Gianyar, BerandaBali.id – Langkah Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., atau yang akrab disapa Tut Nata, menuju Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Tulikup 2026 semakin mantap. Dalam pengundian nomor urut calon yang berlangsung Kamis, 27 Agustus 2026, di Kantor Desa Tulikup, Tut Nata mendapatkan nomor urut 3.
Nomor tersebut menjadi bagian dari perjalanan Tut Nata untuk menawarkan gagasan pembangunan Desa Tulikup apabila dipercaya masyarakat memimpin untuk periode 2026–2034. Salah satu program unggulan yang menjadi perhatian adalah pemberdayaan ekonomi keluarga melalui konsep “Satu Rumah Satu Sapi”.
Bagi Tut Nata, program tersebut bukan sekadar membagikan atau menghadirkan sapi ke rumah-rumah warga. Ia ingin membangun sebuah sistem ekonomi peternakan berbasis kemitraan, sehingga masyarakat mendapatkan ternak sekaligus pendampingan, kepastian pakan, perawatan, hingga peluang pemasaran.
Menariknya, konsep kemitraan tersebut akan diarahkan untuk melibatkan CSR perusahaan-perusahaan yang berada di Desa Tulikup, sehingga program pemberdayaan masyarakat tidak hanya bertumpu pada anggaran desa.
Dengan latar belakang sebagai dokter hewan dan akademisi yang lama berkecimpung dalam dunia peternakan, Tut Nata memahami bahwa persoalan peternakan tidak berhenti pada bagaimana menyediakan sapi.
Menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada pakan, pemeliharaan, kesehatan ternak dan pemasaran.
“Jangan hanya berpikir bagaimana memiliki sapi, tetapi harus dipikirkan juga apa yang dimakan sapi. Kalau semua rumah memelihara sapi, kebutuhan pakan tentu sangat besar,” ujar Tut Nata.
Karena itu, program “Satu Rumah Satu Sapi” akan dirancang dengan pendekatan yang terintegrasi.
Keterbatasan lahan di Desa Tulikup, menurutnya, tidak boleh menjadi penghalang. Sebaliknya, kondisi tersebut harus dijawab dengan teknologi dan inovasi, terutama dalam pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber pakan ternak.
Jerami padi, batang tanaman, leguminosa serta berbagai limbah organik pertanian dapat diolah melalui proses fermentasi menjadi pakan dengan kandungan nutrisi yang terukur.
Bahkan, Tut Nata menggagas pembuatan pakan dalam bentuk balok padat yang ia gambarkan seperti “roti pakan”, sehingga lebih mudah disimpan dan digunakan.
“Ke depan masyarakat tidak harus setiap hari ngarit. Limbah pertanian yang selama ini kurang termanfaatkan bisa diolah menjadi pakan berkualitas dan dapat disimpan. Jadi peternak lebih praktis dan biaya produksi bisa ditekan,” jelasnya.
Salah satu terobosan yang ditawarkan Tut Nata adalah membangun kemitraan dengan perusahaan yang memiliki kegiatan usaha di Desa Tulikup melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Menurutnya, keberadaan perusahaan di desa seharusnya dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. CSR tidak hanya diarahkan pada bantuan yang bersifat sesaat, tetapi dapat dikembangkan menjadi program pemberdayaan ekonomi produktif.
Dalam konsep “Satu Rumah Satu Sapi”, CSR perusahaan dapat menjadi salah satu sumber dukungan untuk penyediaan sapi, sarana kandang, pengembangan pakan, pendampingan kesehatan ternak maupun penguatan kelompok peternak.
“Ini konsep kemitraan. Jadi bukan sekadar perusahaan memberikan bantuan sapi kemudian selesai. Kita ingin ada sistem yang berkelanjutan. Perusahaan melalui CSR bisa menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat, sementara warga menjadi pelaku usaha peternakan,” kata Tut Nata.
Dengan pola tersebut, masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai mitra dan pelaku ekonomi.
Tut Nata juga membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah daerah, pemerintah pusat serta pihak swasta untuk memperkuat teknologi peternakan dan pendampingan masyarakat.
Program “Satu Rumah Satu Sapi” dirancang sebagai target minimal bagi keluarga yang memiliki kesiapan dan kemampuan untuk memelihara ternak.
Seekor sapi dipandang sebagai aset produktif sekaligus tabungan hidup yang dapat dikembangkan untuk membantu meningkatkan pendapatan keluarga.
