GIANYAR | Berandabali. Id– Dukungan terhadap calon Perbekel Desa Tulikup nomor urut 3, Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A. atau akrab disapa Tut Lengoh, terus mengalir.
Kali ini, dukungan datang dari dua tokoh Puri Tulikup, Anak Agung Sri Maryastuti dan Anak Agung Gede Mayun, SH, yang memberikan dukungan penuh terhadap salah satu gagasan unggulan Tut Lengoh, yakni program “Satu Rumah Satu Sapi”.
Bagi kedua tokoh tersebut, program ini bukan sekadar gagasan tentang peternakan, melainkan sebuah konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dinilai memiliki potensi besar apabila dikelola secara serius, terencana dan berkelanjutan.
Program “Satu Rumah Satu Sapi” dinilai mampu membuka ruang baru bagi keluarga di Desa Tulikup untuk memiliki sumber pendapatan produktif sekaligus menghidupkan kembali potensi peternakan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.
Dukungan tersebut juga tidak terlepas dari latar belakang Tut Lengoh sebagai dokter hewan dan akademisi, yang dinilai memiliki pengetahuan teknis untuk mengembangkan sektor peternakan secara lebih modern, sehat dan bernilai ekonomi.
Bukan Sekadar Memberikan Sapi
Gagasan “Satu Rumah Satu Sapi” yang ditawarkan Tut Lengoh memang tidak dirancang sebagai program bagi-bagi sapi semata.
Konsep yang dibangun adalah pemberdayaan berbasis kemitraan, mulai dari penyediaan bibit ternak, pakan, kesehatan hewan, pendampingan peternak, pengelolaan kandang hingga pemasaran.
Dengan pola tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan ternak, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan pendampingan agar ternak yang dipelihara benar-benar mampu memberikan nilai tambah bagi keluarga.
Tut Lengoh menegaskan, persoalan terbesar dalam peternakan bukan hanya bagaimana masyarakat memiliki sapi, tetapi bagaimana sapi tersebut dapat dipelihara dengan biaya efisien dan menghasilkan keuntungan.
“Jangan hanya berpikir bagaimana memiliki sapi, tetapi harus dipikirkan juga apa yang dimakan sapi. Kalau setiap rumah memelihara sapi, kebutuhan pakannya tentu sangat besar,” ujar Tut Lengoh.
Karena itu, ia menggagas pemanfaatan berbagai potensi lokal, termasuk limbah pertanian seperti jerami, batang tanaman dan bahan organik lainnya untuk diolah menjadi pakan fermentasi.
Langkah tersebut diharapkan dapat menekan biaya pakan sekaligus mengurangi limbah pertanian yang selama ini belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal.
Libatkan CSR dan Dunia Usaha
Tut Lengoh juga membuka ruang kerja sama dengan dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Perusahaan yang beroperasi di sekitar Desa Tulikup diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan masyarakat, baik melalui dukungan penyediaan bibit sapi, pembangunan kandang, pengembangan pakan, maupun pembinaan kelompok peternak.
“Ini konsep kemitraan. Kita ingin perusahaan ikut membangun masyarakat melalui program yang produktif dan berkelanjutan, bukan hanya memberikan bantuan sesaat,” tegasnya.
Konsep tersebut mendapat respons positif karena pembangunan ekonomi desa dinilai tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah desa.
Dibutuhkan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, tokoh masyarakat, pelaku usaha, akademisi hingga dunia pendidikan agar program pemberdayaan benar-benar memiliki dampak jangka panjang.
Dua Tokoh Puri Tulikup Beri Dukungan
Dukungan Anak Agung Sri Maryastuti dan Anak Agung Gede Mayun, SH menjadi perhatian tersendiri dalam dinamika Pilkel Tulikup 2026.
Keduanya melihat gagasan “Satu Rumah Satu Sapi” sebagai program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat karena orientasinya bukan sekadar bantuan, tetapi menciptakan aset produktif bagi keluarga.
Apabila konsep tersebut dapat direalisasikan secara bertahap dan dibarengi dengan pendampingan yang baik, setiap keluarga diharapkan memiliki peluang untuk mengembangkan usaha peternakan sebagai salah satu sumber tambahan penghasilan.
