Menelusuri Jejak Kesucian Air dari Pucak Tegeh untuk Nguwangun Sat Kherti Jagat Bali Oleh: Jro Somya

Bangli, BerandaBali.id – Air bagi orang Bali bukan sekadar unsur kehidupan. Air adalah tirtha, sumber kesucian, penyubur tanah, penghidup manusia, serta bagian penting dari keseimbangan antara alam, manusia dan kehidupan spiritual.

Karena itu, ketika berbicara tentang air di Bali, kita tidak hanya berbicara mengenai sungai, mata air, dan danau. Ada pula tutur, sastra, keyakinan dan warisan leluhur yang menghubungkan sumber-sumber air tersebut dengan gunung sebagai hulu kehidupan.

Salah satu tutur yang menarik untuk direnungkan adalah Tutur Ratu Daha Tua, sebuah kisah yang bersumber dari sastra tidak tertulis maupun sastra tertulis yang diwariskan secara turun-temurun.

Tulisan ini dihaturkan dengan penuh rasa sradha bhakti, sebagai upaya memahami kembali nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam tutur tersebut, sekaligus mengajak generasi Bali untuk melihat air sebagai warisan suci yang harus dijaga.

Ratu Daha Tua, Penguasa Air di Gunung Wangun Urip

Dalam tutur yang berkembang di masyarakat, Ratu Daha Tua disebut sebagai salah satu figur suci yang berkaitan dengan kekuasaan atas air dan berstana di kawasan Gunung Wangun Urip.

Nama Wangun Urip sendiri mengandung makna yang dalam—wangun atau membangun, dan urip yang berarti kehidupan. Dengan demikian, Gunung Wangun Urip dimaknai sebagai gunung yang membangun dan menopang kehidupan.

Kawasan ini juga dikenal dengan sejumlah sebutan, antara lain Pucak Tegeh Kahuripan, Pucak Tegeh, hingga Pura Pucak Penulisan.

Secara faktual, kompleks Pura Pucak Penulisan memang merupakan kawasan suci dan situs budaya penting di Kintamani, Bangli. Di dalam kompleks tersebut terdapat beberapa tingkatan dan pelinggih, termasuk Pura Ratu Daha Tua serta kawasan Pucak Penulisan di bagian puncaknya.

Dalam tutur tersebut, Ratu Daha Tua juga disebut dengan nama Daha Nu, yang secara lisan kemudian berkembang menjadi sebutan Danu—Da-ha Nu.

Karena diyakini sebagai sosok yang nyukla brahmacari, tidak menikah, Ratu Daha Tua disebut sebagai Daha Tua. Walaupun dalam penggambaran masyarakat berwujud perempuan, dalam tutur tersebut kedudukannya disebut memiliki status purusa.

Di sinilah terlihat bagaimana tradisi Bali kerap menyimpan simbol dan makna yang tidak selalu dapat dibaca hanya secara harfiah.

Ratu Daha Tua bukan sekadar figur dalam sebuah cerita. Ia menjadi simbol tentang air, kesuburan, kehidupan dan kewajiban manusia menjaga keseimbangan alam.

Ratu Penyarikan dan Awal Tata Kelola Air

Dalam tutur Ratu Daha Tua, kawasan di bawah Pucak Tegeh juga memiliki hubungan erat dengan Ratu Gede Penyarikan atau Ratu Gede Penulisan.

Tempat tersebut dipercaya sebagai ruang spiritual untuk memutuskan atau mengatur kasuwakan, yang kemudian berkembang dalam tata kehidupan masyarakat Bali sebagai subak.

Dengan demikian, subak tidak hanya dapat dipandang sebagai sistem teknis pengairan sawah. Dalam pandangan kosmologis Bali, pengelolaan air mempunyai dimensi sosial, spiritual dan ekologis.

READ  Dekranasda Tabanan Bawa Kriya Lokal Tembus Panggung Global Kriyanusa 2026

Air harus dibagi secara adil. Air harus dihormati. Dan manusia yang mendapatkan air memiliki kewajiban menjaga sumbernya.

Dari keyakinan tersebut kemudian muncul berbagai kisah mengenai panugrahan sumber mata air untuk membuka lahan dan menghidupkan wilayah-wilayah baru.

Dalam tutur disebutkan sejumlah sumber air seperti Muncan, Sulahan, Catur, Kembang Sari atau Sang Telaga, serta berbagai wilayah lainnya di Bali.

Pucak Tegeh sebagai Pusering Jagat Air

Tutur tersebut kemudian membawa kita pada sebuah gambaran besar tentang Bali sebagai satu kesatuan ekologis.

Di kawasan Pucak Tegeh Kahuripan disebut terdapat Gedong Puser Tasik, sebuah sumur yang dimaknai sebagai pusat air. Karena itu kawasan tersebut juga dikaitkan dengan konsep pusering jagat.

Dalam versi tutur Tuluk Biyu, dikenal pula istilah Goa Metangkeb.