Bagi keluarga yang sudah memiliki pekerjaan utama, satu ekor sapi dapat menjadi sumber penghasilan tambahan. Sedangkan bagi warga yang ingin menekuni peternakan, skala usahanya dapat dikembangkan secara bertahap.
Tut Nata memperkirakan, dengan sistem penggemukan dan pakan yang baik, sapi bakalan dengan bobot sekitar 250–275 kilogram berpotensi ditingkatkan menjadi sekitar 375 kilogram dalam waktu kurang lebih empat hingga lima bulan.
Ia juga memaparkan perhitungan bahwa lima ekor sapi yang dikelola dengan baik berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per hari, tergantung kondisi usaha, biaya produksi dan harga pasar.
“Yang kita bangun bukan sekadar peternakan, tetapi sebuah sistem ekonomi. Dari pakan, pemeliharaan, penggemukan sampai pemasaran harus menjadi satu kesatuan,” ujarnya.
Gagasan tersebut sekaligus ingin menjawab persoalan lain di desa, yakni pemanfaatan limbah pertanian.
Selama ini, sebagian limbah pertanian belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan teknologi pengolahan pakan, limbah tersebut dapat memiliki nilai ekonomi baru.
Petani menghasilkan limbah pertanian, limbah diolah menjadi pakan, pakan diberikan kepada sapi, sapi digemukkan, kemudian ternak dipasarkan dan menghasilkan pendapatan bagi keluarga.
Dengan demikian, program peternakan tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan sektor pertanian dan pengelolaan lingkungan.
Tut Nata ingin mendorong agar Desa Tulikup secara bertahap memiliki ekosistem peternakan yang lebih modern, efisien dan berbasis ilmu pengetahuan.
Tut Nata menegaskan, apabila masyarakat memberikan kepercayaan kepadanya sebagai Perbekel Desa Tulikup periode 2026–2034, “Satu Rumah Satu Sapi” akan diperjuangkan sebagai salah satu program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Namun, ia menyadari program tersebut tidak dapat dilakukan secara instan dan tidak semua rumah tangga harus langsung memiliki sapi.
Program akan disesuaikan dengan kesiapan keluarga, kemampuan pemeliharaan, ketersediaan kandang dan sistem kemitraan yang dibangun bersama.
“Kalau saya dipercaya dan menang, saya ingin program satu rumah satu sapi ini benar-benar kita perjuangkan. Kita mulai dari kemampuan masyarakat, kemudian kita kembangkan bersama. Jangan sampai masyarakat diberi sapi, tetapi kemudian bingung memberi makan,” tegasnya.
Karena itu, konsep kemitraan dengan CSR perusahaan yang ada di Desa Tulikup menjadi salah satu bagian penting dalam gagasan tersebut.
Bagi Tut Nata, dukungan perusahaan melalui CSR akan lebih berarti apabila diarahkan untuk membangun usaha produktif yang dapat terus berkembang, bukan hanya bantuan yang habis dalam waktu singkat.
Dengan hasil pengundian nomor urut 3, Tut Nata kini memasuki tahapan berikutnya dalam perjalanan Pilkel Tulikup 2026.
Nomor urut tersebut menjadi identitas dalam perjuangannya menawarkan visi dan program kepada masyarakat. Namun bagi Tut Nata, yang paling penting bukan sekadar angka, melainkan bagaimana gagasan tersebut nantinya dapat diwujudkan apabila mendapat kepercayaan masyarakat.
“Kalau Tut Nata menang, saya ingin masyarakat tidak hanya mendengar janji. Saya ingin ada sapi di rumah-rumah masyarakat, ada pakan yang tersedia, ada pendampingan, ada kemitraan dan ada hasil ekonomi yang bisa dirasakan,” ujarnya.
Baginya, kemenangan dalam sebuah pemilihan bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal dari pengabdian.
Sebab, seekor sapi yang tumbuh di halaman rumah warga bukan sekadar ternak. Ia dapat menjadi simbol harapan—bahwa dari sesuatu yang sederhana, dari limbah pertanian yang selama ini kurang termanfaatkan, serta dari kolaborasi antara masyarakat, desa dan dunia usaha, dapat lahir sumber penghasilan baru.
Satu rumah, satu sapi. Satu keluarga, satu peluang ekonomi. Dari banyak rumah, tumbuh kekuatan ekonomi Desa Tulikup.
Dengan nomor urut 3, Tut Nata membawa gagasan bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan bisa dimulai dari halaman rumah sendiri—dari seekor sapi yang dipelihara dengan ilmu, didukung kemitraan, dikelola dengan tekad, dan dikembangkan menjadi sumber kesejahteraan bersama.(TBB)