GIANYAR,Berandabali.id – Kemenangan Ida Bagus Made Astika dalam Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, menjadi cerita tersendiri. Di tengah persaingan empat kandidat, sosok seniman yang sehari-hari bergelut dengan seni ukir ini berhasil meraih kepercayaan masyarakat untuk memimpin Desa Tampaksiring.
Pria berusia 46 tahun tersebut mengaku tidak memiliki strategi politik khusus untuk memenangkan kontestasi.
Ia memilih menjalani proses secara sederhana dan menyerahkan hasil akhirnya kepada masyarakat.
“Biasa saja, mengalir saja. Tidak ada persiapan khusus,” ujar Astika.
Menurutnya, kemenangan tersebut sepenuhnya merupakan hasil penilaian masyarakat.
Ia meyakini masyarakat Tampaksiring memiliki keyakinan dan pertimbangan sendiri dalam menentukan pemimpinnya, termasuk melihat rekam jejak serta sosok yang dianggap mampu membawa perubahan bagi desa.
“Rekam jejak mungkin menjadi salah satu pertimbangan. Tetapi itu kembali kepada penilaian masyarakat,” katanya.
Darah Seniman dan Tradisi yang Mengalir dari Keluarga
Di balik sosok perbekel terpilih itu, terdapat latar belakang seni yang cukup kuat. Astika merupakan seorang seniman yang menekuni seni ukir.
Karya-karyanya bahkan pernah dibawa dalam sejumlah pameran.
Kecintaan terhadap dunia seni juga bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba.
Ia menyebut keluarga besarnya telah lama berkecimpung di dunia kesenian, khususnya seni ukir dan berbagai bentuk seni tradisi Bali.
Latar belakang tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Astika. Ia terbiasa berinteraksi dengan para seniman sekaligus melihat secara langsung bagaimana potensi kreativitas masyarakat dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola dan dikembangkan secara serius.
Karena itu, kemenangan dalam Pilkel tidak membuatnya merasa telah mengalahkan kandidat lain.
“Saya dari awal tidak pernah merasa bersaing dengan siapa pun. Siapa pun dan dari pihak mana pun, biasa saja,” ungkapnya.
Kemenangan Bukan Milik Kandidat, tetapi Masyarakat
Setelah proses pemilihan selesai, Astika menegaskan bahwa tidak ada lagi sekat antara kandidat yang menang dan kandidat yang kalah.
Baginya, seluruh calon merupakan bagian dari keluarga besar masyarakat Tampaksiring. Karena itu, komunikasi dan hubungan baik dengan kandidat lain harus tetap dijaga.
“Dengan teman-teman calon yang lain sudah seperti hubungan keluarga. Kita semua bersaudara,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kemenangan yang diperolehnya bukan kemenangan kelompok atau pihak tertentu.
“Ini bukan kemenangan pihak. Ini kemenangan masyarakat. Karena semua pihak itu lahir dari masyarakat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa kepemimpinannya ke depan akan diarahkan untuk merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan pilihan politik dalam Pilkel.
Tidak Terburu-buru Menjanjikan Program
Sebagai perbekel terpilih, Astika mengaku tidak ingin terburu-buru melontarkan banyak janji program. Ia justru melihat pentingnya memahami terlebih dahulu sistem pemerintahan desa, kondisi internal desa, serta persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia menyadari dirinya perlu belajar dan beradaptasi dengan sistem pemerintahan desa.
“Selama satu sampai dua tahun ini mungkin saya harus banyak belajar, supaya tahu bagaimana situasi di dalamnya,” katanya.
Menurut Astika, langkah awal yang akan dilakukan adalah memperkuat komunikasi dan sinergi dengan berbagai unsur masyarakat.
Ia menilai komunikasi antara pemuda, seniman, tokoh masyarakat, kelompok adat dan berbagai elemen lainnya perlu dibuat semakin cair.
Baginya, pemerintahan desa tidak akan berjalan maksimal tanpa komunikasi yang baik dengan seluruh komponen masyarakat.
