Gianyar, BerandaBali, id – Di tengah panasnya dinamika Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Sayan 2026, calon Perbekel nomor urut 1, I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag., memilih menegaskan satu pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar kontestasi politik desa: swadarma, adat, agama, budaya dan persaudaraan harus tetap menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
Pesan itu disampaikan Kesumawijaya saat menghadiri rangkaian upacara Mecaru Rsi Gana, Mlaspas, Mendem Perdagingan dan Ngenteg Linggih di Mrajan Bapak I Made Sudi, Banjar Adat Penestanan Kelod, Minggu (13/9/2026).
Bagi Kesumawijaya, kehadiran dalam kegiatan adat dan keagamaan bukan sekadar memenuhi agenda sosial. Ia menyebutnya sebagai bagian dari Swadarma Agama lan Swadarma Adat, Budaya lan Negara—sebuah tanggung jawab moral untuk tetap hadir, ngayah, menghormati adat serta menjaga kehidupan masyarakat.
“Bagi saya, ini bukan sekadar hadir. Ini adalah swadarma. Kita punya kewajiban untuk menjaga agama, adat, budaya dan kehidupan bermasyarakat. Politik boleh menjadi bagian dari proses demokrasi, tetapi jangan sampai politik membuat kita kehilangan jati diri dan persaudaraan,” tegas Kesumawijaya.
Menurutnya, Pilkel hanyalah sebuah tahapan demokrasi. Ada pilihan berbeda, ada calon berbeda dan ada dukungan yang berbeda. Namun setelah seluruh proses selesai, masyarakat tetap akan hidup berdampingan sebagai menyama braya.
Karena itu, ia mengingatkan seluruh masyarakat Sayan agar tidak menjadikan perbedaan pilihan politik sebagai alasan untuk memutus tali persaudaraan.
“Pilkel jangan sampai membuat kita bermusuhan. Berbeda pilihan itu biasa. Tetapi setelah Pilkel selesai, kita tetap satu keluarga, satu desa dan bersama-sama menjaga Sayan.”
Kesumawijaya menilai kekuatan Desa Sayan bukan hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kekuatan adat, budaya, agama dan kebersamaan masyarakatnya.
Menurutnya, pembangunan desa ke depan harus berjalan seimbang. Infrastruktur penting, ekonomi penting, pelayanan masyarakat penting, tetapi semuanya harus tetap berpijak pada nilai dan karakter masyarakat Desa Sayan.
“Desa yang maju bukan hanya desa yang banyak bangunannya. Desa yang maju adalah desa yang masyarakatnya sejahtera, adatnya kuat, budayanya lestari, agamanya berjalan dan masyarakatnya tetap rukun.”
Dalam kesempatan tersebut, Kesumawijaya juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Mrajan Bapak I Made Sudi dan masyarakat Banjar Adat Penestanan Kelod atas pelaksanaan rangkaian upacara tersebut.
Ia berharap seluruh rangkaian upacara berlangsung lancar dan membawa kerahayuan, keselamatan, keseimbangan dan keharmonisan bagi keluarga serta masyarakat.
“Semoga upacara ini membawa kerahayuan. Semoga keluarga dan seluruh masyarakat diberikan kesehatan, keselamatan, kedamaian dan keharmonisan.”
Lebih jauh, Kesumawijaya menegaskan bahwa jika nantinya diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk memimpin Desa Sayan, semangat ngayah dan melayani akan menjadi pijakan dalam menjalankan pemerintahan desa.
Baginya, jabatan Perbekel bukanlah sebuah keistimewaan, melainkan tanggung jawab.
“Kalau masyarakat memberikan kepercayaan, saya melihat jabatan Perbekel sebagai sebuah tanggung jawab dan pengabdian. Bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Bukan sekadar memimpin, tetapi bagaimana kita bisa bersama-sama membangun Sayan.”
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan politik Kesumawijaya di tengah kontestasi Pilkel Sayan. Ia ingin pertarungan demokrasi tetap berjalan secara sehat, tanpa mengorbankan hubungan sosial dan adat yang telah dibangun masyarakat selama bertahun-tahun.
Pilkel adalah pertarungan gagasan. Bukan pertarungan untuk memutus persaudaraan.
Dan dari Penestanan Kelod, Kesumawijaya kembali menegaskan garis sikapnya: swadarma tetap dijalankan, adat tetap dijaga, budaya tetap dilestarikan, agama tetap dihormati dan persaudaraan masyarakat Sayan harus tetap utuh—siapapun nantinya yang dipercaya memimpin Desa Sayan. (Tim)