Ubud,BerandaBali.id – Di antara kidung suci, doa, dan khidmatnya pujawali, terselip sebuah pesan tentang pengabdian. I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag., calon Perbekel Desa Sayan nomor urut 1, hadir dalam rangkaian Pujawali dan Padudusan di Pura Taman Sari, Banjar Taman Kelod, Kelurahan Ubud, Kamis (17/9/2026).
Kehadirannya bukan semata sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menjelang Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Sayan.
Lebih dari itu, momen tersebut dimaknai sebagai bentuk sembah bhakti, penghormatan terhadap adat dan budaya, sekaligus ruang untuk mendengar langsung harapan serta aspirasi masyarakat.
Dengan membawa semangat “Satu Hati untuk Sayan”, Kesumawijaya hadir untuk berinteraksi dengan semeton, menghaturkan sembah bhakti, sekaligus memohon doa restu, dukungan, bimbingan, dan arahan agar setiap proses yang dijalani, baik dalam Pilkel maupun apabila mendapat amanah dalam penyelenggaraan pemerintahan Desa Sayan, senantiasa berada di jalan yang benar.
Dalam kesempatan tersebut, digelar rangkaian penghormatan kepada Ratu Susuhunan Mas ring Payogan Ida ring Pura Kahyangan Dalem sareng Ratu Sakti Lanang Istri, yang katur dalam rangkaian Pujawali dan Padudusan di Pura Taman Sari.
Kegiatan dihadiri para Pemangku Lanang Istri, Jro Bandesa Desa Adat Penestanan, Angga Kelihan Adat lan Dinas se-Desa Adat Penestanan, masyarakat Desa Adat Penestanan Kaja dan Kelod, Pakis Banjar Adat Penestanan Kelod, serta yowana STT Kertha Budi Banjar Adat Penestanan Kelod dan STT Werdiyasa Banjar Adat Penestanan Kaja.
Dalam kegiatan tersebut, Kesumawijaya menempatkan kehadirannya sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Ia tidak hanya menghaturkan sembah bhakti, tetapi juga membuka ruang interaksi sosial dengan semeton dan masyarakat.
Doa restu, dukungan, bimbingan, dan arahan menjadi bagian penting yang diharapkan dapat menjadi bekal dalam menjalani seluruh tahapan Pilkel.
Namun yang tidak kalah penting, kehadiran di tengah masyarakat juga menjadi kesempatan untuk mendengar secara langsung harapan, keinginan, kebutuhan, serta aspirasi warga.
Bagi Kesumawijaya, mendengar merupakan bagian penting dari kepemimpinan. Sebab sebelum mengambil keputusan untuk masyarakat, seorang pemimpin harus terlebih dahulu memahami apa yang dirasakan dan diharapkan masyarakat.
Kehadiran dalam kegiatan adat dan keagamaan juga menjadi bentuk dukungan terhadap keberlangsungan tradisi. Kesumawijaya menilai kegiatan adat, budaya, dan agama merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali yang harus terus dilestarikan dan ditumbuhkembangkan secara berkelanjutan.
Semangat “Satu Hati untuk Sayan” yang dibawa Kesumawijaya tidak hanya berbicara tentang pembangunan secara fisik. Di dalamnya terdapat gagasan tentang bagaimana pembangunan desa tetap memiliki akar yang kuat pada adat, budaya, agama, dan nilai-nilai kearifan lokal.
Baginya, kemajuan tidak harus membuat masyarakat kehilangan jati diri.
Sebaliknya, kemajuan harus berjalan berdampingan dengan pelestarian adat dan budaya, sehingga pembangunan dapat memberikan manfaat tanpa menghilangkan akar kehidupan masyarakat.
Prinsip tersebut juga tercermin dalam fungsi kegiatan yang diikutinya, yakni fungsi religius, adat-budaya, sosial-persatuan, kepemimpinan, serta penghormatan terhadap keberadaan Pura, prajuru adat, dan masyarakat.
Dalam konteks religius, kehadiran tersebut menjadi ruang untuk memohon berkat Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Bhatara-Bhatari, agar setiap langkah senantiasa dituntun menuju jalan yang terang, lurus, dan diberkati.
Sementara dari sisi adat dan budaya, kegiatan tersebut menjadi penegasan komitmen untuk menghormati adat istiadat, menjaga Ajeg Bali, serta melestarikan warisan leluhur agar tetap harmonis dengan perkembangan zaman.
Tri Hita Karana sebagai Pijakan
Nilai kepemimpinan yang ingin dibangun Kesumawijaya juga berakar pada konsep Tri Hita Karana, yakni menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan antarmanusia (Pawongan), serta hubungan manusia dengan alam (Palemahan).
Nilai tersebut dipandang sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun tata kelola desa yang harmonis dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Dalam hubungan sosial, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk merapatkan tali persaudaraan dan menumbuhkan semangat kebersamaan seluruh lapisan masyarakat.
Sebab di tempat suci, tidak ada sekat. Semua datang untuk menghaturkan sembah dan bhakti.
Semangat kesetaraan tersebut pula yang ingin dibawa dalam kehidupan pemerintahan: adil, terbuka, dan tidak membeda-bedakan masyarakat.
Jabatan adalah Amanat, Bukan Hak Milik
Salah satu nilai yang ditekankan Kesumawijaya adalah ketakwaan dan tanggung jawab moral seorang pemimpin.
Pemimpin, dalam pandangan tersebut, bukanlah pemilik kekuasaan. Jabatan merupakan amanat yang harus dipertanggungjawabkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, masyarakat, serta alam semesta.
Karena itu, seorang calon pemimpin semestinya hadir dengan kerendahan hati.
Bukan datang sebagai seseorang yang harus dilayani, tetapi sebagai warga yang memohon doa restu dan siap mendengarkan masyarakat.
Nilai tersebut juga menegaskan pentingnya kesetiaan terhadap adat istiadat, norma, nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan sosial yang telah diwariskan para leluhur.
Kemajuan desa harus tetap berpijak pada kearifan lokal dan tidak boleh membuat masyarakat melupakan asal-usulnya.
Dari Doa Menuju Pengabdian
Kehadiran Kesumawijaya di Pura Taman Sari akhirnya bukan hanya tentang sebuah kegiatan keagamaan.
Di dalamnya terdapat pesan tentang bagaimana seorang calon pemimpin ingin menempatkan diri di tengah masyarakat: datang dengan sembah bhakti, memohon restu, mendengar aspirasi, menghormati adat, dan meneguhkan komitmen untuk menjaga kebersamaan.
Sebab bagi masyarakat Bali, perjalanan pengabdian tidak hanya membutuhkan program dan gagasan, tetapi juga restu, ketulusan, keseimbangan, serta keharmonisan dengan lingkungan sosial dan budaya.
Dari pura, doa dipanjatkan.
Dari masyarakat, aspirasi didengarkan.
Dari adat, nilai kehidupan diwariskan.
Dan dari kebersamaan, harapan untuk masa depan Desa Sayan terus dinyalakan.
“Satu Hati untuk Sayan” menjadi semangat Kesumawijaya untuk mengajak seluruh elemen masyarakat berjalan bersama menjaga adat, merawat persaudaraan, mendengarkan suara warga, dan menatap masa depan desa dengan tetap berpijak pada nilai luhur yang diwariskan leluhur.
Karena membangun desa bukan sekadar membangun apa yang terlihat oleh mata, tetapi juga merawat apa yang hidup di dalam hati masyarakat. (Tim)