I Ketut Gede Kesumawijaya, Hadiri Deklarasi Pikel Damai Tegaskan Politik Beradab dan Persaudaraan Tetap Utuh

Gianyar,  BerandaBali.id  –  Pemilihan Perbekel (Pilkel) serentak di Kabupaten Gianyar memasuki tahapan penting. Para calon Perbekel tidak hanya dituntut menyampaikan visi dan program terbaik kepada masyarakat, tetapi juga menjaga agar seluruh rangkaian pesta demokrasi berlangsung aman, tertib, santun, dan tetap berlandaskan nilai-nilai adat serta budaya Bali.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Deklarasi Pilkel Damai Desa dan Kelurahan Ubud, Kabupaten Gianyar, yang digelar di Balai Budaya Gianyar, Senin (31/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 Wita tersebut dihadiri para calon Perbekel, unsur penyelenggara, aparat, serta pihak-pihak terkait dalam pelaksanaan Pilkel.

Salah satu calon yang hadir adalah I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag., calon Perbekel Desa Sayan nomor urut 1, yang mengusung konsep “Dedikasi Murni Mewujudkan Tri Hita Siddhi Sayan Bersinar.”

Kehadiran Kesumawijaya dalam deklarasi tersebut menjadi bagian dari komitmennya untuk mengikuti seluruh tahapan Pilkel dengan mengedepankan etika demokrasi, menghormati perbedaan pilihan, serta menjaga persatuan masyarakat Desa Sayan.

Deklarasi damai tersebut menegaskan bahwa demokrasi di tingkat desa bukan semata-mata tentang memenangkan kontestasi, melainkan bagaimana seluruh proses politik tetap menjadi bagian dari upaya menjaga keharmonisan masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan prinsip penyelenggaraan pemerintahan desa yang menjunjung tinggi kearifan lokal, kerukunan hidup, partisipasi masyarakat, serta kepatuhan terhadap aturan perundang-undangan.

Dalam deklarasi tersebut, seluruh pihak menegaskan komitmen untuk menjunjung tinggi Dharma, Satya, Krama, serta norma adat dan agama yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali.

Para peserta juga berkomitmen mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pemilihan di desa.

Kepentingan masyarakat dan Kabupaten Gianyar ditempatkan di atas kepentingan pribadi, kelompok maupun kepentingan politik tertentu.

Pesan tersebut menjadi penting karena Pilkel berlangsung di tengah kehidupan masyarakat desa yang sangat erat dengan hubungan adat, banjar, desa dinas, desa adat, subak, hingga berbagai lembaga kemasyarakatan.

READ  Bank ABJ Peduli di tengah Antrean BBM di Gianyar dengan Bagikan Air Mineral untuk Masyarakat yang Menunggu di Bawah Terik Matahari

Deklarasi damai juga menekankan pentingnya kampanye yang santun dan berkeadaban.

Setiap calon didorong menyampaikan visi, misi, gagasan dan program secara jujur, transparan serta bertanggung jawab. Kampanye diharapkan tidak diwarnai ujaran kebencian, fitnah, isu SARA maupun provokasi yang berpotensi memecah persaudaraan.

Martabat calon lain, keluarga, serta para pendukung juga harus tetap dihormati.

Bagi Kesumawijaya, semangat tersebut menjadi bagian penting dalam membangun demokrasi desa yang sehat. Sebab, kontestasi politik pada akhirnya akan berakhir, sedangkan hubungan persaudaraan antarwarga akan terus berjalan.

Salah satu pesan kuat dalam deklarasi adalah penghormatan terhadap perbedaan pilihan politik sebagai hak setiap warga negara.

Masyarakat diberikan ruang untuk menentukan pilihannya secara bebas tanpa tekanan maupun intimidasi. Sebaliknya, seluruh pihak diminta menolak segala bentuk ancaman, kekerasan dan tindakan yang dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat.

Baik di banjar, desa adat, desa dinas, subak maupun lembaga kemasyarakatan lainnya, persatuan harus tetap dijaga.

Semangat yang digaungkan dalam deklarasi tersebut sangat sederhana, tetapi memiliki makna mendalam:

“Beragam Pilihan, Tetap Bersaudara.”

