Gianyar, BerandaBali.id – Desa Sayan tidak hanya memiliki panorama alam dan denyut pariwisata yang menjadi daya tarik kawasan Ubud. Di balik itu, tersimpan potensi ekonomi masyarakat yang tumbuh dari rumah-rumah warga, warung kecil, usaha kuliner, kerajinan, jasa, pertanian hingga berbagai produk UMKM lokal.
Potensi tersebut dinilai perlu mendapat ruang yang lebih besar agar tidak hanya bertahan, tetapi mampu naik kelas, memiliki pasar yang lebih luas dan menjadi sumber kesejahteraan keluarga.
Gagasan inilah yang menjadi salah satu perhatian I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag., Calon Perbekel Desa Sayan nomor urut 1, dalam Pemilihan Perbekel Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.
Melalui konsep “Dedikasi Murni Mewujudkan Tri Hita Siddhi Sayan Bersinar”, Ketut Gede Kesumawijaya menempatkan penguatan ekonomi kerakyatan sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun desa.
Baginya, pembangunan desa tidak cukup hanya diukur dari infrastruktur yang berdiri.
Desa yang maju adalah desa yang mampu membuat masyarakatnya produktif, mandiri dan memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan.
Karena itu, UMKM lokal tidak boleh hanya menjadi pelengkap pembangunan ekonomi desa.
UMKM harus menjadi salah satu mesin utama penggerak ekonomi masyarakat.
Dari Usaha Rumahan Menjadi Produk Unggulan Desa
Salah satu gagasan yang dibawa Ketut Gede Kesumawijaya adalah mendorong agar usaha masyarakat tidak berhenti pada skala rumah tangga.
Pelaku UMKM perlu mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan, mulai dari peningkatan kualitas produk, pengemasan, legalitas usaha, pemasaran, hingga akses permodalan.
Produk lokal Sayan, menurut gagasan tersebut, perlu dipetakan dan dikembangkan sehingga desa memiliki identitas produk yang kuat.
Bukan hanya menjual barang.
Tetapi menjual cerita, kualitas dan identitas Desa Sayan.
Produk kuliner lokal, kerajinan, hasil pertanian, produk olahan, hingga berbagai usaha kreatif masyarakat dapat diarahkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa.
Dengan demikian, wisatawan yang datang ke Sayan tidak hanya menikmati alam dan budaya, tetapi juga membawa pulang produk yang menjadi representasi masyarakat setempat.
Konsep tersebut sekaligus membuka peluang agar uang yang berputar di kawasan pariwisata dapat lebih banyak dirasakan masyarakat lokal.
Digitalisasi Jadi Jalan Membuka Pasar
Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat, pemasaran UMKM tidak lagi cukup mengandalkan toko fisik atau pembeli yang datang langsung.
Karena itu, digitalisasi menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan ekonomi masyarakat.
Pelaku UMKM akan didorong memahami pemasaran melalui media sosial, marketplace, fotografi produk, pembuatan konten, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jaringan pemasaran.
Pendampingan juga diarahkan pada penguatan identitas merek atau branding produk lokal.
Sebab produk yang bagus harus memiliki kemasan dan cerita yang mampu membuat konsumen mengenal sekaligus mengingatnya.
Dari Sayan untuk Bali.
Dari Bali menuju pasar nasional.
Bahkan tidak menutup kemungkinan menuju pasar global.
Semangatnya adalah membuat produk masyarakat tidak hanya dikenal di lingkungan banjar, tetapi mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Legalitas dan Sertifikasi Jangan Menjadi Hambatan
Salah satu persoalan yang sering dihadapi pelaku usaha kecil adalah keterbatasan pengetahuan mengenai legalitas.
Karena itu, gagasan pengembangan UMKM juga mencakup pendampingan dalam pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT dan sertifikasi halal sesuai jenis produk dan ketentuan yang berlaku.
Legalitas bukan sekadar administrasi.
