Pasang Badan Lindungi Sawah Sindu: Kesumawijaya calon kades sayan “Vila Boleh Tumbuh, Tapi Subak Tak Boleh Mati!

Gianyar, BerandaBali, id –  Suara tegas soal masa depan sawah dan Subak Sindu menggema dari Banjar Sindu, Desa Sayan, Kecamatan Ubud. Calon Perbekel Desa Sayan nomor urut 1, I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag., menyatakan tidak ingin pembangunan mengorbankan lahan pertanian dan sistem irigasi yang selama ini menjadi denyut kehidupan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Kesumawijaya saat Simakrama di Banjar Sindu, Jumat (11/9/2026) malam, dalam agenda serapan aspirasi masyarakat.

Mengusung konsep “Dedikasi Murni Mewujudkan Tri Hita Siddhi Sayan Bersinar”, Kesumawijaya menjadikan perlindungan Subak dan pengendalian alih fungsi lahan sebagai salah satu agenda penting apabila dipercaya memimpin Desa Sayan.

Bagi Kesumawijaya, persoalan sawah bukan sekadar persoalan tanah.

Ini persoalan air. Persoalan pangan. Persoalan petani. Persoalan adat. Bahkan persoalan masa depan Desa Sayan.

“Subak adalah jantung Desa Sayan. Kalau sawah dialihfungsikan secara sembarangan, yang kita korbankan bukan hanya tanah. Kita bisa kehilangan air, lingkungan, ketahanan pangan dan warisan leluhur kita,” tegasnya.

“Tanah Boleh Milik Pribadi, Tapi Fungsi Sawah Menyangkut Kepentingan Bersama”

Kesumawijaya menyoroti ancaman alih fungsi lahan pertanian menjadi vila, bangunan maupun kegiatan usaha yang tidak sesuai peruntukan.

Menurutnya, perkembangan pariwisata dan pembangunan di Sayan memang tidak mungkin dihentikan. Namun, pembangunan harus memiliki batas yang jelas.

Jangan sampai sawah dikorbankan demi beton.

Ia menegaskan, lahan pertanian yang masuk kawasan perlindungan harus dijaga sesuai ketentuan hukum, tata ruang, kelembagaan Subak dan aturan adat.

“Tanah memang milik pribadi. Tetapi ketika tanah itu berada dalam sistem Subak, ada kepentingan bersama yang melekat di sana. Ada air yang mengalir ke lahan petani lain. Ada sistem irigasi. Ada kehidupan masyarakat. Karena itu, tidak bisa seenaknya diubah menjadi bangunan,” ujarnya.

READ  Berkarya di Pura Ibu Panti Bualu, Wabup Badung Hargai Semangat Kerjasama 

Menurut Kesumawijaya, masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal atau ruang usaha tetap harus diberikan solusi.

Namun solusinya bukan dengan mengorbankan sawah.

“Mau membangun, mari kita cari lahan yang memang diperbolehkan untuk dibangun. Jangan sawah yang dikorbankan,” tegasnya.

Lima Langkah, Bukan Sekadar Janji Kampanye

Kesumawijaya tidak berhenti pada slogan. Dalam forum tersebut, ia memaparkan lima langkah yang akan menjadi arah kebijakan jika mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Pertama, memetakan dan memperjelas status lahan.

Desa harus memiliki data yang jelas mengenai luas sawah, kepemilikan, jaringan irigasi serta titik-titik yang rawan terhadap alih fungsi.

Peta kawasan harus terbuka dan mudah diketahui masyarakat.

Kedua, memperkuat Subak.

Pekaseh dan pengurus Subak tidak boleh hanya menjadi pelengkap.

Menurut Kesumawijaya, Subak harus diperkuat sebagai bagian penting dalam pengawasan kawasan pertanian dan irigasi.

Ia juga mendorong setiap rencana pembangunan yang bersinggungan dengan kawasan Subak untuk terlebih dahulu memperhatikan rekomendasi kelembagaan Subak dan mengikuti seluruh prosedur perizinan yang berlaku.

Ketiga, pengawasan harus berjalan.

