GIANYAR | Berandabali. Id— Dukungan terhadap Calon Perbekel Desa Tulikup periode 2026–2034, Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., atau yang akrab disapa Tut Lengoh, terus mengalir. Kali ini, dukungan datang dari kalangan pelaku pariwisata Desa Tulikup yang melihat gagasan “Satu Rumah Satu Sapi” sebagai salah satu program yang memiliki keberpihakan nyata terhadap ekonomi masyarakat.
Dukungan tersebut disampaikan Kadek Suwarteja, S.ST.Par., pelaku pariwisata senior Desa Tulikup yang telah hampir 35 tahun berkecimpung di dunia pariwisata.
Menurut Suwarteja, program “Satu Rumah Satu Sapi” bukan sekadar gagasan mengenai peternakan. Lebih jauh, program tersebut dinilai sebagai upaya membangun sumber ekonomi alternatif masyarakat sekaligus menghidupkan potensi desa dari tingkat keluarga.
“Kalau program ini bisa diwujudkan dengan pengelolaan yang baik, saya melihat manfaatnya akan kembali kepada masyarakat. Sapi bukan hanya ternak, tetapi bisa menjadi aset keluarga yang berkembang dari waktu ke waktu,” ujar Suwarteja.
Ia menilai, gagasan tersebut menarik karena menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Di tengah perkembangan Tulikup yang semakin dinamis, pembangunan desa menurutnya tidak cukup hanya mengandalkan sektor pariwisata, tetapi juga harus memperkuat ekonomi masyarakat melalui potensi yang ada di desa.
Pariwisata Maju, Ekonomi Kerakyatan Jangan Ditinggalkan
Hampir 35 tahun berada di dunia pariwisata membuat Suwarteja memahami bahwa perkembangan sebuah wilayah tidak bisa hanya diukur dari bertambahnya aktivitas ekonomi dan kunjungan wisatawan.
Menurutnya, masyarakat lokal harus tetap menjadi bagian penting dari pertumbuhan tersebut.
Karena itu, gagasan Tut Lengoh mengenai “Satu Rumah Satu Sapi” dinilai memiliki perspektif berbeda. Program tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong masyarakat memiliki aset produktif sekaligus menjaga agar geliat pembangunan tidak membuat sektor ekonomi tradisional desa semakin terpinggirkan.
“Pariwisata memang penting. Tetapi masyarakat juga harus memiliki sumber penghasilan lain. Jangan sampai pembangunan hanya terlihat dari fisiknya, sementara ekonomi keluarga belum ikut tumbuh,” katanya.
Suwarteja melihat, peternakan juga memiliki keterkaitan dengan budaya dan kehidupan masyarakat Bali. Jika dikelola secara modern, terarah, dan berkelanjutan, sektor tersebut dapat menjadi bagian dari ekonomi kerakyatan yang tetap berakar pada kehidupan desa.
Tut Lengoh Dinilai Punya Modal Kepemimpinan
Selain mendukung program “Satu Rumah Satu Sapi”, Suwarteja juga menyampaikan alasan mengapa dirinya memberikan perhatian kepada sosok Tut Lengoh.
Menurutnya, Tut Lengoh memiliki kombinasi antara pendidikan, pengalaman birokrasi, rekam jejak, serta jaringan yang cukup luas. Modal tersebut dinilai penting ketika seorang pemimpin desa harus menerjemahkan gagasan menjadi program yang benar-benar dapat dirasakan masyarakat.
Tut Lengoh sendiri dikenal memiliki latar belakang sebagai dokter hewan sekaligus pengalaman di pemerintahan. Dengan latar tersebut, menurut Suwarteja, program yang berkaitan dengan peternakan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat memiliki peluang untuk dikembangkan secara lebih terukur.
“Beliau punya pengalaman, pendidikan dan jaringan. Yang penting sekarang adalah bagaimana semua itu nanti diterjemahkan menjadi program yang benar-benar menyentuh masyarakat,” ujarnya.
Suwarteja berharap kontestasi Pilkel Tulikup tidak hanya menjadi pertarungan mencari suara, tetapi menjadi ruang bagi masyarakat untuk memilih gagasan dan rekam jejak.
“Satu Rumah Satu Sapi”, Gagasan Ekonomi dari Tingkat Keluarga
Program “Satu Rumah Satu Sapi” menjadi salah satu gagasan yang terus disuarakan Tut Lengoh dalam upayanya menawarkan perubahan bagi Desa Tulikup.
Gagasan tersebut berangkat dari pemikiran sederhana: pembangunan ekonomi harus dimulai dari keluarga.
Satu rumah memiliki satu aset produktif. Aset tersebut dipelihara, dikembangkan dan pada waktunya memiliki nilai ekonomi. Jika dilakukan secara bersama-sama dan didukung sistem yang tepat, maka potensi tersebut dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi desa.
Program ini juga sejalan dengan gagasan Tut Lengoh untuk membangun Tulikup yang lebih mandiri, harmonis, maju dan sejahtera, sebagaimana semangat JAS—Maju, Harmoni, Jaya, Sejahtera.
Bagi masyarakat, konsep tersebut bukan sekadar berbicara mengenai berapa ekor sapi yang bisa dipelihara. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sapi tersebut menjadi aset produktif keluarga, membuka peluang ekonomi, menumbuhkan semangat beternak, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa.
Dukungan Datang dari Pengalaman Panjang
Bagi Suwarteja, dukungannya kepada Tut Lengoh juga tidak datang tanpa pertimbangan. Hampir tiga setengah dekade bergelut dalam industri pariwisata membuat dirinya melihat berbagai perubahan yang terjadi di Tulikup dan Bali secara lebih luas.
Ia berharap pemimpin desa ke depan mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan, ekonomi masyarakat, lingkungan, budaya dan masa depan generasi muda.
Tulikup, menurutnya, memiliki potensi yang besar. Karena itu, desa membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu menjalankan pemerintahan, tetapi juga memiliki keberanian melahirkan inovasi.
“Saya berharap Tulikup ke depan semakin maju, tetapi kemajuan itu harus dirasakan oleh masyarakat. Program-program yang menyentuh ekonomi keluarga harus mendapatkan perhatian,” katanya.
Dukungan Suwarteja menjadi bagian dari suara masyarakat Tulikup yang berharap Pilkel 2026 melahirkan pemimpin dengan visi pembangunan yang jelas dan berpijak pada kebutuhan warga.
Sementara bagi Tut Lengoh, dukungan tersebut menjadi energi sekaligus tanggung jawab untuk terus menawarkan gagasan perubahan.
Sebab pada akhirnya, desa yang maju bukan hanya desa yang memiliki pembangunan fisik yang baik, tetapi desa yang membuat warganya memiliki harapan, kesempatan dan kemampuan untuk tumbuh di tanah kelahirannya sendiri.
Dan melalui gagasan “Satu Rumah Satu Sapi”, perubahan itu hendak dimulai dari sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat: rumah, keluarga, dan aset ekonomi yang bisa tumbuh bersama. (Tim)