GIANYAR | Berandabali.id — Kontestasi Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, memasuki babak yang semakin menarik. Di antara lima kandidat yang akan bertarung, nama I Gusti Ngurah Alit Palguna, ST., atau yang akrab disapa Rah Djarum, hadir dengan nomor urut 3 dan membawa gagasan perubahan yang bertumpu pada transparansi, penguatan ekonomi desa, serta pemberdayaan generasi muda.
Bagi Rah Djarum, maju dalam Pilkel Desa Bona bukan sekadar soal memenangkan kontestasi. Lebih dari itu, ia ingin membawa pengalaman yang selama ini diperolehnya dalam mengelola keuangan dan kegiatan Desa Adat ke dalam tata kelola pemerintahan desa.
Saat ini, Rah Djarum dipercaya sebagai bendahara Desa Adat, sebuah posisi yang menurutnya memberikan pengalaman langsung dalam mengelola keuangan, menyusun laporan, melakukan pengawasan, sekaligus memastikan setiap kegiatan dapat berjalan secara efektif.
Ia mengungkapkan, sejak dipercaya menjadi bendahara pada 2 Januari 2024, berbagai kegiatan Desa Adat yang sebelumnya mengalami defisit perlahan mampu dibenahi.
“Dulu ada kegiatan yang minus, sekarang bisa plus. Yodalan dulu minus, sekarang plus. Ini soal efektivitas, pengawasan dan bagaimana uang dikelola dengan benar,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi modal penting apabila masyarakat memberikan kepercayaan untuk memimpin Desa Bona.
Ia meyakini, pemerintahan desa harus mampu mengelola potensi dan sumber daya yang dimiliki secara produktif. Dana yang masuk ke desa tidak semestinya hanya habis untuk kegiatan rutin, tetapi dapat diarahkan untuk menciptakan sumber pendapatan baru yang pada akhirnya kembali memberikan manfaat kepada masyarakat.
Salah satu potensi yang menurutnya bisa dikembangkan adalah pengelolaan aset desa, termasuk pasar dan ruang usaha masyarakat. Dari pengelolaan tempat usaha tersebut, desa dapat memperoleh pendapatan sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.
“Artinya, bagaimana kita menciptakan sumber pendapatan baru. Aset yang dimiliki desa bisa dikelola menjadi usaha yang menghasilkan, sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya.
Membawa Harapan Leluhur ke Masa Depan
Rah Djarum juga membawa sebuah harapan yang menurutnya telah lama hidup di tengah masyarakat Bona.
Ia menyebut, para leluhur yang dahulu membangun dan membentuk Desa Bona memiliki cita-cita agar generasi berikutnya mampu hidup lebih sejahtera. Harapan itu, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu.
Karena itu, pembangunan desa harus diarahkan agar anak-anak muda Bona memiliki kesempatan yang lebih luas untuk bekerja, berkembang dan menciptakan masa depan di atas kaki sendiri.
“Harapan para leluhur sejak dulu adalah bagaimana mereka dan anak cucunya bisa hidup lebih baik. Bagi saya, harapan itu harus kita wujudkan dengan membuka peluang dan menciptakan ruang bagi generasi muda,” ungkapnya.
Generasi Muda Jadi Prioritas
Salah satu gagasan yang menjadi perhatian Rah Djarum adalah peningkatan peluang kerja bagi generasi muda.
Ia menyadari, seorang calon perbekel tidak bisa menjanjikan seluruh program secara sepihak. Penggunaan anggaran desa harus melalui mekanisme perencanaan dan pembahasan bersama, melibatkan BPD serta masyarakat.
Namun, ia akan memperjuangkan agar setiap proses musyawarah desa memberi ruang besar bagi program pemberdayaan anak muda.
Salah satunya adalah memfasilitasi generasi muda yang ingin bekerja ke luar negeri secara resmi dan aman. Desa, kata dia, dapat mengambil peran dalam memberikan informasi, pendampingan, pelatihan maupun fasilitasi pembiayaan sesuai mekanisme yang diperbolehkan.
“Kalau untuk anak muda, harapan saya adalah peningkatan peluang mereka mendapatkan pekerjaan. Salah satunya membuka akses untuk bekerja ke luar negeri dengan dukungan dan fasilitasi desa,” jelasnya.
Selain lapangan kerja, ia melihat potensi besar pada sektor seni yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bona.
Bona memiliki banyak anak muda yang memiliki kemampuan seni, termasuk berbagai keterampilan turunannya. Potensi tersebut, menurutnya, harus diarahkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif.
Ketika ada festival seni atau kegiatan pariwisata di kawasan Bali, ia ingin seniman dan pekerja kreatif dari Bona mendapatkan kesempatan tampil sekaligus memperoleh penghasilan.
“Kita punya seni yang bagus. Banyak anak muda kita punya talenta. Itu harus ditingkatkan, bukan hanya menjadi kegiatan budaya, tetapi juga bisa menjadi sumber ekonomi,” katanya.
UMKM dan Persoalan Klasik: Pemasaran
Rah Djarum juga menaruh perhatian pada pelaku UMKM di Desa Bona.
