Ketut Gede Kesumawijaya:  dengan Program Sayan Bersinar, Dari Kesehatan, Ekonomi hingga Tata Kelola Desa”

Gianyar, BerandaBali.id – Membangun desa tidak semata-mata soal memperlebar jalan, mempercantik fasilitas umum atau menambah infrastruktur. Lebih jauh dari itu, pembangunan desa adalah tentang menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat, menjaga keharmonisan sosial, merawat alam, sekaligus memastikan adat dan budaya tetap menjadi napas kehidupan.

Gagasan itulah yang ditawarkan I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag., Calon Perbekel Desa Sayan nomor urut 1, dalam kontestasi Pemilihan Perbekel Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.

Mengusung konsep “Dedikasi Murni Mewujudkan Tri Hita Siddhi Sayan Bersinar”, Ketut Gede Kesumawijaya menempatkan pembangunan Desa Sayan dalam sebuah keseimbangan antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, manusia dengan sesamanya, serta manusia dengan alam lingkungan.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan dalam visi mewujudkan Desa Sayan yang sejahtera, harmonis dan mandiri, dengan pemerintahan yang berintegritas, bersinergi serta tetap berorientasi pada nilai-nilai budaya.

Bukan sekadar slogan, gagasan tersebut dirancang melalui lima arah utama pembangunan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Pilar pertama menyangkut kesejahteraan masyarakat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Program yang ditawarkan mencakup penguatan layanan kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, pemberdayaan perempuan, anak dan pemuda.

Di bidang kesehatan, perhatian diarahkan pada optimalisasi Posyandu di setiap banjar, penguatan Posbindu dan pelayanan lansia, pencegahan stunting, penanganan gizi buruk dan anemia pada ibu hamil, hingga fasilitasi jaminan sosial bagi pekerja rentan.

Ketut Gede Kesumawijaya juga memasukkan dukungan terhadap layanan kesehatan jiwa dan psikososial berbasis kader sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia.

Di sektor pendidikan, dukungan operasional bagi PAUD/TK serta program beasiswa atau insentif pendidikan bagi masyarakat kurang mampu menjadi bagian dari agenda yang ditawarkan.

Sementara untuk memperkuat kemandirian ekonomi keluarga, disiapkan gagasan berupa bursa kerja, pelatihan vokasi, akses permodalan usaha mikro, program rumah layak huni, akses air bersih dan sanitasi, hingga perhatian terhadap lansia terlantar dan penyandang disabilitas.

Kaum perempuan dan generasi muda juga mendapat ruang khusus melalui penguatan PKK, pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, edukasi kesehatan reproduksi remaja, pembinaan Karang Taruna, pengembangan olahraga serta penguatan literasi dan perpustakaan desa.

READ  Berkarya di Pura Ibu Panti Bualu, Wabup Badung Hargai Semangat Kerjasama 

Pilar kedua adalah menciptakan keamanan, ketertiban dan kerukunan sosial.

Desa Sayan diarahkan memiliki sistem keamanan yang lebih terpadu melalui sinergi Pecalang, Linmas, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, disertai penguatan Siskamling di masing-masing banjar.

Ketahanan menghadapi bencana juga menjadi perhatian. Mitigasi longsor dan banjir, pelatihan tanggap darurat, penempatan CCTV di titik strategis serta sistem pelaporan cepat masyarakat menjadi bagian dari gagasan tersebut.

Sebagai desa yang berada di kawasan Ubud dan bersentuhan langsung dengan aktivitas pariwisata, sejumlah persoalan perkotaan dan kawasan wisata juga menjadi perhatian, mulai dari penataan parkir dan PKL, bangunan liar, alih fungsi lahan tanpa izin hingga kemacetan.

Pengawasan terhadap peredaran minuman keras dan narkoba turut dimasukkan dalam agenda menjaga keamanan lingkungan.

Namun keamanan, menurut gagasan yang dibawa Ketut Gede Kesumawijaya, bukan hanya persoalan ketertiban. Kerukunan masyarakat juga harus dirawat.

Karena itu, nilai “Asah-Asih-Asuh” ditempatkan sebagai salah satu landasan dalam membangun hubungan antarmasyarakat melalui dialog, musyawarah, gotong royong, mediasi konflik berbasis adat serta penguatan literasi digital dan edukasi anti-hoaks.

Pilar ketiga diarahkan pada kemandirian desa dan penguatan ekonomi kerakyatan.

Pendapatan Asli Desa akan didorong melalui diversifikasi sumber pendapatan, optimalisasi aset desa, kerja sama dengan sektor pariwisata serta kemitraan investasi dan CSR yang dilakukan secara transparan.

BUMDes diproyeksikan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, UMKM akan diperkuat melalui digitalisasi pemasaran, pembentukan sentra pemasaran bersama, pendampingan NIB, PIRT dan sertifikasi halal.

Koperasi dan LPD juga diharapkan semakin optimal dalam membuka akses permodalan bagi masyarakat.

Sektor pertanian tetap menjadi bagian penting. Revitalisasi irigasi subak, penguatan ketahanan pangan, perbaikan jalan desa dan jalan usaha tani serta revitalisasi pasar desa menjadi sejumlah program yang ditawarkan.

Potensi pariwisata juga akan dikembangkan dengan memperkuat Pokdarwis di setiap banjar, mengembangkan usaha wisata berbasis BUMDes, meningkatkan kapasitas pemandu wisata, memperluas promosi destinasi secara digital serta mengembangkan homestay berbasis masyarakat dan ekowisata subak.