Dari titik spiritual inilah air dibayangkan mengalir menuju berbagai penjuru Bali.

Bagi masyarakat Bali Selatan, aliran air dikaitkan dengan Tukad Ayung, yang kemudian menuju berbagai kawasan hingga Tukad Badung dan Karang Suwung.

Ke arah utara, aliran air dikaitkan dengan Tukad Daya hingga wilayah Bungkulan.

Sementara Bali bagian timur dikaitkan dengan aliran Tukad Gamongan dan Tukad Kutuh.

Untuk wilayah Bali bagian barat, sumber-sumber air dalam tutur dikaitkan dengan kawasan Batukaru, Puncak Mangu, Puncak Sari, serta sejumlah kawasan pegunungan lainnya yang berada dalam jejaring kosmologis Gunung Merapi dan Gunung Mahameru.

Apakah semua aliran tersebut harus dibaca secara harfiah sebagai satu sistem hidrologi? Tentu perlu penelitian lebih lanjut.

Namun secara simbolik, tutur itu menyampaikan pesan yang sangat kuat: Bali mempunyai hulu kehidupan, dan air menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Gebog Domas, Jejaring Penyangga Pucak Penulisan

Dalam perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Bali Mula, Pucak Penulisan juga mempunyai hubungan erat dengan Gebog Domas.

Kajian akademik menyebut Gebog Domas sebagai salah satu bentuk kosmologi masyarakat Bali Mula di kawasan Kintamani. Konsep ini berkaitan dengan persatuan sejumlah kelompok masyarakat yang secara ritual menjadi pengempon Pucak Penulisan. Empat kelompok utama tersebut dikenal sebagai Gebog Satak Sukawana, Kintamani, Selulung dan Bantang.

Istilah Domas secara harfiah dikaitkan dengan angka 800, sementara satak berarti 200. Dalam kajian tentang Gebog Domas, struktur tersebut tidak hanya dipahami sebagai pembagian kelompok masyarakat, tetapi juga sebagai simbol hubungan sosial, keseimbangan, integritas dan keberlanjutan kehidupan.

Tutur yang berkembang di masyarakat kemudian mengenal sejumlah desa sebagai bagian dari jejaring bebanuan Pucak Penulisan.

Dalam uraian tutur tersebut disebut pula Dasa Desa, yang secara praktik dikaitkan dengan sembilan cucukan, yakni Sembiran, Awan, Serai, Manikliu, Daup, Batih, Les Penuktukan, Pacung dan Tejakula, serta satu titikan dari Madenan.

READ  Rasniathi Adi Arnawa Dilantik Jadi Duta Budaya dan Ketua Pakis MDA Badung 2026–2031

Berbagai kewajiban ritual yang mengikat hubungan antardesa tersebut menunjukkan bahwa hubungan masyarakat Bali dengan tempat suci tidak berdiri sendiri. Ia membentuk jaringan sosial, adat dan spiritual yang lintas wilayah.

Ketika Ratu Daha Tua Menjual Air

Salah satu bagian paling menarik dari tutur Ratu Daha Tua adalah kisah tentang Ratu Daha Tua sebagai penjual air.

Dikisahkan bahwa air dari Pucak Tegeh dan kawasan pegunungan di sekitarnya ditampung di Segara Gunung Lebah, yang dalam perkembangan pemahaman masyarakat kemudian dikenal sebagai Danau Batur.

Dari sana, air kemudian digambarkan disebarkan kepada wilayah-wilayah yang membutuhkan.

Namun cara Ratu Daha Tua membagikan air tidak digambarkan seperti penguasa yang memerintah. Ia justru hadir sebagai sosok sederhana—seorang perempuan penjual air.

Dalam tutur, Ratu Daha Tua kemudian menciptakan pusat air di Belandingan, sehingga dikenal pula dengan parab Ratu Manik Mas Muncar.

Ia kemudian malih rupa, menyamar sebagai perempuan penjual air dengan penampilan yang sederhana bahkan buruk.

Perjalanannya dimulai menuju wilayah Bali Timur.

Di Munti Gunung, air yang dibawanya tidak dibeli. Dalam tutur tersebut kemudian muncul kisah tentang kekeringan dan nasib masyarakat yang dikaitkan dengan penolakan terhadap air.

Perjalanan berlanjut ke Tianyar. Namun kembali tidak ada masyarakat yang membeli air tersebut.

Hingga akhirnya perjalanan sampai di kawasan Les Penuktukan.

Les Penuktukan Membeli Air

Di Les Penuktukan, air tersebut akhirnya diterima.

Dalam tutur disebutkan masyarakat Les Penuktukan membeli air sebanyak satu keteng.

Dari sinilah kemudian muncul hubungan spiritual dan kewajiban ritual yang mengaitkan Desa Les Penuktukan dengan Pucak Penulisan.

Tutur menyebut Les Penuktukan sebagai bagian dari bebanuan Puncak Penulisan dengan kewajiban mengikuti aturan pujawali di Bale Agung Desa Sukawana dalam siklus tertentu.