Menurutnya, masyarakat Bona memiliki kemampuan belajar yang cepat dan banyak di antaranya mempunyai keterampilan. Persoalan yang sering menjadi kendala bukan pada kemampuan produksi, tetapi bagaimana produk tersebut bisa dipasarkan secara lebih luas.
Karena itu, pemerintah desa ke depan, menurutnya, harus menjadi jembatan antara pelaku UMKM dengan dunia industri, pasar dan jaringan pemasaran.
“Bona sebenarnya punya banyak orang yang cepat belajar dan bertalenta. Masalahnya sering kali adalah pemasaran. Peran pemerintah desa adalah menghubungkan mereka dengan industri dan pasar,” ujarnya.
Ia juga mendorong pengembangan berbagai keterampilan yang memiliki peluang kerja langsung, seperti mengemudi, salon, menjahit, hingga seni ukir.
Dengan berkembangnya sektor pariwisata, keterampilan tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi sumber pendapatan masyarakat.
Literasi Keuangan hingga Pendidikan Survival
Gagasan Rah Djarum tidak berhenti pada pembangunan fisik dan ekonomi. Ia juga ingin memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak usia muda.
Salah satu yang menurutnya masih kurang mendapat perhatian adalah literasi keuangan.
Anak-anak, kata dia, perlu diperkenalkan sejak dini tentang bagaimana mengelola uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, menabung, serta memahami perencanaan keuangan.
Selain itu, ia ingin ada edukasi mengenai kemampuan bertahan hidup atau survival skill, termasuk kebersihan diri, menjaga lingkungan, kesehatan keluarga, pengelolaan emosi dan berbagai keterampilan kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, pendidikan seperti itu sangat penting agar generasi muda tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga mampu mengelola kehidupan dan mengambil keputusan dengan baik.
“Literasi keuangan, emosional, menjaga diri, menjaga lingkungan dan hal-hal dasar dalam kehidupan itu perlu dikenalkan kepada anak-anak sejak muda,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya edukasi bagi generasi muda mengenai kehidupan keluarga, pernikahan dan bagaimana menjaga diri serta membangun hubungan yang sehat.
Ingin Mengikis Oligarki, Membuka Ruang untuk Semua
Rah Djarum mengakui, Desa Bona memiliki ikatan kekeluargaan yang sangat kuat. Hampir separuh masyarakat memiliki hubungan kekerabatan satu sama lain.
Kondisi tersebut menurutnya merupakan kekuatan sosial yang harus dijaga, tetapi jangan sampai berubah menjadi sekat yang membuat kesempatan hanya berputar di kelompok tertentu.
Karena itu, ia membawa semangat untuk membuka ruang yang lebih luas bagi seluruh masyarakat, khususnya generasi muda.
Ia menyebut dirinya sebagai sosok yang cukup lama melihat kehidupan masyarakat dari luar desa. Pengalaman sekitar 11 tahun berada di luar Bona membuatnya melihat banyak hal yang kemudian ingin dibawa pulang untuk membangun desa.
“Saya pernah berada di luar cukup lama. Dari luar saya melihat bagaimana desa-desa berkembang. Pemikiran-pemikiran yang saya dapat dari luar itu ingin saya bawa kembali ke Bona,” katanya.
Kuda Hitam Nomor Urut 3
Dalam kontestasi Pilkel Desa Bona yang diikuti lima calon, Rah Djarum mengaku awalnya tidak banyak diperhitungkan.
Ia menyebut dirinya sebagai orang baru dalam politik desa, relatif muda dan tidak memiliki pengalaman panjang dalam dunia politik.
Namun, perkembangan dinamika masyarakat membuat namanya semakin diperbincangkan. Bahkan, ia menyebut dirinya kini mulai dilihat sebagai salah satu kandidat yang berpotensi menjadi kuda hitam.
Dukungan dari kelompok muda dan generasi milenial menjadi salah satu energi yang membuatnya semakin percaya diri.
Bagi Rah Djarum, nomor urut 3 bukan sekadar angka dalam surat suara. Ia ingin menjadikannya sebagai simbol keberanian untuk membawa gagasan baru, tata kelola yang lebih transparan, ekonomi desa yang lebih produktif, serta masa depan yang lebih terbuka bagi generasi muda.
“Kalau masyarakat Bona memberikan kepercayaan, saya siap membuktikannya,” tegasnya.
Kini, pilihan berada di tangan masyarakat Desa Bona. Lima calon membawa gagasan masing-masing. Namun di tengah pertarungan tersebut, Rah Djarum hadir dengan satu pesan utama: desa tidak hanya membutuhkan pembangunan yang terlihat oleh mata, tetapi juga perubahan yang dirasakan dalam kehidupan masyarakat.
Dari tata kelola keuangan, pengembangan aset desa, penguatan UMKM, seni dan ekonomi kreatif, hingga membuka jalan kerja bagi generasi muda—semuanya bermuara pada satu cita-cita: membuat Desa Bona semakin mandiri, produktif dan memberikan ruang yang adil bagi seluruh warganya. (Tim Newsyess)