Kesumawijaya menawarkan pola pengendalian berjenjang. Jika ditemukan dugaan pelanggaran, pemerintah desa bersama unsur terkait turun ke lokasi, melakukan pendataan dan memberikan peringatan sesuai kewenangan.

Jika tidak diindahkan, persoalan dapat diteruskan melalui mekanisme adat dan dilaporkan kepada instansi yang memiliki kewenangan penegakan.

“Perbekel tidak boleh tutup mata. Kalau ada pelanggaran, harus ditegur dan dilaporkan sesuai kewenangan. Jangan ada izin diam-diam, jangan ada pembiaran dan jangan ada yang ditutup-tutupi,” katanya.

Jangan Cuma Melarang, Petani Harus Dibuat Sejahtera

Kesumawijaya juga menyadari satu persoalan besar: mengapa sebagian masyarakat akhirnya tergoda menjual atau mengalihfungsikan sawah?

Jawabannya tidak cukup dengan aturan.

Petani harus mendapatkan alasan ekonomi untuk tetap mempertahankan sawah.

READ  FKUB dan GOW Badung Berkolaborasi Perkuat Toleransi Berbasis Keluarga

Karena itu, selain perlindungan lahan, ia mendorong penguatan ekonomi pertanian melalui peningkatan produktivitas, dukungan kepada petani, pemasaran hasil pertanian dan peningkatan nilai ekonomi komoditas.

“Kalau kita ingin sawah tetap ada, petaninya juga harus sejahtera. Jangan hanya mengatakan jangan jual sawah, tetapi kita tidak memberikan jalan agar petani bisa hidup lebih baik dari sawahnya,” ungkapnya.

Menurutnya, inilah makna pembangunan yang seimbang.

Desa boleh maju. Pariwisata boleh berkembang. Investasi boleh masuk. Tetapi sawah tidak boleh menjadi tumbal.

Perdes dan Pararem Jadi Benteng

Langkah lain yang ditawarkan adalah memperkuat perlindungan melalui Peraturan Desa dan aturan adat.

Kesumawijaya mendorong pembahasan Perdes Perlindungan Lahan Pertanian dan Irigasi melalui mekanisme musyawarah desa.

Sementara di ranah adat, penguatan aturan dapat dilakukan melalui Pararem sesuai mekanisme Desa Adat.

Dengan demikian, perlindungan Subak tidak hanya menjadi janji seorang calon Perbekel, tetapi menjadi kesepakatan bersama masyarakat.

“Saya Pilih Berdiri di Sisi Sawah”

Di hadapan masyarakat Banjar Sindu, Kesumawijaya menyampaikan pesan yang menjadi garis besar perjuangannya.

Ia ingin Desa Sayan tumbuh tanpa kehilangan identitas.

Ia ingin pembangunan berjalan tanpa memutus irigasi.

Ia ingin pariwisata berkembang tanpa membuat petani kehilangan ruang hidup.

Dan ia ingin modernisasi tidak membuat Sayan lupa pada Subak dan adatnya.

“Saya ingin Sayan maju, tetapi bukan maju dengan mengorbankan sawah. Saya ingin pembangunan berjalan, tetapi Subak tetap hidup. Saya ingin pariwisata berkembang, tetapi petani tetap punya masa depan,” tegasnya.

Kemudian ia menutup gagasannya dengan sebuah prinsip yang menurutnya harus menjadi komitmen bersama:

“Sawah tetap sawah. Air tetap mengalir. Subak tetap ajeg. Menjaga Subak berarti menjaga kesejahteraan masyarakat, menjaga adat dan menjaga Tri Hita Karana.”

READ  Kontribusi Nyata LPD Semana  ke Desa Adat, STT dan Sekolah Kini Mampu Tumbuhkan  Aset Rp15 Miliar

Bagi Kesumawijaya, Sayan Bersinar bukanlah Sayan yang dipenuhi beton.

Sayan Bersinar adalah Sayan yang mampu berkembang tanpa kehilangan sawah, maju tanpa memutus air, dan modern tanpa mencabut akar adat serta budaya masyarakatnya.

Sebab ketika Subak mati, yang hilang bukan hanya sawah. Yang hilang adalah sebagian dari wajah Sayan itu sendiri. (Tim)

Populer

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10

Terbaru

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10