Gianyar,BerandaBali.id — Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah wilayah Bali tidak hanya menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan bahan bakar, tetapi juga mulai memukul aktivitas usaha kecil dan menengah.
Di Gianyar, dampaknya dirasakan langsung oleh pengusaha lokal yang mengandalkan mobilitas kendaraan dan daya beli masyarakat untuk mempertahankan usahanya.
Salah satunya dialami Nyoman Airawan, atau yang akrab disapa Mongoh, pengusaha lokal asal Buruan, Gianyar, yang menjalankan usaha dinamo dan aki.
Didampingi sang istri, Yanik, Mongoh mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir usahanya mengalami penurunan aktivitas dan penjualan sejak persoalan pasokan BBM memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Saat ditemui Newsyess.com di Buruan, Gianyar, Jumat (16/10/2026), Mongoh mengatakan dampak tersebut mulai terasa dalam tiga hari terakhir.
Sejumlah pelanggan yang biasanya datang untuk melakukan servis maupun membeli kebutuhan kendaraan terpaksa membatalkan kunjungan karena kesulitan mendapatkan BBM.
“Banyak pelanggan menghubungi melalui WhatsApp dan meminta maaf karena tidak bisa datang. Alasannya, mobil mereka tidak ada bensin. Akhirnya, rencana untuk servis pun batal,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat aktivitas usaha yang biasanya berjalan cukup lancar menjadi berkurang. Menurut Mongoh, penurunan tidak hanya terjadi pada jumlah pelanggan yang datang, tetapi juga pada penjualan barang dan jasa yang ditawarkan.
Ia memperkirakan omzet usahanya mengalami penurunan sekitar 20 persen dibandingkan kondisi normal.
“Penjualan memang menurun. Saya merasakan sendiri dampaknya. Masyarakat mungkin khawatir kehabisan bensin di jalan sehingga memilih menunda datang ke tempat kami,” ujarnya.
Mobilitas Terhambat, Pelanggan Menunda Servis
Bagi usaha dinamo dan aki, mobilitas kendaraan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi aktivitas pelanggan. Ketika masyarakat kesulitan mendapatkan BBM, kebutuhan servis kendaraan yang sebenarnya sudah direncanakan pun berpotensi tertunda.
Mongoh menjelaskan, pelanggan usahanya berasal dari kalangan laki-laki maupun perempuan, dengan jumlah yang relatif berimbang antara pelanggan yang datang untuk membeli dinamo dan aki serta mereka yang membutuhkan layanan servis.
Dalam kondisi normal, tempat usahanya dapat menerima puluhan pelanggan dalam sehari. Namun, belakangan ini jumlah kunjungan mengalami penurunan seiring kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan bahan bakar.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan BBM tidak berhenti pada antrean kendaraan di SPBU. Dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor usaha, termasuk bengkel dan penjualan suku cadang kendaraan yang aktivitasnya bergantung pada kelancaran mobilitas masyarakat.
Ketika kendaraan tidak bisa digunakan secara leluasa, transaksi ekonomi ikut tertahan. Pelanggan menunda perjalanan, servis ditangguhkan, dan pengusaha harus menghadapi penurunan pendapatan meskipun kebutuhan terhadap produk maupun jasa mereka tetap ada.
Aki Bisa COD, tetapi Tidak Semua Layanan Bisa Dijangkau
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Mongoh berupaya memberikan kemudahan kepada pelanggan. Khusus pembelian aki, pihaknya menyediakan layanan cash on delivery (COD), sehingga barang dapat diantarkan kepada pelanggan tanpa harus datang langsung ke tempat usaha.
Layanan ini menjadi salah satu alternatif agar kebutuhan aki tetap dapat dipenuhi meskipun pelanggan mengalami kendala mobilitas.
Namun, untuk pekerjaan servis dinamo yang memerlukan penanganan langsung di tempat usaha, layanan antar tidak selalu dapat menjadi solusi. Akibatnya, sebagian pekerjaan berpotensi tertunda sampai pelanggan bisa membawa kendaraannya.
Upaya tersebut memperlihatkan bagaimana pengusaha lokal berusaha bertahan di tengah situasi yang tidak menentu. Di satu sisi, mereka harus menjaga pelayanan kepada pelanggan. Di sisi lain, mereka juga menghadapi keterbatasan akibat kondisi di luar kendali usaha.
Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Mongoh berharap pemerintah segera menuntaskan persoalan distribusi BBM di Bali. Menurutnya, kepastian mengenai ketersediaan bahan bakar sangat penting agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dan roda perekonomian bergerak normal.
Ia menilai penanganan persoalan tersebut perlu disertai tindak lanjut nyata di lapangan, sehingga masyarakat tidak terus-menerus menghadapi antrean dan ketidakpastian.
“Pemerintah seharusnya bisa lebih cepat merespons. Kalau persoalan ini berlarut-larut, dampaknya bukan hanya dirasakan pengusaha, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kesulitan mendapatkan BBM dapat mengganggu kebutuhan rumah tangga. Ketika masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre, waktu untuk bekerja, berusaha, dan memenuhi kebutuhan keluarga ikut tersita.
Bahkan, menurut pengalaman yang disampaikan dalam perbincangan tersebut, ada warga yang harus mengantre hingga sekitar tiga jam untuk mendapatkan BBM, tetapi hanya memperoleh pembelian senilai Rp30.000 untuk sepeda motor.
Pengalaman itu menggambarkan betapa sulitnya situasi yang dihadapi sebagian masyarakat ketika pasokan BBM belum sepenuhnya mudah diakses.
Bukan Soal Harga Semata, yang Penting BBM Tersedia
Bagi Mongoh dan keluarganya, harapan utama saat ini sederhana: pasokan BBM di Gianyar dan Bali segera kembali normal agar masyarakat bisa beraktivitas tanpa dibayangi kekhawatiran kehabisan bahan bakar.
Ia menegaskan, kelancaran distribusi jauh lebih penting agar masyarakat dapat kembali bekerja, menjalankan usaha, berbelanja, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Yang penting BBM ada. Masyarakat bisa beraktivitas, ekonomi tidak semakin lesu, dan usaha-usaha kecil seperti kami juga bisa kembali berjalan normal,” ujarnya.
Keluhan Mongoh menjadi gambaran nyata bahwa gangguan distribusi BBM dapat memberikan efek berantai terhadap perekonomian daerah. Penurunan penjualan sekitar 20 persen yang dialaminya menjadi salah satu sinyal bahwa persoalan tersebut mulai dirasakan hingga tingkat usaha lokal.
Di tengah kondisi itu, pengusaha kecil tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk bertahan, tetapi juga kepastian bahwa aktivitas ekonomi dapat segera pulih.
Sebab, ketika bahan bakar sulit diperoleh, yang ikut terhambat bukan hanya kendaraan di jalan, melainkan juga roda usaha, pendapatan keluarga, dan perputaran ekonomi masyarakat.
Kini, harapan para pelaku usaha lokal di Gianyar sederhana: BBM kembali tersedia dengan lancar, antrean segera terurai, dan masyarakat bisa kembali bergerak tanpa rasa khawatir. (Tim)