dengan hilangnya lahan pertanian.
Pesan tersebut disampaikan Kesumawijaya dalam Simakrama Pilkel Desa Sayan yang berlangsung di Banjar Mas, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kamis (10/9/2026) malam.
Di hadapan masyarakat, Kesumawijaya menyoroti fenomena perubahan penggunaan lahan, khususnya lahan pertanian yang secara parsial mulai beralih menjadi bangunan.
Menurutnya, perkembangan desa merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, pembangunan harus tetap dikendalikan agar tidak menggerus ruang hidup masyarakat dan mengancam keberlangsungan pertanian yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan desa.
“Sayan boleh berkembang, tetapi jangan sampai lahan pertanian kalah oleh pembangunan. Kita harus punya keberanian untuk membela kepentingan pertanian dan menjaga ruang hidup krama,” tegas Kesumawijaya.
Perarem Jadi Benteng Perlindungan Krama
Kesumawijaya melihat perlindungan lahan dan kepentingan masyarakat tidak cukup hanya dilakukan melalui kebijakan pemerintah. Desa adat, menurutnya, memiliki posisi strategis untuk ikut menjaga keseimbangan pembangunan melalui aturan adat yang disepakati bersama.
Karena itu, ia mendorong agar perarem desa adat diperkuat sehingga dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengatur berbagai persoalan yang muncul akibat perkembangan desa.
Perarem, kata dia, dapat menjadi dasar bagi masyarakat dan desa adat dalam mengatur pemanfaatan ruang, menjaga kepentingan krama, sekaligus memberikan kepastian terhadap berbagai aktivitas yang berkembang di desa.
Ia mencontohkan persoalan pengelolaan parkir oleh masyarakat desa adat. Menurutnya, aktivitas tersebut perlu memiliki dasar aturan yang jelas agar masyarakat memiliki pijakan dalam menjalankan kegiatan sekaligus mendapatkan perlindungan secara kelembagaan.
“Misalnya warga kita di desa adat memungut parkir. Tentu regulasinya harus diperkuat dengan perarem. Dasarnya bisa dipakai sebagai acuan untuk membela warga kita,” ujarnya.
Jangan Tunggu Sawah Habis Baru Bertindak
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Kesumawijaya adalah meningkatnya kebutuhan ruang permukiman.
Ketika rumah dan kawasan permukiman semakin padat, masyarakat berpotensi mencari ruang baru, termasuk dengan memanfaatkan lahan pertanian. Jika tidak diantisipasi sejak awal, kondisi tersebut dinilai dapat mempercepat alih fungsi lahan.
Kesumawijaya menilai persoalan tersebut harus dibicarakan bersama dan diatur melalui regulasi yang jelas, baik melalui kebijakan pemerintah maupun aturan desa adat.
“Ketika rumah sudah penuh, jangan sampai kemudian masyarakat pindah ke sawah. Ini harus kita kondisikan. Regulasi melalui perarem desa adat dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjaga keseimbangan tersebut,” katanya.
Baginya, menjaga sawah bukan berarti menolak pembangunan. Justru pembangunan harus diarahkan agar tetap memberikan ruang bagi pertanian, lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Pembangunan boleh maju, tetapi jangan kehilangan kendali. Desa boleh berubah, tetapi identitas dan ruang hidup krama harus tetap dijaga.
Satu Hati untuk Sayan
Gagasan tersebut sejalan dengan semangat yang dibawa Kesumawijaya melalui tagline “Satu Hati untuk Sayan.”
Bagi Kesumawijaya, slogan tersebut bukan sekadar rangkaian kata dalam Pilkel, melainkan semangat untuk menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam menentukan masa depan desa.
Sayan yang ingin diwujudkan adalah desa yang maju dan bersinar, namun tetap memiliki akar kuat pada adat, budaya, pertanian dan lingkungan.
Kesumawijaya juga membawa semangat “Dedikasi Murni Mewujudkan Tri Hita Siddhi Sayan Bersinar”, dengan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan, sesama dan nilai-nilai spiritual.
Lima Pilar untuk Sayan Bersinar
Dalam gagasan pembangunan yang ditawarkannya, Kesumawijaya menempatkan sejumlah sektor penting sebagai fondasi Sayan ke depan.
Mulai dari penguatan infrastruktur dan jalan usaha tani, peningkatan sistem irigasi serta perlindungan subak, pengelolaan lingkungan, penguatan adat dan budaya, hingga peningkatan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.
Ia juga menaruh perhatian terhadap generasi muda dan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian, sehingga pembangunan desa tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu, tetapi dapat memberi manfaat seluas-luasnya bagi krama Sayan.
Menurutnya, pembangunan desa harus dilakukan dengan prinsip kebersamaan. Desa dinas dan desa adat harus berjalan beriringan, sementara masyarakat diberikan ruang yang luas untuk ikut menentukan arah pembangunan.
“Kita tidak ingin membangun Sayan hanya untuk hari ini. Kita harus berpikir tentang Sayan untuk anak cucu kita. Karena itu, pertanian, lingkungan, adat dan ruang hidup masyarakat harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Sayan Boleh Bersinar, Sawah Tetap Harus Hijau
Kesumawijaya menyadari bahwa Sayan memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Namun, perkembangan tersebut harus dikawal dengan perencanaan dan regulasi yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Baginya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya semakin banyaknya bangunan atau meningkatnya aktivitas ekonomi, tetapi juga sejauh mana masyarakat tetap memiliki ruang hidup yang layak, lingkungan yang terjaga, serta pertanian yang mampu bertahan.
Karena itu, dalam kontestasi Pilkel Sayan 2026, Kesumawijaya membawa pesan sederhana namun tegas:
Sayan harus bersinar, tetapi sawah tidak boleh menghilang.
Sebab, kemajuan tanpa kendali berpotensi menghilangkan apa yang selama ini menjadi kekuatan desa. Sebaliknya, pembangunan yang dirancang dengan keseimbangan antara ekonomi, adat, lingkungan dan pertanian diyakini dapat membawa Sayan tumbuh tanpa kehilangan jati dirinya.
Dengan semangat “Satu Hati untuk Sayan”, Kesumawijaya mengajak seluruh krama menjadikan Pilkel bukan sekadar momentum memilih pemimpin, tetapi momentum menentukan wajah dan arah masa depan Desa Sayan.
Sayan maju, adat kuat, lingkungan terjaga, pertanian tetap hidup, dan kesejahteraan krama menjadi tujuan utama. (Tim)