Tampaksiring Harus Lebih Indah dan Membahagiakan Masyarakat
Salah satu gagasan yang menjadi perhatian Astika adalah penataan Desa Tampaksiring.
Ia melihat masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah, terutama berkaitan dengan pemerataan pembangunan dan fasilitas umum.
Menurutnya, desa tidak cukup hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi.
Masyarakat juga harus merasakan kenyamanan dan kebahagiaan melalui lingkungan tempat tinggal yang bersih, tertata dan indah.
“Harapannya masyarakat lebih baik ke depannya. Bahagia dulu masyarakatnya,” ujarnya.
Ia berpandangan, penataan lingkungan desa yang bersih dan indah dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ketika lingkungan desa semakin tertata, nyaman dan memiliki daya tarik, maka aktivitas ekonomi masyarakat diharapkan ikut bergerak.
“Kalau lingkungan kita indah, banyak kunjungan masyarakat domestik maupun luar, itu akan membuat masyarakat bahagia,” katanya.
Potensi Seni dan Keterampilan Warga Jadi Kekuatan Ekonomi
Astika juga melihat Tampaksiring memiliki potensi sumber daya manusia yang besar. Desa tersebut memiliki banyak seniman, perajin dan masyarakat dengan berbagai keterampilan yang selama ini belum seluruhnya dikembangkan secara optimal.
Menurutnya, potensi tersebut perlu dipetakan dan diberikan ruang untuk berkembang.
“Setiap masyarakat punya potensi dan pengetahuan untuk dikembangkan, digali, dan bisa menjadi jalan mencari pekerjaan,” tuturnya.
Ia mencontohkan keberadaan para seniman dan perajin yang dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif desa.
Potensi seni dan kerajinan, apabila dipadukan dengan sektor pariwisata, dinilai dapat menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Dengan demikian, pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat.
Pasar, Fasilitas Umum hingga Potensi Pariwisata Akan Didata
Astika juga menyoroti perlunya pemerataan fasilitas umum di Desa Tampaksiring. Menurutnya, beberapa fasilitas yang berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat perlu mendapatkan perhatian, termasuk pusat pemerintahan, pasar serta fasilitas penunjang lainnya.
Ia menegaskan, langkah pertama bukan langsung membuat program tanpa data. Pemerintah desa nantinya perlu melakukan pendataan secara menyeluruh agar setiap kebijakan benar-benar memiliki dasar yang jelas.
“Kita akan data dulu. Data itu harus ada supaya jelas,” katanya.
Pendataan tersebut nantinya diharapkan menjadi dasar untuk menentukan skala prioritas pembangunan, termasuk potensi usaha masyarakat, keberadaan restoran, sektor pariwisata, seni dan kerajinan, serta berbagai potensi ekonomi lainnya.
Bagi Astika, kesejahteraan masyarakat tidak bisa dibangun hanya melalui satu sektor. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, pelaku usaha, tokoh adat, pemuda, seniman dan berbagai pihak lainnya.
Dari Seniman untuk Desa
Terpilihnya Ida Bagus Made Astika menjadi perbekel sekaligus menghadirkan warna baru dalam kepemimpinan Desa Tampaksiring. Dari dunia seni, ia kini memasuki ruang pemerintahan desa dengan membawa semangat yang sama: menciptakan sesuatu yang memiliki nilai dan manfaat bagi masyarakat.
Ia tidak ingin kepemimpinannya dibangun dengan sekat-sekat politik pasca-Pilkel. Sebaliknya, seluruh kandidat dan masyarakat diharapkan kembali berjalan bersama sebagai satu keluarga besar Tampaksiring.
Baginya, kemenangan di TPS hanyalah awal. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kepercayaan masyarakat tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata.
“Ini kemenangan masyarakat,” tegas Astika.
Kini, masyarakat menunggu langkah sang seniman ukir tersebut menerjemahkan gagasannya: membuat Tampaksiring lebih tertata, lebih indah, semakin hidup, dan pada akhirnya mampu membuka lebih banyak ruang kesejahteraan bagi masyarakatnya. (Tim)