Gianyar, BerandaBali.id – Ada perjalanan yang pada akhirnya membawa seseorang kembali ke tempat di mana pengabdian bermula.
Setelah melewati perjalanan panjang di lingkungan birokrasi Pemerintah Kabupaten Gianyar, Cokorda Gede Agusnawa kini kembali ke desa. Bukan sekadar pulang ke tempat asal, melainkan membawa pengalaman pemerintahan untuk mengabdikan diri langsung kepada masyarakat Desa Peliatan, Kecamatan Ubud.
Pesta demokrasi Pemilihan Perbekel (Pilkel) serentak Gianyar, Minggu (20/9/2026), menjadi titik penting perjalanan tersebut.
Agusnawa, calon Perbekel Peliatan nomor urut 1, meraih suara terbanyak dengan perolehan sekitar 3.500 suara atau 67,19 persen dari sekitar 5.000 suara yang dihitung.
Angka tersebut sekaligus menjadi mandat masyarakat Peliatan untuk menempatkan Agusnawa sebagai Perbekel Desa Peliatan periode 2026–2034.
Namun, kemenangan itu tidak hanya berbicara tentang angka.
Di balik 3.500 suara tersebut terdapat kepercayaan masyarakat kepada sosok yang sebelumnya tumbuh dan berproses dalam dunia pemerintahan.
Dari Meja Birokrasi, Pulang ke Tengah Masyarakat
Pengalaman panjang di lingkungan birokrasi menjadi bagian dari perjalanan Agusnawa sebelum akhirnya memilih kembali mengabdi di tingkat desa.
Kini, pengalaman tersebut dibawa pulang.
Jika sebelumnya ia berkarya dalam ruang pemerintahan dengan berbagai tugas dan tanggung jawab, maka ke depan ia akan berhadapan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat Peliatan.
Desa menjadi ruang pengabdian yang lebih dekat.
Di sinilah persoalan masyarakat terlihat secara langsung. Di sinilah pelayanan pemerintah diuji setiap hari. Dan di sinilah pembangunan tidak cukup hanya direncanakan, tetapi harus benar-benar dirasakan manfaatnya.
Karena itu, kemenangan Agusnawa dapat dimaknai sebagai perjalanan pulang seorang birokrat ke akar pengabdian.
Dari birokrasi menuju desa.
Dari pengalaman menuju pengabdian.
Dari pemerintahan menuju masyarakat.
“Ini Kemenangan Rakyat Peliatan”
Setelah unggul dalam penghitungan suara, Agusnawa tidak menempatkan kemenangan tersebut sebagai kemenangan pribadi.
Pesan yang disampaikan justru sederhana: ini kemenangan rakyat Peliatan.
Sebab suara yang diterimanya bukan sekadar angka dalam rekapitulasi. Setiap suara merupakan bentuk kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan.
Ke depan, Agusnawa dihadapkan pada pekerjaan yang jauh lebih besar daripada memenangkan kontestasi.
Ia harus membuktikan bahwa pengalaman yang diperoleh selama berada di pemerintahan mampu diterjemahkan menjadi pelayanan desa yang lebih dekat, terbuka, responsif dan berpihak pada kebutuhan masyarakat.
Pulang Bukan untuk Berkuasa, tetapi untuk Mengabdi
Kemenangan dalam Pilkel telah menutup satu babak perjalanan politik desa.
Tetapi bagi Agusnawa, justru membuka babak pengabdian yang sesungguhnya.
Peliatan bukan hanya membutuhkan seorang Perbekel yang mampu menjalankan administrasi pemerintahan. Desa juga membutuhkan pemimpin yang memahami denyut masyarakat, mampu merawat kebersamaan, menjaga adat dan budaya, serta menggerakkan potensi ekonomi masyarakat.
Gagasan pembangunan yang sebelumnya disampaikan Agusnawa bertumpu pada nilai Tri Hita Karana, penguatan pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi masyarakat, kehidupan sosial dan adat, serta pembangunan lingkungan yang berkelanjutan.
Kini gagasan tersebut harus menemukan bentuknya dalam kerja nyata.
Menang Telak, Merangkul Semua
Perolehan 67,19 persen suara menjadi catatan penting dalam Pilkel Peliatan 2026.
Namun kemenangan besar juga membawa tanggung jawab besar.
Sejak proses Pilkel berlangsung, Agusnawa telah menyuarakan pentingnya menjaga persaudaraan masyarakat. Baginya, perbedaan pilihan merupakan bagian dari demokrasi, tetapi jangan sampai meninggalkan luka di tengah masyarakat.
Setelah penghitungan suara selesai, tidak boleh lagi ada sekat nomor urut.
Tidak ada lagi kelompok yang menang dan kelompok yang kalah.
Yang tersisa adalah satu rumah besar: Desa Peliatan.
Agusnawa kini bukan hanya menjadi milik para pemilihnya. Ia akan mengemban amanah seluruh masyarakat Peliatan.
Delapan Tahun untuk Membuktikan
Periode 2026–2034 bukan waktu yang singkat.
Delapan tahun ke depan akan menjadi ruang pembuktian bagi Agusnawa untuk menerjemahkan pengalaman birokrasi menjadi pengabdian di desa.
Masyarakat akan menunggu bagaimana pelayanan publik diperbaiki, pembangunan dijalankan, ekonomi warga diperkuat, adat dan budaya dijaga, lingkungan dirawat, serta aspirasi masyarakat benar-benar mendapatkan tempat dalam pemerintahan desa.
Sebab setelah kemenangan diraih, masyarakat tidak lagi membutuhkan kampanye.
Masyarakat membutuhkan kerja.
Tidak lagi sekadar mendengar janji.
Masyarakat menunggu bukti.
Dan mungkin di situlah makna terdalam dari perjalanan Agusnawa: setelah lama berjalan dalam birokrasi, ia akhirnya pulang ke desa untuk mengabdikan pengalaman kepada tanah tempat harapan masyarakat tumbuh.
Dari birokrasi, ia membawa pengalaman.
Dari Peliatan, ia menerima amanah.
Dan kepada Peliatan pula, pengabdian itu kini harus dikembalikan.
Pulang ke desa bukan untuk sekadar menjadi Perbekel.
Pulang untuk mengabdi.
Pulang untuk bekerja.
Pulang untuk Peliatan.(Tim)