READ  Gandeng ITS Surabaya, Pemkab Badung Rilis AMDK Botol Kaca Baliss Ramah Lingkungan   

Pemerintahan Terbuka dan Dekat dengan Masyarakat

Pilar keempat menyentuh sektor tata kelola pemerintahan dan penguatan sinergi kelembagaan.

Ketut Gede Kesumawijaya menawarkan pemerintahan desa yang transparan, akuntabel dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Salah satu gagasan yang diusung adalah transparansi APBDes berbasis digital sehingga masyarakat dapat mengetahui dan mengakses informasi mengenai pengelolaan keuangan desa.

Digitalisasi juga diarahkan untuk pelayanan administrasi, pengarsipan, kanal pengaduan masyarakat serta keterbukaan informasi publik.

Kompetensi aparatur desa akan diperkuat melalui pelatihan rutin dan evaluasi kinerja yang terukur. Kode etik aparatur, pencegahan penyalahgunaan anggaran serta upaya mencegah nepotisme menjadi bagian dari agenda membangun pemerintahan yang berintegritas.

Hubungan kelembagaan juga menjadi perhatian dengan mendorong komunikasi dan koordinasi rutin antara Pemerintah Desa, BPD, LKD, PKK, Karang Taruna, Desa Adat serta seluruh unsur masyarakat.

Pilar kelima adalah kelestarian alam dan budaya.

Sebagai wilayah yang berada di kawasan Ubud, Desa Sayan memiliki kekayaan alam dan budaya yang menjadi modal penting pembangunan.

Karena itu, kelestarian Subak, Sungai Ayung, kawasan hijau dan lingkungan tidak ditempatkan sebagai penghambat pembangunan, tetapi justru menjadi bagian dari fondasi pembangunan desa.

Program yang ditawarkan antara lain optimalisasi TPS 3R dan Bank Sampah, penghijauan kawasan rawan longsor, pengendalian alih fungsi lahan sawah, edukasi lingkungan serta pengawasan pembangunan agar tetap memperhatikan tata ruang dan kelestarian lanskap.

Dalam bidang adat dan budaya, dukungan diarahkan pada pemeliharaan pura, pelaksanaan upacara adat, penguatan Pasraman dan Sekaa Teruna-Teruni, pembinaan kesenian tradisional, dokumentasi sejarah serta cerita rakyat Desa Sayan hingga pelestarian awig-awig.

Dukungan sosial-keagamaan juga diarahkan kepada tempat ibadah di Desa Sayan sesuai ketentuan dan skala prioritas, dengan tetap menjunjung hak seluruh warga lintas agama yang secara resmi berdomisili di Desa Sayan.

“SAYAN” Menjadi Identitas Gagasan

Lima pilar tersebut kemudian dirangkum dalam akronim SAYAN, sehingga gagasan pembangunan lebih mudah dipahami dan diingat masyarakat.

READ  Pasang Badan Lindungi Sawah Sindu: Kesumawijaya calon kades sayan “Vila Boleh Tumbuh, Tapi Subak Tak Boleh Mati!

S berarti Sejahtera dan Sumber Daya Optimal untuk desa.

A berarti Aman serta Asah-Asih-Asuh bagi krama.

Y berarti Yasa Kerthi dan Yadnya sebagai landasan pengabdian.

A berarti Ajeg dan Asri, sebagai komitmen menjaga alam, seni dan budaya.

Sedangkan N berarti Nata Desa dan Niti Dharma, sebagai prinsip dalam menjalankan pemerintahan dan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan demikian, Sayan Bersinar tidak hanya menjadi rangkaian kata dalam kampanye, tetapi dirancang sebagai kerangka besar pembangunan yang mempertemukan kesejahteraan, keamanan, ekonomi, pemerintahan, lingkungan serta adat dan budaya.

I Ketut Gede Kesumawijaya resmi menjadi salah satu Calon Perbekel Desa Sayan setelah mendaftarkan diri pada 17 Juli 2026 dan ditetapkan sebagai calon pada 17 Agustus 2026.

Penetapan calon sekaligus pengundian nomor urut dilakukan Panitia Pemilihan Perbekel Desa Sayan melalui tahapan verifikasi administrasi, penelitian kelengkapan persyaratan, musyawarah dan pengundian secara terbuka.

Hasil pengundian menetapkan I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag. sebagai calon nomor urut 1, disusul Drh. I Wayan Arimbawa, M.Si. nomor urut 2 dan I Made Suwitra nomor urut 3.

Dalam proses pencalonannya, Ketut Gede Kesumawijaya juga mendapat dukungan keluarga. Bersama istrinya, Ni Nyoman Srimnis Sadmerti, S.E., serta tiga orang anaknya, ia membawa gagasan tersebut sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengabdikan diri bagi Desa Sayan.

Pada akhirnya, pembangunan desa bukan hanya dapat diukur dari panjang jalan yang dibangun, jumlah fasilitas yang berdiri atau besarnya anggaran yang terserap.

Lebih penting adalah apakah pembangunan tersebut mampu membuat masyarakat merasa lebih sejahtera, lebih aman, lebih dihargai dan memiliki masa depan, tanpa harus kehilangan jati diri sebagai masyarakat Bali.

Melalui “Dedikasi Murni Mewujudkan Tri Hita Siddhi Sayan Bersinar”, I Ketut Gede Kesumawijaya menawarkan gagasan pembangunan yang berupaya menempatkan manusia, alam, spiritualitas, budaya dan tata kelola pemerintahan dalam satu tarikan napas.

Sayan Bersinar bukan hanya tentang membangun desa, tetapi tentang menyalakan harapan agar kesejahteraan tumbuh, kerukunan tetap terjaga, alam lestari, budaya tetap ajeg dan pemerintahan berjalan dengan integritas.(TBB)

Populer

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10

Terbaru

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10