Bagi masyarakat pedesaan, satu ekor sapi bukan sekadar hewan ternak. Sapi dapat menjadi tabungan hidup, aset keluarga, sekaligus modal ekonomi yang nilainya dapat berkembang apabila dikelola dengan baik.
Karena itu, dukungan dua tokoh Puri Tulikup tersebut terhadap program “Satu Rumah Satu Sapi” menjadi sinyal bahwa gagasan pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal mendapat perhatian dari berbagai kalangan.
Mantan Bendesa Adat Tulikup Kelod Juga Dukung
Dukungan terhadap Tut Lengoh juga datang dari mantan Bendesa Adat Tulikup Kelod, I Nyoman Badjra, yang mengabdi hampir tiga dekade, sejak 1995 hingga 2023.
Ia mengaku telah mengenal Tut Lengoh cukup lama dan menilai calon Perbekel nomor urut 3 tersebut memiliki pengalaman, pengetahuan serta gagasan yang dapat dikembangkan untuk kemajuan Desa Tulikup.
“Saya mengenal beliau sudah cukup lama. Tut Lengoh adalah sosok yang memiliki pengalaman, pengetahuan dan komitmen untuk membangun desa. Saya melihat gagasan yang beliau tawarkan bukan sekadar janji politik, tetapi memiliki arah yang jelas demi kemajuan masyarakat Tulikup,” ujar I Nyoman Badjra.
Menurutnya, keunggulan program “Satu Rumah Satu Sapi” terletak pada konsep yang tidak berhenti pada pemberian ternak.
Ada persoalan pakan, kesehatan hewan, pendampingan, pengelolaan hingga pemasaran yang harus dipikirkan sejak awal.
“Yang saya lihat menarik adalah beliau tidak hanya berbicara soal sapi. Beliau juga memikirkan bagaimana penyediaan pakan, pendampingan peternak, kesehatan ternak hingga pemasarannya. Itu menunjukkan program ini sudah dipikirkan secara matang,” katanya.
Pengalaman dan Keilmuan Menjadi Modal
Latar belakang Tut Lengoh sebagai dokter hewan dan akademisi menjadi salah satu modal penting dalam mengembangkan program tersebut.
Keilmuan di bidang kesehatan dan peternakan diharapkan dapat menjadi fondasi agar program tidak berhenti sebagai slogan politik, tetapi benar-benar dapat diterapkan dengan pendekatan yang terukur.
Tut Lengoh sendiri menegaskan bahwa seluruh program akan dilaksanakan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan masyarakat dan kemampuan desa.
“Kalau saya dipercaya memimpin Desa Tulikup, saya ingin program satu rumah satu sapi benar-benar menjadi program pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Semuanya harus dilakukan sesuai kesiapan masyarakat dan dibangun melalui kerja sama yang kuat,” ujarnya.
Nomor 3, Gagasan untuk Tulikup
Tut Lengoh memperoleh nomor urut 3 dalam pengundian calon Perbekel Desa Tulikup pada 27 Agustus 2026.
Namun bagi dirinya, nomor bukanlah tujuan utama. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap gagasan yang ditawarkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Satu Rumah Satu Sapi” menjadi salah satu program yang ingin didorong sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi keluarga berbasis potensi desa.
Dengan dukungan tokoh Puri Tulikup, tokoh masyarakat serta berbagai elemen lainnya, gagasan tersebut kini semakin mendapat perhatian dalam perjalanan Pilkel Desa Tulikup 2026.
Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menentukan arah masa depan desa melalui pilihan politiknya.
Yang diharapkan adalah lahirnya pemimpin yang tidak hanya mampu berbicara tentang pembangunan, tetapi juga memiliki gagasan, pengalaman dan keberanian untuk mengubah potensi desa menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Bagi Tut Lengoh, Tulikup tidak cukup hanya dibangun dengan program. Tulikup membutuhkan gerakan bersama agar setiap potensi yang dimiliki desa benar-benar kembali menjadi kekuatan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya. (Tim)