Bagi pelaku UMKM, legalitas dapat menjadi pintu untuk memperluas pemasaran, mengikuti berbagai kegiatan pameran, menjalin kerja sama dengan pihak lain serta meningkatkan kepercayaan konsumen.
Dengan pendampingan yang tepat, pelaku usaha kecil diharapkan tidak lagi merasa berjalan sendirian ketika ingin mengembangkan bisnisnya.
BUMDes, Koperasi dan LPD Didorong Bersinergi
Pengembangan UMKM juga tidak bisa dilepaskan dari akses permodalan.
Karena itu, Ketut Gede Kesumawijaya memasukkan penguatan BUMDes, koperasi dan LPD sebagai bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat.
Ketiganya diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dapat menjadi bagian dari sistem yang saling mendukung.
UMKM membutuhkan modal.
Masyarakat membutuhkan akses pembiayaan.
Produk membutuhkan pasar.
Sementara desa membutuhkan sumber pendapatan baru.
Di sinilah BUMDes dapat mengambil peran melalui pengembangan unit usaha yang sesuai dengan potensi lokal.
Koperasi dapat memperkuat ekonomi bersama.
Sedangkan LPD tetap menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat adat yang dapat mendukung aktivitas produktif krama sesuai ketentuan dan perannya.
Dengan sinergi tersebut, diharapkan lahir ekosistem ekonomi desa yang tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata.
UMKM Terhubung dengan Pariwisata Sayan
Posisi Desa Sayan yang berada di kawasan Ubud juga membuka peluang besar untuk menghubungkan UMKM dengan sektor pariwisata.
Wisatawan tidak hanya diarahkan untuk datang menikmati destinasi.
Mereka juga dapat diperkenalkan kepada produk lokal masyarakat.
Konsepnya sederhana tetapi memiliki dampak ekonomi yang besar.
Restoran dapat menggunakan produk lokal.
Akomodasi dapat mempromosikan kerajinan masyarakat.
Pemandu wisata dapat mengenalkan produk unggulan desa.
Homestay dapat menyediakan produk kuliner lokal.
Dan pusat oleh-oleh dapat menjadi ruang pemasaran bagi UMKM Sayan.
Dengan pola tersebut, pariwisata tidak hanya menjadi sektor yang dinikmati oleh pelaku usaha tertentu, tetapi dapat menciptakan rantai ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat desa.
Wisatawan datang membawa uang, masyarakat lokal mendapatkan manfaat.
Itulah semangat ekonomi kerakyatan yang ingin dikembangkan.
Perempuan dan Generasi Muda Jadi Kekuatan Baru
Pengembangan UMKM juga diarahkan untuk membuka ruang lebih besar bagi perempuan dan generasi muda.
Banyak usaha kecil lahir dari tangan perempuan di rumah.
Mulai dari kuliner, kerajinan, jasa, produk olahan hingga usaha kreatif.
Potensi tersebut perlu diperkuat melalui pelatihan, pendampingan dan akses pasar.
Sementara generasi muda dapat didorong masuk ke sektor ekonomi kreatif dengan memanfaatkan kemampuan mereka di bidang teknologi, desain, fotografi, videografi, pemasaran digital dan content creation.
Dengan demikian, anak-anak muda Sayan tidak hanya menjadi penonton perkembangan pariwisata.
Mereka harus menjadi bagian dari pelaku ekonomi baru desa.
Pertanian Tetap Menjadi Fondasi
Penguatan ekonomi masyarakat juga tidak berarti meninggalkan sektor pertanian.
Sebaliknya, pertanian dapat menjadi sumber bahan baku sekaligus bagian dari rantai ekonomi UMKM.
Hasil pertanian masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah.
Konsep tersebut dapat berjalan beriringan dengan penguatan Subak, ketahanan pangan, jalan usaha tani dan pengembangan ekonomi berbasis potensi desa.
Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjual hasil produksi dalam bentuk mentah, tetapi memiliki kesempatan memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar melalui proses pengolahan dan pemasaran.
