Beranda Bali id

Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum.: Menjaga Akar Budaya, Mengawal Transformasi Pendidikan Tinggi Bali

DENPASAR | Berandabali.id — Dunia pendidikan tinggi Bali memiliki sejumlah tokoh yang perjalanan pengabdiannya tidak hanya diukur dari jabatan, tetapi dari jejak panjang dalam membangun lembaga, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta menyiapkan generasi penerus. Salah satunya adalah Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum.

Guru Besar bidang sastra dan linguistik ini merupakan akademisi, penulis, sekaligus pimpinan perguruan tinggi yang perjalanan kariernya tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang IKIP PGRI Bali hingga berkembang menjadi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali.

Lahir di Denpasar pada 25 Oktober 1962, I Made Suarta menapaki dunia akademik sejak menjadi dosen di IKIP PGRI Bali. Dari ruang kelas, perjalanan pengabdiannya kemudian berkembang ke ranah manajemen perguruan tinggi hingga dipercaya memimpin institusi tersebut selama bertahun-tahun.

Pada 2010, ia dipercaya sebagai Rektor IKIP PGRI Bali. Ketika lembaga tersebut bertransformasi menjadi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia pada 2020, Suarta dipercaya menjadi rektor pertama universitas tersebut.

Kepercayaan itu kembali diberikan kepadanya. Pada 1 Oktober 2024, ia dikukuhkan kembali sebagai Rektor UPMI Bali untuk masa jabatan 2024–2029.

Dari Ruang Kelas hingga Puncak Kepemimpinan

Perjalanan Prof. I Made Suarta menunjukkan bahwa kepemimpinan akademik tidak lahir secara tiba-tiba. Sebelum berada di pucuk pimpinan perguruan tinggi, ia melewati berbagai tahapan dan pengalaman di lingkungan kampus.

Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Program Studi D2 Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak dan kemudian menjabat Wakil Rektor II. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting sebelum akhirnya mendapat amanah sebagai rektor.

Selama memimpin, tantangan yang dihadapi bukan sekadar mengelola aktivitas akademik sehari-hari. Perguruan tinggi dituntut terus beradaptasi terhadap perubahan zaman, perkembangan teknologi, kebutuhan dunia kerja, serta tuntutan masyarakat.

Di tengah perubahan itu, Suarta ikut mengawal perjalanan kelembagaan dari sebuah institut keguruan menjadi universitas dengan cakupan bidang pendidikan yang lebih luas.

Transformasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dari rekam jejak kepemimpinannya.

Pendidikan yang Membentuk Cara Pandang

Latar belakang pendidikan Suarta juga memperlihatkan perjalanan intelektual yang cukup beragam.

Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP PGRI Bali pada 1989. Setelah itu, ia menempuh pendidikan hukum di Universitas Mahendradatta dan memperoleh gelar Sarjana Hukum pada 1994.

Ketertarikannya terhadap bahasa, sastra, dan kajian wacana kemudian membawanya melanjutkan pendidikan Magister Linguistik dengan konsentrasi Wacana Sastra di Universitas Udayana. Gelar M.Hum. diraihnya pada 2003.

Perjalanan akademiknya berlanjut hingga jenjang doktoral di bidang linguistik dan wacana sastra di Universitas Udayana yang diselesaikan pada 2009.

Rangkaian pendidikan tersebut membentuk perpaduan perspektif antara pendidikan, bahasa, sastra, hukum, dan pengelolaan institusi.

Pada 2023, perjalanan akademiknya mencapai salah satu tonggak penting ketika ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap bidang sastra.

Mengawal Transformasi IKIP PGRI Bali

Salah satu catatan penting dalam perjalanan Prof. I Made Suarta adalah keterlibatannya dalam proses transformasi IKIP PGRI Bali menjadi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia.

Perubahan bentuk kelembagaan tersebut merupakan bagian dari upaya menjawab perkembangan pendidikan tinggi dan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.

Transformasi itu dilakukan melalui penggabungan dengan STMIK Denpasar. Dari proses tersebut kemudian lahir universitas yang memiliki cakupan keilmuan lebih luas.

Dalam perkembangan selanjutnya, UPMI juga memperkuat bidang akademiknya dengan hadirnya Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Magister pada 2021 dan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada 2022.

