BANGLI — Sebanyak 105 umat mengikuti pelayanan Pewintenan Gana atau Dasa Guna yang digelar di Pura Ulun Danu, Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Kamis (1/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Upacara Panca Bali Krama sekaligus wujud pengabdian kepada umat dalam memperkuat kesiapan spiritual untuk menjalankan tugas-tugas suci dalam kehidupan beragama dan adat.
Pewintenan yang berlangsung mulai pukul 15.00 Wita hingga selesai tersebut terlaksana atas kerja sama pengempon Pura Ulun Danu dengan Yayasan Sidhakarya Wali Nusantara bersama PHDI Kabupaten Gianyar.
Upacara tersebut memiliki makna mendalam karena Pewintenan Gana atau Dasa Guna bukan sekadar ritual penyucian diri, tetapi menjadi proses untuk menyucikan sekaligus membangkitkan sepuluh sifat luhur dalam diri seseorang agar memiliki kesiapan lahir dan batin dalam menjalankan tugas suci.
Melalui prosesi tersebut, umat diharapkan memiliki keteguhan dan kemampuan untuk mengemban berbagai bentuk pengabdian, baik sebagai Pemangku, Serati Banten, Balian, Dasaran maupun bentuk pengabdian dharma lainnya.
Secara khusus, Pewintenan Gana (Tapak Gana/Ganapati) merupakan tahapan lanjutan untuk memohon anugerah Bhatara Ganapati agar umat diberikan jejak, kekuatan dan jalan dalam menjalankan tugas-tugas rohani serta mampu menghadapi berbagai rintangan dalam pengabdian.
Dalam pemaknaannya, tapak berarti jejak atau pijakan, yakni permohonan agar diberikan jalan dan kekuatan untuk melangkah tanpa rintangan. Sementara Gana dimaknai sebagai pasukan suci Ganapati yang memiliki kekuatan untuk mengatasi berbagai halangan.
Adapun simbol Gajah atau Ganapati merepresentasikan kebijaksanaan, kekuatan dan keteguhan dalam menjalankan pelayanan serta pengabdian.
Prosesi Pewintenan Gana tersebut dipimpin Ida Rsi Baghawan Satya Darma dari Grhya Agung Kertha Bumi Mataram, bersama Ida Pandita Empu Siwa Putra Darma Daksa dan Ida Pandita Empu Darma Daksa Prami dari Grya Lingga Acala, Banjar Calo, Tegallalang, Gianyar.
Kehadiran para sulinggih tersebut memberikan tuntunan spiritual dalam pelaksanaan prosesi, sehingga umat yang mengikuti Pewintenan tidak hanya menjalani rangkaian upacara secara lahiriah, tetapi juga memahami makna pengabdian yang menjadi inti dari pelaksanaan tersebut.
Bukan Sekadar Upacara, tetapi Janji Suci Pengabdian
Pewintenan Dasa Guna pada hakikatnya tidak berhenti ketika prosesi upacara selesai. Lebih dari itu, pewintenan menjadi sebuah janji suci bagi umat untuk menjalani kehidupan dengan nilai-nilai kebajikan dan pengabdian.
Penyucian diri menjadi landasan agar seseorang layak melayani. Keteguhan hati menjadi kekuatan agar tidak mudah goyah dalam menjalankan tugas. Sementara permohonan restu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa menjadi bagian penting agar setiap langkah dalam pengabdian senantiasa mendapatkan tuntunan dan keberkahan.
Karena itu, pengabdian yang lahir dari Pewintenan Dasa Guna diharapkan bukan berorientasi pada kepentingan pribadi, melainkan ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama umat, serta kelestarian adat, budaya, agama dan dharma.
Dasa Guna dimaknai sebagai sepuluh jalan kebajikan, sedangkan Gana menjadi kekuatan untuk melangkah tanpa rintangan. Nilai tersebut diharapkan menjadi pegangan bagi seluruh umat yang telah menjalani pewintenan dalam melaksanakan tugas dan pengabdian di tengah masyarakat.
Yayasan Sidhakarya Wali Nusantara melalui kegiatan pelayanan umat tersebut turut mengambil bagian dalam menjaga keberlanjutan tradisi keagamaan sekaligus memberikan ruang bagi umat untuk memperoleh tuntunan spiritual dalam menjalankan pengabdian.
Yayasan Sidhakarya Wali Nusantara beralamat di Jalan Tukad Batanghari VII, depan Kampus Atro Bali, Renon, Denpasar. Yayasan ini memiliki Pembina DR. Drs. I Ketut Suardana, M.Phil.H., Ketua Umum DR. I Wayan Adnyana, SH., MH., Ketua I Pinandita Anak Agung Putu Putra Yadnya, Ketua II Pinandita I Nyoman Alit Rinartha, serta Sekretaris Pinandita I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag.
Melalui pelayanan tersebut, diharapkan 105 umat yang telah menjalani Pewintenan Gana mampu mengimplementasikan nilai-nilai kesucian dan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Bukan hanya menjadi pribadi yang lebih teguh secara spiritual, tetapi juga menjadi pelayan umat yang jujur, tulus, bertanggung jawab dan mampu membawa berkah bagi sesama.
Pada akhirnya, Pewintenan Gana menjadi pengingat bahwa setiap jalan pengabdian membutuhkan kesucian niat, keteguhan hati dan ketulusan untuk melayani.
“Semoga yang menerima pewintenan ini menjadi pelayan yang jujur, tulus, dan membawa berkah bagi seluruh umat.” (Tim)