Gianyar, BerandaBali.id – Persaingan menuju Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Tulikup, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, kian menarik. Memasuki 19 hari menjelang hari pemungutan suara, nama Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., atau yang akrab disapa Tut Nata, nama kecilnya Tut Lengoh masih berada di posisi teratas dalam polling yang digelar Redaksi Newsyess.
Polling yang berlangsung melalui halaman Redaksi Newsyess sejak 1 Juli hingga 18 Agustus 2026 itu memperlihatkan jarak dukungan yang cukup lebar di antara tiga calon Perbekel Tulikup.
Dalam polling dengan pertanyaan “Siapa Calon Kepala Desa Tulikup?”, Tut Lengoh yang merupakan calon nomor urut 1 memperoleh 78,10 persen dukungan peserta polling.
Sementara calon nomor urut 2, Drs. I Dewa Putu Gde Sedia, berada di posisi kedua dengan 10,92 persen. Adapun calon nomor urut 3, I Made Ardika, memperoleh 4,47 persen dukungan.
Angka tersebut menunjukkan Tut Lengoh masih mendominasi preferensi peserta polling Redaksi Newsyess dengan selisih yang cukup signifikan dari dua kandidat lainnya.
Unggul di Polling, Bukan Berarti Menang di Pemilihan
Meski angka 78,10 persen terlihat dominan, hasil polling tersebut tidak dapat dijadikan sebagai hasil prediksi resmi maupun jaminan kemenangan dalam Pilkel Tulikup.
Polling redaksi merupakan gambaran partisipasi dan preferensi masyarakat atau pengguna yang mengikuti jajak pendapat di ruang digital. Sementara keputusan politik yang sesungguhnya akan ditentukan oleh masyarakat yang memiliki hak pilih pada hari pemungutan suara.
Dengan kata lain, unggul di polling belum berarti unggul di bilik suara.
Justru, dengan waktu menuju pemilihan yang semakin dekat, ketiga calon masih memiliki ruang untuk meyakinkan masyarakat melalui visi, misi, program, rekam jejak, serta pendekatan langsung kepada warga.
Tut Lengoh dan Gagasan “JAS”
Tut Nata bukan nama baru dalam pengabdian pemerintahan dan masyarakat. Ia memiliki pengalaman panjang sekitar 33 tahun di bidang peternakan dan kesehatan hewan di Provinsi Bali sebelum memasuki masa pensiun.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu modal yang dibawa dalam pencalonannya sebagai Perbekel Desa Tulikup periode 2026–2034.
Dalam kontestasi Pilkel kali ini, Tut Lengoh mengusung tagline “JAS”, yang merupakan singkatan dari Jemet, Anteng, Seken.
Tagline tersebut menjadi bagian dari semangat yang ia tawarkan kepada masyarakat Tulikup, dengan membawa pengalaman dan pengabdian yang dimilikinya untuk kembali hadir di tengah masyarakat desa.
Keputusan maju dalam Pilkel Tulikup juga disebut tidak semata-mata didorong oleh ambisi politik, tetapi berangkat dari keinginan untuk memberikan kontribusi lebih luas setelah puluhan tahun mengabdi.
19 Hari yang Bisa Mengubah Peta Persaingan
Memasuki fase akhir menuju pemilihan, hasil polling Redaksi Newsyess menjadi salah satu potret menarik dalam dinamika Pilkel Tulikup 2026.
Namun, perjalanan politik di tingkat desa tidak selalu berjalan lurus. Dalam 19 hari terakhir, berbagai kemungkinan masih dapat terjadi. Dukungan dapat berubah, pemilih dapat menentukan pilihan setelah melihat program dan rekam jejak calon, serta dinamika di tengah masyarakat juga masih terus bergerak.
Karena itu, angka polling sebaiknya ditempatkan sebagai cermin respons publik di ruang digital, bukan sebagai hasil akhir kontestasi.
Pada akhirnya, masyarakat Tulikuplah yang akan memberikan keputusan melalui suara mereka.
Tiga Calon, Satu Kepercayaan
Pilkel Tulikup 2026 mempertemukan tiga figur dengan latar belakang dan kekuatan masing-masing.
Ketiganya memiliki kesempatan yang sama untuk merebut kepercayaan masyarakat dan menawarkan gagasan terbaik bagi masa depan Desa Tulikup.
Hasil polling Redaksi Newsyess hingga 18 Agustus 2026 tercatat:
1. Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A. — 78,10 persen
2. Drs. I Dewa Putu Gde Sedia — 10,92 persen
3. I Made Ardika — 4,47 persen
Besarnya dukungan terhadap Tut Lengoh dalam polling menjadi sinyal bahwa namanya mendapat respons kuat dari peserta jajak pendapat Redaksi Newsyess.
Tetapi 19 hari menjelang pemilihan bukanlah garis finis.
Masih ada waktu bagi setiap calon untuk menyapa warga, menjelaskan program, mempertajam gagasan, dan menunjukkan rekam jejak pengabdian.
Sebab pada hari pemungutan suara nanti, bukan angka polling yang akan berbicara.
Bilik suara masyarakat Tulikuplah yang akan menjadi penentu.
Dan ketika suara rakyat telah dihitung, di sanalah jawaban sesungguhnya tentang siapa yang dipercaya memimpin Tulikup untuk periode mendatang akan lahir.(TBB)