GIANYAR | Berandabali.id – Bagi I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag., angka satu yang diperolehnya dalam pengundian nomor urut calon Perbekel Desa Sayan bukan sekadar nomor pada surat suara. Ia menjadikannya sebagai simbol tekad untuk menempatkan kepentingan masyarakat sebagai titik awal setiap langkah pembangunan.
Dalam momentum Pemilihan Perbekel Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Ketut Gede Kesumawijaya mengusung semangat “Satu Hati untuk Sayan”. Di balik slogan tersebut, ia menawarkan gagasan “Tri Hita Siddhi Sayan Bersinar”, dengan cita-cita membawa Desa Sayan menjadi desa yang sejahtera, harmonis dan mandiri tanpa kehilangan jati diri adat, budaya serta lingkungan.
Semangat yang dibawanya dirangkum dalam sebuah prinsip pengabdian: “Bersih Hati, Tulus Mengabdi, Nyata Bekerja, Siap Melayani.” Bagi Ketut Gede Kesumawijaya, prinsip tersebut bukan sekadar slogan politik, melainkan komitmen untuk menjadikan pemerintahan desa lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Ia berpandangan, ukuran keberhasilan pembangunan desa tidak berhenti pada berdirinya infrastruktur atau terlaksananya program. Pembangunan harus benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, baik melalui peningkatan kesejahteraan, pelayanan publik, kesempatan ekonomi maupun lingkungan sosial yang aman dan harmonis.
Menyatukan Potensi Sayan dalam Satu Gerak
Konsep Sayan Bersinar dirancang sebagai gagasan pembangunan yang menyatukan berbagai sektor. Mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan, pemberdayaan perempuan dan pemuda, penguatan ekonomi, keamanan, tata kelola pemerintahan, kelestarian lingkungan hingga penguatan adat dan budaya.
Di bidang kesehatan, perhatian diarahkan pada penguatan Posyandu, pelayanan bagi lansia, pencegahan stunting, peningkatan gizi masyarakat serta fasilitasi akses kesehatan bagi kelompok rentan.
Sektor pendidikan juga mendapat perhatian melalui penguatan PAUD dan TK, dukungan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, pengembangan literasi serta peningkatan keterampilan generasi muda agar memiliki kemampuan dan daya saing menghadapi perubahan zaman.
Sementara di bidang ekonomi, Ketut Gede Kesumawijaya mendorong UMKM agar tidak hanya bertahan, tetapi mampu naik kelas. Digitalisasi pemasaran, pendampingan legalitas usaha, akses permodalan dan pengembangan sentra pemasaran bersama menjadi bagian dari gagasan yang ditawarkan.
BUMDes juga diharapkan dapat diperkuat sebagai motor penggerak ekonomi desa dengan mengoptimalkan potensi, aset dan peluang usaha yang dimiliki Desa Sayan.
Potensi pertanian, subak dan pariwisata pun diarahkan untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Konsep wisata berbasis masyarakat, homestay, ekowisata, promosi digital serta penguatan Pokdarwis menjadi bagian dari upaya agar pertumbuhan ekonomi dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat setempat.
Keamanan dan Keharmonisan Tak Boleh Ditinggalkan
Di tengah perkembangan Desa Sayan yang berada dalam kawasan Ubud, pertumbuhan ekonomi dan pariwisata dinilai perlu berjalan seimbang dengan keamanan serta kenyamanan masyarakat.
Karena itu, sinergi antara Pecalang, Linmas, Babinsa, Bhabinkamtibmas dan masyarakat akan menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan lingkungan. Kesiapsiagaan menghadapi bencana juga menjadi perhatian dalam konsep pembangunan yang ditawarkan.
Penataan kawasan wisata, parkir, aktivitas usaha, lingkungan serta arus lalu lintas masyarakat dipandang perlu dilakukan secara terencana agar perkembangan kawasan tidak mengurangi kenyamanan warga.
Semangat Asah-Asih-Asuh juga ditempatkan sebagai landasan hubungan sosial. Perbedaan pandangan, menurutnya, harus disikapi dengan kedewasaan melalui musyawarah, gotong royong dan penyelesaian persoalan secara kekeluargaan.
Pemerintahan Harus Terbuka dan Hadir
Gagasan lainnya menyentuh tata kelola pemerintahan desa. Ketut Gede Kesumawijaya menawarkan pemerintahan yang transparan, akuntabel dan responsif terhadap aspirasi masyarakat.
Digitalisasi pelayanan publik, keterbukaan informasi, transparansi APBDes, pengelolaan arsip serta penyediaan kanal pengaduan masyarakat menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan yang lebih mudah, cepat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hubungan antara Pemerintah Desa dengan BPD, Desa Adat, LKD, PKK, Karang Taruna serta berbagai unsur masyarakat juga dinilai perlu diperkuat.
Bagi Ketut Gede Kesumawijaya, pemerintah desa tidak cukup hadir ketika masyarakat membutuhkan dokumen administrasi. Pemerintah harus hadir ketika warga membutuhkan solusi, ruang dialog maupun pendampingan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi.
Menjaga Alam, Merawat Identitas Budaya
Pembangunan Desa Sayan, menurutnya, harus tetap berpijak pada keseimbangan antara manusia, alam dan kehidupan sosial budaya.
Kelestarian subak, sungai dan kawasan hijau menjadi bagian yang perlu dijaga. Pengelolaan sampah melalui optimalisasi TPS 3R dan Bank Sampah, penghijauan serta edukasi lingkungan juga didorong agar Sayan tetap asri di tengah perkembangan wilayah.
Di saat yang sama, adat dan budaya dipandang sebagai identitas yang tidak boleh tergerus oleh perubahan zaman. Dukungan terhadap kegiatan adat dan pura, Pasraman, Sekaa Teruna-Teruni, kesenian tradisional serta dokumentasi sejarah desa menjadi bagian dari gagasan pelestarian jati diri Sayan.
“Satu Hati untuk Sayan”
Pengundian nomor urut pada Minggu, 23 Agustus 2026, menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan Ketut Gede Kesumawijaya menuju kontestasi Pemilihan Perbekel Desa Sayan.
Nomor urut 1 kemudian ia maknai sebagai ajakan untuk kembali menyatukan masyarakat dalam satu tujuan. Demokrasi desa, baginya, bukan ruang untuk memperlebar perbedaan, melainkan kesempatan bagi masyarakat menentukan arah masa depan desa secara dewasa dan bermartabat.
Ia pun mengingatkan bahwa kemenangan dalam kontestasi bukanlah tujuan akhir. Jika kelak mendapat kepercayaan masyarakat, tantangan sesungguhnya adalah membuktikan kepercayaan tersebut melalui kerja nyata.
“Satu Hati untuk Sayan” menjadi pesan yang ingin ia titipkan kepada seluruh masyarakat. Semangat itu dipadukan dengan cita-cita Tri Hita Siddhi Sayan Bersinar untuk membangun desa yang sejahtera, harmonis dan mandiri.
“Bersih Hati, Tulus Mengabdi, Nyata Bekerja, Siap Melayani,” menjadi prinsip yang ia bawa dalam perjalanan tersebut.
Dengan nomor urut 1, I Ketut Gede Kesumawijaya mengajak masyarakat Sayan menjadikan momentum Pilkel sebagai bagian dari perjalanan bersama—menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan pilihan dan menatap masa depan desa dengan semangat kebersamaan. (Tim Newsyess)