Perjalanan Ratu Daha Tua kemudian berlanjut menuju Tejakula.

Di wilayah ini, masyarakat disebut membeli air sebanyak dua keteng. Dalam tutur, hal tersebut kemudian dikaitkan dengan kewajiban masyarakat Tejakula untuk melaksanakan pujawali di Bale Agung Sukawana dengan siklus tertentu.

Ketika tidak ada lagi yang membeli air yang dibawanya, Ratu Daha Tua kemudian menumpahkan air tersebut di Air Sanih.

Kisah ini, jika dibaca secara simbolik, sebenarnya menyimpan pesan yang sangat dalam.

Air tidak boleh dianggap remeh.

Ketika air datang, manusia harus menghormatinya. Ketika air diberikan, manusia mempunyai kewajiban untuk menjaganya.

Batur, Danu dan Kesadaran tentang Air

Tutur Ratu Daha Tua juga membawa kita kepada nama Danu.

Di kawasan Segara Gunung Lebah, air yang berada di gunung kemudian berkembang dalam pemahaman masyarakat menjadi danau. Karena berada di wilayah hulu, Ratu Daha Tua dalam tutur tersebut juga dikaitkan dengan sebutan Ratu Dewi Danu.

READ  Tut Nata Usung Program “Satu Rumah Satu Sapi”, Solusi Baru Tingkatkan Ekonomi Warga Tulikup

Kawasan tersebut kemudian lebih dikenal sebagai Batur.

Di sinilah tutur, kosmologi, sejarah tempat dan kehidupan masyarakat saling bertemu dalam satu ruang kebudayaan.

Kajian mengenai Pucak Penulisan menunjukkan bahwa kawasan ini memang memiliki posisi penting dalam kosmologi masyarakat Bali Mula. Penelitian akademik juga melihat konsep Gebog Domas sebagai gambaran hubungan antara mikro kosmos dan makro kosmos, keseimbangan, kesuburan, kemakmuran serta keberlanjutan kehidupan.

Air Bukan Sekadar Komoditas

Tutur Ratu Daha Tua pada akhirnya tidak hanya bercerita tentang seorang figur suci.

Ia berbicara tentang air sebagai sumber kehidupan.

Ia mengingatkan bahwa sebelum manusia mengenal berbagai teknologi pengelolaan air seperti sekarang, leluhur Bali telah membangun sistem sosial, adat dan spiritual untuk memastikan air dapat menghidupi masyarakat.

Dalam pandangan tersebut, air tidak semata-mata benda yang dapat diperjualbelikan.

Air adalah kehidupan.

Air adalah kesuburan.

Air adalah tirtha.

Air adalah pengikat hubungan antara gunung, danau, sungai, sawah, desa dan manusia.

Karena itu, menjaga air sesungguhnya adalah menjaga Bali.

Nguwangun Sat Kherti Jagat Bali

Di tengah tantangan Bali hari ini—pertumbuhan penduduk, pembangunan, perubahan tata ruang, tekanan terhadap sumber daya alam dan semakin meningkatnya kebutuhan air—tutur seperti Ratu Daha Tua patut ditempatkan sebagai sumber refleksi kebudayaan.

Bukan untuk mempertentangkan antara tutur dengan ilmu pengetahuan.

Bukan pula untuk memaksakan sebuah kisah sebagai fakta sejarah tanpa kajian.

Melainkan untuk menggali nilai kearifan yang terkandung di dalamnya.

Jika leluhur mengajarkan bahwa air memiliki sumber yang harus dihormati, maka manusia modern semestinya semakin sadar bahwa sumber air tidak boleh dirusak.

Jika leluhur membangun sistem pembagian air melalui jejaring masyarakat, maka generasi sekarang perlu menjaga semangat keadilan dalam pengelolaan air.

Jika gunung dianggap sebagai hulu kehidupan, maka gunung harus dilindungi.

Jika danau dianggap sebagai pusat air, maka danau tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai objek ekonomi.

Dan jika sungai menjadi jalan kehidupan, maka sungai harus tetap mengalir dengan bersih.

Pada akhirnya, Tutur Ratu Daha Tua adalah sebuah ajakan untuk kembali mengingat bahwa Bali hidup karena air.

Dari gunung air mengalir.

Dari mata air kehidupan dimulai.

Dari sungai sawah menjadi subur.

Dari sawah manusia mendapatkan pangan.

Dan dari kehidupan yang seimbang lahirlah jagadhita.

Maka Nguwangun Sat Kherti Jagat Bali bukan hanya sebuah semboyan, tetapi sebuah panggilan untuk merawat keseimbangan alam, manusia dan kehidupan spiritual.

Menjaga air berarti menjaga kehidupan.

Menjaga gunung berarti menjaga hulu.

Menjaga danau berarti menjaga sumber.

Dan menjaga semua itu berarti ikut menjaga warisan leluhur serta masa depan Bali. (Tim)

Populer

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10

Terbaru

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10