Pesan ini menjadi sangat relevan dalam Pilkel Desa Sayan. Perbedaan dukungan politik jangan sampai berubah menjadi jarak sosial, apalagi memutus hubungan kekeluargaan dan persaudaraan yang selama ini telah terbangun.

Deklarasi juga menegaskan komitmen seluruh peserta untuk menghormati proses dan hasil pemilihan yang berlangsung secara sah dan demokratis.

Setiap perselisihan yang mungkin muncul harus diselesaikan melalui mekanisme hukum yang berlaku, bukan dengan tindakan yang mengganggu keamanan dan ketertiban umum.

Prinsip “menang dengan rendah hati, kalah dengan lapang dada” menjadi salah satu pesan utama dalam membangun Pilkel yang damai.

Sebab, siapapun yang nantinya memperoleh kepercayaan masyarakat, tujuan akhirnya tetap sama, yakni membangun desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

READ  Prestasi Mulia Duta Tabanan di UDG Bali XXIII, Bukti Kebudayaan dan Generasi Unggul Terus Berkembang

Deklarasi juga memberikan ruang penting bagi masyarakat untuk ikut menjaga kualitas demokrasi.

Warga diharapkan berperan aktif menjaga keamanan, melaporkan dugaan pelanggaran melalui jalur yang sah, serta tidak melakukan tindakan main hakim sendiri.

Masyarakat juga diajak menolak berita bohong atau hoaks dan hanya menyebarkan informasi yang benar, terverifikasi dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, penyelenggara dan aparat diharapkan memastikan seluruh proses pemilihan berjalan secara bebas, rahasia, jujur dan adil.

Dengan demikian, Pilkel tidak hanya menjadi momentum memilih pemimpin desa, tetapi juga menjadi pendidikan politik bagi masyarakat untuk menjalankan demokrasi secara dewasa.

Kesumawijaya dan Semangat “Sayan Bersinar”

Sebagai calon Perbekel Desa Sayan nomor urut 1, I Ketut Gede Kesumawijaya membawa konsep “Dedikasi Murni Mewujudkan Tri Hita Siddhi Sayan Bersinar.”

Konsep tersebut menjadi bagian dari semangat pengabdiannya dalam mengikuti kontestasi Pilkel. Kehadirannya dalam Deklarasi Pilkel Damai juga memperlihatkan pentingnya membangun kompetisi yang sehat tanpa mengorbankan nilai-nilai persaudaraan.

Dalam konteks masyarakat Bali, demokrasi tidak berdiri sendiri. Ia berjalan berdampingan dengan adat, agama, budaya dan nilai kebersamaan.

Karena itu, kontestasi politik di tingkat desa diharapkan tidak merusak keharmonisan yang telah diwariskan dan dijaga secara turun-temurun.

Pilkel boleh menghadirkan perbedaan pilihan. Namun, setelah proses pemilihan selesai, seluruh masyarakat tetap berada dalam satu rumah besar yang sama: desa, adat dan persaudaraan.

Deklarasi tersebut kemudian ditutup dengan seruan kepada seluruh masyarakat desa adat dan desa dinas di Kabupaten Gianyar:

“Gianyar Bersatu, Damai Memilih – Adat Menuntun, Negara Melindungi.”

Seruan itu menjadi pengingat bahwa demokrasi di Gianyar harus tumbuh dari akar budaya dan kearifan lokal.

Pilihan politik boleh berbeda. Dukungan boleh beragam. Namun, kedamaian, persaudaraan dan kepentingan masyarakat harus tetap menjadi kepentingan bersama.

READ  Bagus Alit Sucipta Ikuti Prosesi Ngetus Ida Betara Tapakan di Pura Dalem Korya

Pada akhirnya, Pilkel bukan sekadar tentang siapa yang mendapatkan suara terbanyak. Lebih jauh dari itu, Pilkel adalah tentang bagaimana masyarakat memilih pemimpin dengan hati nurani dan bagaimana seluruh pihak menerima hasilnya dengan dewasa.

Demokrasi yang beradab, beradat dan berbudaya menjadi fondasi penting untuk mewujudkan Pilkel yang damai serta menjaga Gianyar tetap bersatu. (TBB)

Populer

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10

Terbaru

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10