Perkuat Benteng Perlindungan Anak, Orang Tua dan Guru, DP3AP2KB  Gianyar Dibekali Manajemen Kasus Kekerasan

Gianyar,BerandaBali.id — Perlindungan terhadap anak tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah.

Mata dan telinga pertama yang berada paling dekat dengan anak adalah keluarga dan lingkungan sekolah.

Karena itu, pemahaman orang tua dan guru menjadi bagian penting dalam mencegah sekaligus menangani kekerasan terhadap anak.

Hal tersebut menjadi perhatian Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Gianyar dengan menggelar Pelatihan Manajemen Kasus dan Penanganan Kekerasan pada Anak, Rabu (23/9/2026), di Hotel Gianyar, Jalan Manik, Gianyar.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut diikuti para orang tua murid SMP serta Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMP se-Kabupaten Gianyar.

Pelatihan diarahkan untuk memperkuat kapasitas peserta dalam mengenali, mencegah dan menangani kasus kekerasan terhadap anak, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan satuan pendidikan.

Sejumlah narasumber dihadirkan untuk memberikan pemahaman dari sisi hukum maupun psikologis.

Dari Kepolisian Daerah Bali hadir I Ketut Edi Susila, S.H., PS. Kanit 2 Subdit IV Ditreskrimum Polda Bali, sementara perspektif psikologi disampaikan Nena Mawar Sari, S.Psi., Psikolog., Cht., psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Bali.

Kepala DP3AP2KB Kabupaten Gianyar, Ni Ketut Widiastuti, SE., MM., mengatakan pelatihan tersebut menjadi ruang untuk menyamakan persepsi antara orang tua, guru dan pihak terkait mengenai langkah pencegahan serta penanganan kekerasan terhadap anak.

Menurutnya, kekerasan terhadap anak merupakan persoalan nyata yang bisa terjadi di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Karena itu, pencegahan harus dilakukan sedini mungkin dan tidak boleh menunggu hingga sebuah kasus menjadi besar.

“Kekerasan itu seperti gunung es. Yang terlihat mungkin hanya sebagian, sementara masih ada kasus yang tidak terlihat atau tidak dilaporkan. Kita tidak mungkin berharap kasus menjadi nol, tetapi bagaimana kita bisa mencegah dan menekan kasus sekecil mungkin,” ujarnya.

READ  Ketut Sudarsana, Ketua DPRD Gianyar Sampaikan Dukacita atas Wafatnya Guruh Soekarnoputra: Bangsa Kehilangan Sosok Seniman dan Pejuang

Ia mengungkapkan, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 30 kasus, dengan 23 kasus di antaranya merupakan kasus terhadap anak.

Data tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah untuk terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak di Kabupaten Gianyar.

Widiastuti menegaskan, pencegahan dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan, pola asuh yang baik serta langkah-langkah preventif yang melibatkan seluruh pihak.

Orang tua dan guru, kata dia, memiliki posisi strategis karena menjadi pihak yang berinteraksi langsung dengan anak setiap hari.

Kepekaan dalam melihat perubahan perilaku anak menjadi salah satu pintu awal untuk mendeteksi adanya persoalan.

“Pencegahan bisa kita minimalisir melalui pemahaman, pola asuh yang baik dan langkah-langkah preventif. Orang tua dan guru juga menjadi penghubung penting dalam memberikan informasi apabila menemukan atau mengetahui adanya indikasi kekerasan terhadap anak,” katanya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak, tetapi juga dibekali pengetahuan mengenai tahapan penanganan kasus.

Peserta diajak memahami bagaimana mengenali kondisi anak, merespons laporan, serta menentukan langkah yang tepat ketika menemukan dugaan kekerasan.

Hal ini dinilai penting agar penanganan tidak justru menimbulkan persoalan baru bagi anak.

Pendekatan yang tepat diperlukan agar anak yang menjadi korban tetap mendapatkan rasa aman, pendampingan dan perlindungan.

DP3AP2KB Kabupaten Gianyar melalui unit pelayanan teknis daerah juga memiliki peran dalam memberikan penanganan dan pendampingan terhadap anak yang membutuhkan perlindungan.

Namun, upaya tersebut tidak akan maksimal tanpa dukungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Karena itu, sinergi menjadi kata kunci. Pemerintah menyediakan sistem dan layanan perlindungan, sementara orang tua, guru dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mendeteksi dini sekaligus mencegah terjadinya kekerasan.

READ  Bersepeda Bersama Komunitas, Bupati Sanjaya Tinjau Pembangunan Penataan Area Kota Singasana

“Harapan kami, kegiatan ini dapat membantu kami dalam pencegahan kekerasan terhadap anak. Dengan adanya pemahaman yang sama antara orang tua dan guru, kita bisa lebih cepat melakukan pencegahan maupun penanganan ketika menemukan permasalahan,” pungkas Widiastuti.

Melalui pelatihan tersebut, DP3AP2KB Gianyar berharap terbentuk pemahaman bersama bahwa melindungi anak bukan sekadar tugas satu instansi.

Perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama, agar setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat dan bebas dari kekerasan. (Tim)

Populer

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10

Terbaru

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10