Gianyar, BerandaBali.id – Tahapan Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Tulikup periode 2026–2034 memasuki salah satu momentum penting dengan dilaksanakannya pengundian nomor urut calon Perbekel, Kamis (27/8/2026), di Kantor Desa Tulikup, Kabupaten Gianyar.
Salah satu calon Perbekel Desa Tulikup, Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., atau yang akrab disapa Tut Nata, turut hadir dalam proses pengundian tersebut. Dalam pengundian itu, Tut Nata mendapatkan nomor urut 3, angka yang langsung disambutnya sebagai nomor istimewa dan memiliki makna filosofis yang kuat bagi perjuangannya membangun Desa Tulikup.
Bagi Tut Nata, angka tiga bukan sekadar nomor peserta dalam kontestasi Pilkel. Angka tersebut dimaknainya sebagai simbol dari tiga kekuatan utama dalam kehidupan, yakni pikiran, ucapan, dan tindakan. Ketiganya harus berjalan searah, konsisten, dan tidak boleh saling bertentangan.
Filosofi tersebut kemudian dituangkan dalam slogan yang selama ini dibawanya, yakni “JAS: Jemet, Anteng, Seken.” Slogan itu menjadi pijakan bagi Tut Nata untuk menegaskan komitmennya agar apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan tetap berada dalam satu garis perjuangan.
“Bagi saya, nomor tiga adalah nomor istimewa karena sesuai dengan slogan yang saya bangun. Nomor tiga itu kekuatan pikiran, ucapan dan tindakan yang kemudian saya implementasikan melalui slogan JAS, yakni Jemet, Anteng, Seken,” ujarnya usai pengundian nomor urut.
Menurutnya, konsistensi antara pikiran, ucapan, dan tindakan merupakan hal penting dalam membangun kepercayaan masyarakat. Seorang pemimpin, kata dia, tidak cukup hanya menyampaikan gagasan, tetapi harus mampu membuktikannya melalui tindakan nyata.
Tut Nata juga mengaitkan angka tiga dengan simbol Tridatu, yang terdiri atas warna merah, putih, dan hitam. Baginya, simbol tersebut memiliki makna kekuatan dan keseimbangan yang menjadi bagian dari keyakinannya dalam menjalani tahapan Pilkel Desa Tulikup.
Dengan mendapatkan nomor urut 3, Tut Nata mengaku semakin optimistis menghadapi seluruh rangkaian Pilkel. Namun, ia menegaskan bahwa kemenangan bukan satu-satunya tujuan yang harus dikejar dalam sebuah proses demokrasi di tingkat desa.Justru, menurutnya, kualitas proses demokrasi harus menjadi perhatian bersama.
“Yang penting bagi saya adalah prosesnya. Masyarakat harus aktif berpartisipasi mengikuti setiap tahapan, mulai dari pencalonan, mengawal proses, sampai menerima hasil Pilkel dengan lapang dada. Harus siap menang dan siap kalah,” tegasnya.
Ia berharap pelaksanaan Pilkel Desa Tulikup dapat menjadi contoh bagaimana demokrasi di tingkat desa dijalankan secara sehat, dewasa, dan bermartabat. Menurutnya, masyarakat tidak hanya perlu didorong untuk memilih, tetapi juga perlu mendapatkan edukasi mengenai bagaimana proses demokrasi berlangsung.
Bagi Tut Nata, demokrasi bukan sekadar persoalan mencari kemenangan. Apabila prosesnya tidak berjalan dengan baik, kemenangan yang diperoleh pun dinilainya tidak akan memiliki makna yang kuat.
“Kalau prosesnya tidak bagus, kemenangan tidak akan berarti apa-apa. Tetapi kalau prosesnya bagus, dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil, maka kemenangan masing-masing menjadi kemenangan yang berkualitas,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat Desa Tulikup untuk bersama-sama menjaga suasana Pilkel agar tetap kondusif. Perbedaan pilihan, menurutnya, merupakan bagian yang wajar dalam demokrasi dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memecah persaudaraan masyarakat.
“Proses ini harus menjadi bagian dari pendidikan dan edukasi kepada masyarakat supaya memahami bagaimana demokrasi berjalan di desa. Kedaulatan rakyat itu juga ada di desa, mulai dari proses pencalonan sampai pelantikan,” sebutnya.
Mendapat nomor urut 3, Tut Nata menyatakan dirinya optimistis dapat memenangkan Pilkel Desa Tulikup periode 2026–2034. Optimisme tersebut bukan semata-mata karena angka yang diperolehnya, melainkan karena ia meyakini setiap tahapan yang dijalani merupakan bagian dari jalan perjuangan yang harus dilakukan secara konsisten.
“Tentu saya yakin. Bagi saya, ini adalah jalan yang harus dijalani. Dimulai dengan tiga kekuatan, yaitu pikiran, ucapan dan tindakan, melalui JAS—Jemet, Anteng, Seken. Jadi harus konsisten, tidak berubah antara apa yang dipikirkan, apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan,” ucapnya.
Dirinya berharap, semangat tersebut dapat menjadi landasan dalam membangun Tulikup yang lebih baik, maju, berdaya, dan sejahtera.
Tut Nata menekankan, Pilkel bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan suara terbanyak, tetapi juga tentang bagaimana seluruh masyarakat mampu menjaga persatuan sebelum, selama, maupun setelah proses pemilihan berlangsung.
Baginya, siapa pun yang nantinya mendapatkan mandat masyarakat harus mampu menghormati pilihan rakyat dan melanjutkan pembangunan desa dengan semangat kebersamaan.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga proses demokrasi ini tetap baik. Siapa pun yang menang nantinya harus bisa diterima sebagai bagian dari kedaulatan masyarakat,” tutupnya.
Dengan nomor urut 3 dan filosofi JAS—Jemet, Anteng, Seken, Tut Nata kini melanjutkan tahapan Pilkel dengan membawa optimisme sekaligus pesan agar pesta demokrasi Desa Tulikup tidak kehilangan nilai persaudaraan, kejujuran, dan kedewasaan berdemokrasi.(TBB)