Gianyar,BerandaBali.id – Kawasan wisata Pura Tirta Empul Tampaksiring tidak hanya menjadi salah satu destinasi wisata spiritual yang dikenal luas oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Di balik ramainya kunjungan wisatawan, terdapat peran masyarakat adat Manukaya Let yang secara turun-temurun menjaga kawasan tersebut sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari geliat pariwisata.
Bahkan, pengelolaan kawasan wisata Pura Tirta Empul yang berada di wilayah Manukaya Let disebut menjadi salah satu sumber pendapatan retribusi kunjungan wisata tertinggi di Kabupaten Gianyar. Tingginya jumlah kunjungan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun domestik, membuat aktivitas ekonomi di kawasan tersebut terus bergerak.
Namun, sumber manfaat ekonomi masyarakat tidak hanya datang dari kunjungan wisatawan.
Aktivitas masyarakat lokal yang datang ke Pura Tirta Empul untuk melaksanakan melukat atau penyucian diri secara niskala juga menjadi bagian dari dinamika kehidupan kawasan suci tersebut. Berbagai kebutuhan yang menyertai prosesi ritual, termasuk perlengkapan upacara, tempat penitipan pakaian dan barang melalui loker, turut memberikan kontribusi ekonomi bagi pengelola dan masyarakat sekitar.
Selain itu, masyarakat dari Tampaksiring dan berbagai wilayah Bali juga kerap datang untuk nunas tirta, mengambil air suci sebagai bagian dari persiapan berbagai upacara keagamaan maupun kebutuhan spiritual lainnya.
Dari aktivitas wisata hingga ritual keagamaan tersebut, Pura Tirta Empul menjadi ruang yang mempertemukan denyut ekonomi, budaya dan spiritualitas masyarakat Bali.
Ungkapan Syukur Lewat Karya Agung
Di tengah berkah yang dirasakan masyarakat, krama Desa Adat Manukaya Let kemudian sepakat menggelar karya besar sebagai wujud bakti dan ungkapan rasa syukur atas anugerah yang telah diterima.
Untuk pertama kalinya, masyarakat Manukaya Let melaksanakan rangkaian Karya Ngenteg Linggih, Labuh Gentuh, Pecaruan Agung dan Mendem Pedagingan di Pura Agung Manukaya Let.
Pura Agung tersebut memiliki ikatan spiritual yang erat dengan kawasan Pura Tirta Empul Tampaksiring. Lokasinya juga berada tidak jauh dari kawasan Istana Kepresidenan Tampaksiring.
Pelaksanaan karya ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk kembali memperkuat hubungan dengan leluhur, menjaga kesucian tempat suci, sekaligus mempererat kebersamaan antarkrama.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak rangkaian upacara mulai dipersiapkan hingga memasuki tahapan tradisi Nyenuk/Nyenukan.
Enam desa adat turut larut dalam tradisi tersebut. Krama Desa Adat Manukaya Let, Calo, Penempahan, Tegal Payang, Malet dan Penyolasan Timbul tumpah ruah mengikuti prosesi Nyenukan dengan berjalan kaki dari Pura Agung menuju Pura Dalem Pingit yang berada di kawasan Tampaksiring, bersebelahan dengan kawasan Istana Kepresidenan.
Suasana kebersamaan begitu terasa. Krama dari berbagai desa adat berjalan bersama, mengikuti rangkaian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Bagi masyarakat adat Manukaya Let, Nyenukan bukan hanya bagian dari prosesi upacara.
Tradisi tersebut menjadi ruang untuk mempererat menyama braya, memperkuat hubungan antarkrama dan antardesa adat, sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Lebih dari itu, seluruh rangkaian karya menjadi ungkapan syukur masyarakat atas kesejahteraan dan anugerah yang diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pertama Kali, Selanjutnya 30 Tahun Sekali
Bendesa Adat Manukaya Let, Wayan Mawi Arnata, mengatakan pelaksanaan karya tersebut mendapat sambutan yang sangat antusias dari masyarakat maupun para prajuru desa adat.
Menurutnya, karya Ngenteg Linggih, Labuh Gentuh, Pecaruan Agung dan Mendem Pedagingan tersebut merupakan pelaksanaan pertama yang dilakukan masyarakat Manukaya Let.
“Upacara ini baru pertama kali dilaksanakan. Ke depan akan diagendakan setiap 30 tahun sekali, sesuai ketentuan sastra dan petunjuk yang ada,” ujar Mawi Arnata.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan karya tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan ritual saat ini, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi untuk generasi mendatang.
Dengan demikian, generasi berikutnya tetap memiliki ruang untuk melanjutkan warisan adat dan spiritual yang telah dijaga oleh para leluhur.
Momentum Menggali Potensi Budaya
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, Wayan Adi Parbawa, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan upacara adat tersebut.
Menurut pejabat yang akrab disapa Yantu ini, wilayah Tampaksiring memang menyimpan kekayaan seni dan budaya yang sangat besar.
Pelaksanaan upacara adat seperti Ngenteg Linggih menjadi momentum penting untuk kembali menggali berbagai potensi budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Tidak hanya menggali, menurutnya, potensi tersebut juga perlu dikembangkan dan dilestarikan agar tetap hidup serta mampu diwariskan kepada generasi muda di tengah perkembangan zaman.
Kehidupan adat dan budaya, kata dia, merupakan kekuatan penting yang menjadi identitas masyarakat Gianyar.
Rangkaian Karya Berlangsung Berbulan-bulan
Karya Ngenteg Linggih, Labuh Gentuh, Pecaruan Agung dan Mendem Pedagingan di Pura Agung Manukaya Let sendiri telah melalui berbagai tahapan.
Rangkaian karya diawali dengan upacara Nyuciang Karya pada 7 Agustus 2026.
Selanjutnya, pada 15 September 2026 dilaksanakan rangkaian Tawur Agung, Labuh Gentuh, prosesi Mendem Pedagingan serta Ida Bhatara Tedun.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dengan pelaksanaan odalan di Pura Batur Sari Tampaksiring yang berlangsung hingga 15 Oktober 2026.
Panjang dan lengkapnya rangkaian tersebut menunjukkan bahwa sebuah karya besar di Bali bukan sekadar seremoni sehari atau dua hari. Di baliknya terdapat persiapan panjang, gotong royong, yadnya, kebersamaan, serta keterlibatan banyak unsur masyarakat adat.
Bagi Manukaya Let dan desa adat yang terlibat, karya ini menjadi perjalanan spiritual sekaligus perjalanan kebersamaan.
Di tengah geliat pariwisata Pura Tirta Empul yang mendatangkan manfaat ekonomi, masyarakat Manukaya Let menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi dan kelestarian adat budaya dapat berjalan beriringan.
Wisatawan datang membawa cerita dan pengalaman. Masyarakat memperoleh manfaat ekonomi. Sementara tradisi dan kesucian pura tetap dijaga.
Di situlah wajah Bali menemukan maknanya: pariwisata tumbuh, ekonomi bergerak, tetapi adat, budaya dan spiritualitas tetap menjadi akar yang tidak boleh tercerabut. (Tim)