Bagi Suarta, perkembangan perguruan tinggi bukan semata tentang perubahan nama atau status kelembagaan. Lebih jauh, transformasi harus diikuti peningkatan mutu pendidikan, kualitas sumber daya manusia, serta kemampuan perguruan tinggi memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kampus yang Berakar pada Budaya

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, Suarta memiliki pandangan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh kehilangan akar budayanya.

Hal itu tercermin dalam arah pengembangan UPMI dengan visi “Unggul Berbasis Budaya dan Sistem Informasi Berorientasi Global 2030.”

Gagasan tersebut mempertemukan dua hal yang sering dianggap berseberangan: menjaga identitas budaya sekaligus membuka diri terhadap perkembangan teknologi dan dunia global.

Pendidikan, menurut pendekatan tersebut, tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kecerdasan intelektual. Perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab membentuk manusia yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, karakter, dan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh gelar, tetapi juga ruang untuk membangun manusia yang mampu menggunakan ilmunya dalam kehidupan nyata.

Ilmu yang Harus Berbuah Karya

Pandangan tersebut tercermin dalam pesan yang pernah disampaikan Suarta dalam kegiatan wisuda UPMI pada 2026.

“Gelar ini bukan untuk dipajang, tapi untuk dibuktikan dengan karya.”

Pesan sederhana tersebut menggambarkan orientasi pendidikan yang tidak berhenti pada pencapaian akademik.

Gelar merupakan awal dari tanggung jawab baru. Setelah meninggalkan kampus, seorang sarjana dituntut mampu mengubah pengetahuan menjadi gagasan, gagasan menjadi tindakan, dan tindakan menjadi sesuatu yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari berapa banyak lulusan yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa besar kontribusi para alumninya di tengah masyarakat.

Akademisi dan Penulis

Selain dikenal sebagai pimpinan perguruan tinggi, Prof. I Made Suarta juga aktif sebagai akademisi dan penulis.

Sejumlah karya yang dikaitkan dengan bidang keahliannya antara lain Pengantar Bahasa dan Sastra Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya serta Teori Sastra dan Keterampilan Membaca Sastra.

Karya-karya tersebut menjadi bagian dari kontribusinya dalam pengembangan literasi dan pembelajaran bahasa serta sastra Indonesia.

Aktivitas akademik dan publikasinya juga tercatat dalam berbagai basis data penelitian dan publikasi ilmiah.

Bagi seorang akademisi, menulis bukan sekadar aktivitas menghasilkan buku atau karya ilmiah. Menulis merupakan cara untuk menyimpan gagasan agar dapat dibaca, dikaji, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

Pendidikan yang Menyentuh Masyarakat

Kampus yang kuat tidak hanya hidup di balik pagar perguruan tinggi. Ia harus hadir di tengah masyarakat.

Semangat tersebut antara lain terlihat dalam kegiatan pengabdian masyarakat dan KKN Tematik UPMI.

Salah satu kegiatan yang pernah dilakukan adalah kerja sama dengan KPU Kota Denpasar dalam mendukung pendidikan politik dan partisipasi masyarakat pada momentum Pilkada 2024.

UPMI juga terlibat dalam pembinaan desa adat berbasis digital, salah satunya di Desa Adat Silakarang Kederi, Gianyar.

Kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Mahasiswa tidak hanya belajar dari buku dan ruang kuliah, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dari kehidupan sosial.

Kepemimpinan yang Dibangun Bersama

Perjalanan panjang Prof. I Made Suarta tentu tidak berdiri sendiri.

Transformasi sebuah perguruan tinggi membutuhkan kerja bersama antara yayasan, PGRI, pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta berbagai pemangku kepentingan.

Dukungan YPLP PT IKIP PGRI Bali dan sivitas akademika menjadi bagian penting dalam perjalanan perubahan kelembagaan tersebut.

Begitu pula jejaring dengan perguruan tinggi, organisasi pendidikan, dan lembaga terkait turut menjadi bagian dari ekosistem yang menopang perkembangan UPMI.

Karena itu, keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak semestinya diletakkan hanya pada satu figur. Pemimpin mungkin menjadi pengarah perjalanan, tetapi seluruh sivitas akademika adalah bagian dari tenaga yang menggerakkan kapal pendidikan tersebut.

Pengabdian di Luar Kampus

Di luar aktivitas akademik dan kepemimpinan universitas, Suarta juga tercatat memiliki keterlibatan dalam sejumlah organisasi dan lembaga pendidikan.