SAYAN Bersinar, Ekonomi Masyarakat Harus Ikut Bersinar
Gagasan pengembangan UMKM tersebut menjadi bagian dari kerangka besar SAYAN Bersinar.
S berarti Sejahtera dan Sumber Daya Optimal.
A berarti Aman serta Asah-Asih-Asuh.
Y berarti Yasa Kerthi dan Yadnya.
A berarti Ajeg dan Asri.
Sedangkan N berarti Nata Desa dan Niti Dharma.
Di dalam kerangka tersebut, kesejahteraan masyarakat menjadi salah satu tujuan utama.
Karena desa yang bersinar bukan hanya desa dengan wajah yang indah.
Tetapi desa yang masyarakatnya mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Desa yang pelaku UMKM-nya tumbuh.
Desa yang anak mudanya memiliki ruang berkarya.
Desa yang perempuan-perempuannya memiliki kesempatan mengembangkan usaha.
Desa yang petaninya memperoleh nilai tambah.
Dan desa yang potensi pariwisatanya benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.
Di Balik Gagasan, Ada Doa Keluarga
Dalam perjalanan menuju Pilkel Desa Sayan, Ketut Gede Kesumawijaya juga mendapat dukungan dari keluarga.
Istri tercinta, Ni Nyoman Srimnis Sadmerti, S.E., serta tiga anaknya menjadi bagian dari kekuatan moral dalam setiap langkah pencalonan.
Begitu pula doa seorang ibu yang menjadi pengingat agar setiap perjuangan tetap dijalankan dengan ketulusan.
Sebab bagi keluarga, kemenangan bukan semata tentang memperoleh jabatan.
Yang lebih penting adalah ketika kepercayaan masyarakat kelak dapat dijawab dengan kerja nyata.
Termasuk bagaimana menghadirkan kesempatan ekonomi bagi masyarakat kecil.
Karena di balik setiap UMKM, ada keluarga yang menggantungkan harapan.
Di balik sebuah warung kecil, ada biaya sekolah anak yang harus dibayar.
Di balik usaha rumahan, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi.
Dan di balik seorang pelaku usaha kecil yang terus bertahan, ada mimpi agar kehidupan keluarganya menjadi lebih baik.
Karena itu, memperkuat UMKM sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang ekonomi.
Tetapi berbicara tentang menjaga harapan keluarga-keluarga di Desa Sayan.
Nomor Urut 1, Membawa Gagasan Ekonomi Kerakyatan
I Ketut Gede Kesumawijaya resmi menjadi salah satu calon Perbekel Desa Sayan setelah mendaftarkan diri pada 17 Juli 2026 dan ditetapkan sebagai calon pada 17 Agustus 2026.
Dalam pengundian nomor urut, ia memperoleh nomor urut 1, disusul Drh. I Wayan Arimbawa, M.Si. nomor urut 2 dan I Made Suwitra nomor urut 3.
Kini, masyarakat Sayan memiliki ruang untuk menilai berbagai gagasan dan program yang ditawarkan masing-masing calon.
Bagi Ketut Gede Kesumawijaya, pembangunan desa harus menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat.
Jalan dan infrastruktur memang penting.
Tetapi membuka akses pasar bagi UMKM juga penting.
Membangun fasilitas memang penting.
Namun menciptakan lapangan usaha dan memperkuat ekonomi keluarga jauh lebih penting.
Sebab ketika UMKM tumbuh, keluarga memiliki penghasilan.
Ketika keluarga sejahtera, masyarakat menjadi lebih kuat.
Dan ketika masyarakat kuat, desa akan memiliki fondasi yang kokoh untuk berkembang.
Sayan Bersinar pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana desa terlihat maju dari luar, tetapi bagaimana masyarakatnya tumbuh dari dalam.
Dari usaha kecil menjadi usaha yang kuat.
Dari produk lokal menjadi produk unggulan.
Dari pasar desa menuju pasar yang lebih luas.
Dan dari kerja masyarakat hari ini, lahir kesejahteraan untuk generasi Sayan di masa depan.(TBB)