Gianyar, BerandaBali, id– Gelombang dukungan terhadap Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., yang akrab disapa Tut Lengoh, dalam Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Tulikup 2026 terus menguat dari berbagai kalangan. Kali ini, dukungan datang dari I Nyoman Badjra, mantan Bendesa Adat Tulikup Kelod yang mengabdi selama hampir tiga dekade, sejak 1995 hingga 2023, sekaligus mantan pejabat Inspektorat Kabupaten Gianyar.
I Nyoman Badjra mengaku telah mengenal sosok Tut Lengoh sejak lama. Menurutnya, Tut Lengoh merupakan figur yang memiliki kapasitas, pengalaman, integritas, serta kepedulian tinggi terhadap kemajuan masyarakat Desa Tulikup.
Baginya, kehadiran Tut Lengoh sebagai calon Perbekel nomor urut 3 membawa harapan baru melalui berbagai gagasan yang realistis dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, salah satunya program “Satu Rumah Satu Sapi” berbasis kemitraan.
“Saya mengenal beliau sudah cukup lama. Tut Lengoh adalah sosok yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan komitmen untuk membangun desa. Saya melihat gagasan yang beliau tawarkan bukan sekadar janji politik, tetapi memiliki arah yang jelas demi kemajuan masyarakat Tulikup,” ujar I Nyoman Badjra.
Menurut mantan Bendesa Adat Tulikup Kelod itu, pembangunan desa memerlukan pemimpin yang memahami kebutuhan masyarakat serta mampu menghadirkan solusi yang dapat diwujudkan.
Ia menilai program “Satu Rumah Satu Sapi” bukan sekadar membagikan ternak kepada masyarakat, tetapi membangun sistem ekonomi yang berkelanjutan.
“Yang saya lihat menarik adalah beliau tidak hanya berbicara soal sapi. Beliau juga memikirkan bagaimana penyediaan pakan, pendampingan peternak, kesehatan ternak hingga pemasarannya. Itu menunjukkan program ini sudah dipikirkan secara matang,” katanya.
Pengalaman Menjadi Modal Membangun Desa
Berbekal pengalamannya memimpin Desa Adat Tulikup Kelod selama hampir 28 tahun dan mengabdi sebagai pejabat di Inspektorat Kabupaten Gianyar, I Nyoman Badjra menilai pembangunan desa harus dirancang berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat.
Ia melihat latar belakang Tut Lengoh sebagai dokter hewan sekaligus akademisi menjadi nilai tambah dalam merealisasikan program pemberdayaan ekonomi berbasis peternakan.
Menurutnya, ilmu pengetahuan yang dimiliki Tut Lengoh menjadi fondasi penting agar program tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Program Berbasis Kemitraan
Tut Lengoh menjelaskan bahwa program “Satu Rumah Satu Sapi” bukanlah program bagi-bagi sapi secara cuma-cuma.
Konsep tersebut dibangun melalui pola kemitraan sehingga masyarakat memperoleh pendampingan mulai dari penyediaan bibit ternak, pakan, kesehatan hewan hingga pemasaran hasil peternakan.
“Jangan hanya berpikir bagaimana memiliki sapi, tetapi harus dipikirkan juga apa yang dimakan sapi. Kalau semua rumah memelihara sapi, kebutuhan pakan tentu sangat besar,” ujar Tut Lengoh.
Karena itu, ia menggagas pemanfaatan limbah pertanian seperti jerami, batang tanaman dan bahan organik lainnya untuk diolah menjadi pakan fermentasi yang berkualitas sehingga mampu menekan biaya produksi peternak.
Gandeng CSR Perusahaan
Selain mengoptimalkan potensi masyarakat, Tut Lengoh juga menggagas keterlibatan perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Menurutnya, perusahaan yang beroperasi di Desa Tulikup dapat menjadi mitra strategis dalam mendukung penyediaan sapi, pembangunan kandang, pengembangan pakan hingga pembinaan kelompok peternak.
“Ini konsep kemitraan. Kita ingin perusahaan ikut membangun masyarakat melalui program yang produktif dan berkelanjutan, bukan hanya bantuan sesaat,” kata Tut Lengoh.
I Nyoman Badjra menilai konsep tersebut sangat relevan karena mampu melibatkan seluruh potensi desa dalam membangun ekonomi masyarakat.
“Kalau semua unsur bergerak bersama, mulai dari masyarakat, pemerintah desa hingga dunia usaha, saya yakin manfaatnya akan jauh lebih besar bagi warga,” ujarnya.
Nomor 3 dan Harapan Masyarakat
Dalam pengundian nomor urut calon Perbekel Desa Tulikup yang berlangsung pada 27 Agustus 2026, Tut Lengoh memperoleh nomor urut 3.
Bagi I Nyoman Badjra, nomor hanyalah identitas dalam kontestasi demokrasi. Yang jauh lebih penting adalah kualitas calon, rekam jejak, serta program yang ditawarkan kepada masyarakat.
Ia berharap masyarakat menggunakan hak pilih secara bijaksana dengan melihat kemampuan, integritas, dan gagasan setiap calon demi masa depan Desa Tulikup yang lebih baik.
“Saya berharap masyarakat memilih pemimpin yang benar-benar memiliki kemampuan, pengalaman, dan kepedulian untuk membangun desa. Saya mengenal Tut Lengoh sebagai sosok yang memiliki komitmen tersebut,” tuturnya.
Sementara itu, Tut Lengoh menegaskan bahwa apabila diberikan amanah memimpin Desa Tulikup periode 2026–2034, dirinya akan berupaya mewujudkan program-program pemberdayaan ekonomi secara bertahap dan berkelanjutan.
“Kalau saya dipercaya memimpin, saya ingin program satu rumah satu sapi benar-benar menjadi program pemberdayaan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Semua dilakukan sesuai kesiapan masyarakat dan dibangun melalui kerja sama yang kuat,” tegasnya.
Dukungan dari I Nyoman Badjra menambah deretan tokoh masyarakat yang menaruh harapan kepada Tut Lengoh. Bagi mantan Bendesa Adat Tulikup Kelod tersebut, membangun desa bukan hanya soal janji, melainkan tentang menghadirkan pemimpin yang memiliki pengalaman, gagasan, serta kemauan bekerja demi kesejahteraan masyarakat Tulikup.(Tim)