Ia antara lain dipercaya sebagai Pembina Yayasan Dharma Sunu Mandare, Pembina YPLP Dasmen PGRI Bali, serta pernah tercatat sebagai Bendahara APTISI Wilayah A Bali.

Berbagai peran tersebut memperlihatkan bahwa aktivitasnya tidak hanya berputar di lingkungan kampus, tetapi juga bersentuhan dengan ekosistem pendidikan yang lebih luas.

Menjaga Tradisi, Menatap Masa Depan

Jika perjalanan Prof. I Made Suarta dirangkum dalam satu garis besar, maka ia merupakan perjalanan dari ruang kelas menuju ruang pengabdian yang lebih luas.

Dari seorang mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra, kemudian menjadi dosen, pengelola program studi, wakil rektor, rektor, guru besar, penulis, sekaligus bagian dari proses transformasi institusi pendidikan tinggi di Bali.

Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa dunia pendidikan selalu bergerak.

Teknologi berubah. Kebutuhan masyarakat berubah. Dunia kerja berubah. Namun satu hal tetap menjadi fondasi: pendidikan harus mampu membentuk manusia yang berilmu, berkarakter, memiliki identitas budaya, dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.

Di situlah relevansi gagasan tentang kampus yang berakar pada budaya tetapi berorientasi global.

Jejak yang Ditinggalkan

Pada akhirnya, ukuran seorang akademisi tidak hanya berada pada panjangnya daftar gelar, jabatan, atau penghargaan yang diperoleh.

Ukuran yang lebih bermakna adalah jejak.

Berapa banyak mahasiswa yang pernah dibimbing. Berapa banyak gagasan yang ditulis. Berapa banyak lembaga yang ikut dibangun. Dan seberapa besar ilmu yang dimiliki mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Prof. Dr. Drs. I Made Suarta merupakan bagian dari perjalanan panjang pendidikan tinggi di Bali. Dari IKIP PGRI Bali hingga Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, namanya tercatat dalam sebuah fase transformasi yang membawa lembaga pendidikan tersebut memasuki babak baru.

Kini, perjalanan itu terus berlanjut.

Bukan sekadar mempertahankan apa yang telah dibangun, tetapi memastikan agar ilmu, budaya, teknologi, dan karakter dapat berjalan bersama menuju masa depan.

Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir, gelar akan melekat sebagai identitas akademik, tetapi karya dan manfaat bagi generasi berikutnya adalah warisan yang akan terus hidup.

Catatan Redaksi

Profil ini disusun berdasarkan informasi dan sumber terbuka yang berkaitan dengan perjalanan pendidikan, karier akademik, kepemimpinan, karya, serta aktivitas publik Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum.

Informasi mengenai kehidupan pribadi dan keluarga yang tidak tersedia secara memadai dalam sumber publik tidak dikembangkan untuk menjaga akurasi sekaligus menghormati privasi tokoh.

Tulisan ini merupakan bagian dari dokumentasi DESA SMART dalam mengangkat tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi dan gagasan bagi pendidikan, kebudayaan, kehidupan sosial, ekonomi, pemerintahan, serta pembangunan masyarakat.  (Tim Beranda Bali)

Populer

Belum Semua Rakyat Sejahtera, Anggota DPR Kariyasa Adnyana Soroti Kinerja Pemerintah

163 Pejabat Pemkab Badung Dilantik, Adi Arnawa Tekankan Integritas dan Kinerja

Rumah Pengupas Bawang di Bogor Dipasangi Garis Polisi, Warga Batasi Akses Setelah Viral

Wisatawan Sudah Bayar PWA, Tapi Bali Dapat Apa? Ini Pekerjaan Rumahnya

Imigrasi Denpasar Buru Tiga WNA yang Viral Diusir dari Gym Ubud, Disebut Warga Israel Ternyata Gunakan Paspor Bulgaria

Terbaru

Belum Semua Rakyat Sejahtera, Anggota DPR Kariyasa Adnyana Soroti Kinerja Pemerintah

163 Pejabat Pemkab Badung Dilantik, Adi Arnawa Tekankan Integritas dan Kinerja

Rumah Pengupas Bawang di Bogor Dipasangi Garis Polisi, Warga Batasi Akses Setelah Viral

Wisatawan Sudah Bayar PWA, Tapi Bali Dapat Apa? Ini Pekerjaan Rumahnya

Imigrasi Denpasar Buru Tiga WNA yang Viral Diusir dari Gym Ubud, Disebut Warga Israel Ternyata Gunakan Paspor Bulgaria