Gianyar, BerandaBali. Id – Di balik sosok calon Perbekel Desa Tulikup periode 2026–2034, Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., yang akrab disapa Tut Lengoh, ternyata tersimpan perjalanan panjang tentang pengabdian, kemandirian, usaha, dan kepedulian terhadap sesama.
Calon Perbekel Tulikup nomor urut 3 ini tidak hanya dikenal karena pengalaman panjangnya sebagai aparatur sipil negara dan dokter hewan, tetapi juga memiliki sisi lain yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat. Salah satunya adalah jiwa kewirausahaan yang telah tumbuh sejak masih muda dan kemudian berjalan beriringan dengan semangat pengabdiannya kepada masyarakat.
Tut Lengoh mengisahkan, jiwa usaha tersebut mulai tumbuh sejak sekitar tahun 1995. Dari usaha kecil-kecilan, perlahan dirinya mulai membangun sejumlah kegiatan usaha yang berkembang dari waktu ke waktu.
Namun, ketika kemudian memilih menjadi abdi negara, ia menempatkan profesinya sebagai birokrat dan dokter hewan sebagai prioritas utama.
“Sesungguhnya dari kecil saya memang memiliki jiwa wirausaha. Tahun 1995 saya sudah mencoba usaha kecil-kecilan,” tutur Tut Lengoh.
Seiring perjalanan kariernya sebagai PNS, ia tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat melalui profesinya sebagai dokter hewan. Untuk menunjang kebutuhan profesinya, ia juga pernah mengembangkan usaha kecil seperti penyediaan makanan ternak dan obat-obatan, yang kemudian berkembang ke bidang usaha lainnya, termasuk distribusi bahan bangunan.
Namun, ketika tanggung jawab sebagai aparatur negara semakin besar, aktivitas usaha tersebut tidak lagi ditanganinya secara langsung.
Ia memilih menyerahkan pengelolaannya kepada sang istri, sementara dirinya fokus menjalankan tugas sebagai birokrat.
“Ketika harus seiring dengan posisi dan jabatan di instansi, aktivitas usaha itu sepenuhnya saya berikan kepada istri. Saya tetap aktif sebagai birokrat yang tulen,” ungkapnya.
Birokrat Tulen, Menjaga Integritas hingga Purna Tugas
Bagi Tut Lengoh, menjadi birokrat bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah bentuk pengabdian.
Ia mengaku memiliki obsesi untuk menjadi birokrat yang tulen dan sejati, sehingga aktivitas di luar tugas kedinasan tidak boleh mengganggu profesionalitas dan integritasnya sebagai abdi negara.
Prinsip tersebut terus dipegang hingga memasuki masa purna tugas.
Sekitar empat tahun lalu setelah pensiun, Tut Lengoh kembali mengoptimalkan sejumlah usaha yang sebelumnya dikelola keluarga, termasuk usaha bahan bangunan dan usaha lainnya.
Dari perjalanan usaha tersebut, ia kemudian semakin memahami bahwa rezeki yang diperoleh tidak semata-mata untuk dinikmati sendiri.
Baginya, selalu ada bagian yang dapat disisihkan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
“Ketika menikmati rezeki, kita juga harus memberikan kepada orang yang memang membutuhkan. Walaupun kecil, tetapi ada nilai rasa kemanusiaan di dalamnya,” katanya.
Berbagi Bukan Karena Berlebih, Tetapi Karena Peduli
Kepedulian terhadap sesama kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya.
Tut Lengoh tidak hanya bergerak sendiri. Ia juga bergabung dengan sejumlah kelompok dan lembaga yang memiliki perhatian terhadap kegiatan sosial dan kemanusiaan, termasuk Yayasan Renodala, yayasan yatim piatu, serta berbagai kegiatan sosial lainnya.
Menurutnya, membantu sesama tidak harus menunggu menjadi orang yang benar-benar berkecukupan.
Sebab, ukuran sebuah kepedulian bukan semata-mata dilihat dari besarnya bantuan yang diberikan, tetapi dari ketulusan dan rasa kemanusiaan yang melandasinya.
Dari sinilah kemudian muncul pemikiran yang lebih besar. Jika suatu saat diberikan kesempatan untuk mengabdi dalam ruang pemerintahan desa, ia ingin memperluas semangat kemanusiaan tersebut melalui kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
Terutama bagi masyarakat miskin dan kurang mampu, anak-anak yang membutuhkan dukungan pendidikan, para lansia, kelompok rentan, masyarakat yang sedang sakit hingga penyandang disabilitas.
“Yang menjadi kepuasan bagi saya adalah ketika bisa berbagi. Dengan satu kebijakan, seribu manfaat bisa dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Satu Kebijakan, Seribu Manfaat
Kalimat tersebut menjadi salah satu filosofi yang ingin dibawanya apabila mendapat kepercayaan masyarakat Tulikup.
Menurut Tut Lengoh, kebijakan pemerintahan desa seharusnya tidak berhenti pada program administratif semata. Kebijakan harus mampu menghadirkan manfaat nyata dan menyentuh kehidupan masyarakat.
Ia ingin agar keberpihakan kepada kelompok yang membutuhkan tidak hanya dilakukan melalui bantuan sesaat, tetapi dibangun dalam sistem dan kebijakan yang berkelanjutan.
Dengan demikian, masyarakat yang berada dalam kondisi sulit tetap memiliki ruang untuk bangkit dan memperoleh kesempatan yang lebih baik.
“Kesulitan orang lain harus bisa kita rasakan sebagai kesulitan kita. Ketika kita memiliki sesuatu yang lebih, kita harus memberikan kepada orang yang membutuhkan,” tegasnya.
Mengabdikan Sisa Hidup
Keputusan Tut Lengoh untuk maju dalam kontestasi Pilkel Tulikup juga tidak terlepas dari perjalanan panjang pengabdiannya.
Setelah hampir 32 tahun mengabdi, ia merasa masih memiliki energi dan keinginan untuk memberikan sesuatu yang lebih besar kepada masyarakat.
Ia menyebut kesempatan untuk mengabdikan diri tidak selalu datang dua kali. Karena itu, ketika ruang tersebut terbuka, ia tidak ingin menyia-nyiakannya.
Baginya, pencalonan sebagai Perbekel bukan semata-mata tentang jabatan.
Lebih jauh, ia ingin mewakafkan sisa hidupnya untuk masyarakat.
“Setelah mengabdi hampir 32 tahun, saya ingin sisa-sisa hidup ini tetap bisa berbuat untuk masyarakat. Itu yang saya wakafkan,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan bagaimana Tut Lengoh memandang fase kehidupannya saat ini.
Bukan lagi sekadar mengejar pencapaian pribadi, tetapi bagaimana pengalaman, pengetahuan, jejaring, dan apa yang dimilikinya dapat dikonversi menjadi manfaat bagi masyarakat.
Warisan Terbaik Bukan Harta, Melainkan Manfaat
Ada satu prinsip yang cukup kuat dalam pemikiran Tut Lengoh: manusia pada akhirnya tidak hanya dinilai dari apa yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang pernah diberikan kepada orang lain.
Ia ingin meninggalkan apa yang disebutnya sebagai “warisan tak benda”.
Warisan tersebut bukan sekadar aset atau materi yang kelak diteruskan kepada anak dan cucu, melainkan nilai kehidupan berupa kepedulian, kemanusiaan, dan kebiasaan untuk membantu sesama.
“Pada prinsipnya, saya ingin memberikan sesuatu kepada anak dan cucu, kepada generasi berikutnya. Warisan tak benda itu diharapkan memberikan kemudahan bagi anak dan cucu di kemudian hari,” tuturnya.
Bagi Tut Lengoh, menikmati kehidupan bukan berarti menumpuk sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri. Ada kepuasan yang jauh lebih besar ketika sebagian rezeki dan kesempatan yang dimiliki mampu membuka jalan bagi orang lain.
Di titik itulah perjalanan hidupnya sebagai birokrat, dokter hewan, pengusaha sekaligus seorang yang memiliki kepedulian sosial bertemu dalam satu garis besar: pengabdian.
Kini, di tengah tahapan Pilkel Tulikup 2026, Tut Lengoh hadir dengan nomor urut 3 dan membawa pengalaman panjang tersebut sebagai bekal.
Bukan hanya pengalaman mengelola pemerintahan dan memahami birokrasi, tetapi juga pengalaman melihat kehidupan masyarakat dari dekat—tentang mereka yang memiliki kesempatan, mereka yang sedang berjuang, dan mereka yang membutuhkan uluran tangan.
Sebab, bagi Tut Lengoh, pada akhirnya jabatan hanyalah sebuah kesempatan.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kesempatan itu digunakan untuk menghadirkan manfaat.
“Satu kebijakan, seribu manfaat.”
Sebuah kalimat yang menggambarkan keinginannya menjadikan pengabdian bukan sekadar slogan, melainkan jalan untuk meninggalkan jejak kebaikan bagi masyarakat Tulikup. (Tim)