Calon kades Jayawijaya di Kedewatan: 30 Persen Gaji Perbekel untuk Desa Adat, Janji Turun Langsung Layani Krama

Kedewatan, BerandaBali, id— Bukan sekadar duduk di kursi Perbekel. Bukan pula hanya mengurus administrasi dari balik meja. Calon Perbekel Desa Kedewatan nomor urut 2, AKP Purn. Ngakan Nyoman Jayawijaya, menawarkan model kepemimpinan yang lebih dekat dengan masyarakat: ngayah, turun ke banjar, mendengar, memahami dan bekerja bersama warga.

Gagasan itu disampaikan Jayawijaya saat memaparkan visi dan misinya di hadapan masyarakat Br Tanggayuda dan Br Bunutan, Desa Kedewatan.

Dengan latar belakang sebagai purnawirawan kepolisian, Jayawijaya membawa pesan politik yang cukup tegas: Kedewatan membutuhkan pemimpin yang hadir di tengah masyarakat, bukan hanya terlihat ketika berada di kantor desa.

Ia menawarkan kepemimpinan dengan semangat “Ngayah Bersama, Paras-Paros, Gotong Royong” untuk mewujudkan masyarakat Kedewatan yang aman, maju, tentram dan sejahtera.

Mengawali penyampaian visi-misinya, Jayawijaya menyampaikan salam dan doa.

“Om Swastyastu. Om Awignem astu namo siddham,” ucapnya.

Kemudian dengan lugas ia menyampaikan visi yang menjadi pijakan perjuangannya:

“Ngayah Bersama, Paras-Paros, Gotong Royong untuk Mewujudkan Masyarakat Kedewatan yang Aman, Maju, Tentram dan Sejahtera.”

Politik Ngayah, Bukan Politik Kekuasaan

Bagi Jayawijaya, jabatan Perbekel bukanlah tujuan akhir.

Jabatan tersebut, menurutnya, merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Karena itu, ia membawa konsep “Ngayah Bersama” sebagai ruh kepemimpinannya.

Pemerintahan desa, kata dia, tidak boleh berjalan sendirian. Perbekel harus mampu menggandeng Desa Adat, prajuru, tokoh masyarakat, pecalang, generasi muda hingga seluruh krama Kedewatan.

Semangat paras-paros dan gotong royong harus menjadi kekuatan utama dalam membangun desa.

“Adat dan budaya adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat Kedewatan. Karena itu, pemerintah desa harus berjalan bersama dengan prajuru adat dan masyarakat,” tegasnya.

Pesan politiknya jelas: membangun Kedewatan tidak cukup dengan program di atas kertas. Harus ada kebersamaan dan kerja nyata di lapangan.

READ  Hari Tani, Pupuk Indonesia Tegaskan Petani Sebagai Prioritas Lewat Pupuk Terjangkau dan Mudah Diakses

Keamanan Jadi Harga Mati Pembangunan

Jayawijaya juga memberikan perhatian serius terhadap keamanan dan ketertiban.

Sebagai desa yang berkembang di tengah denyut pariwisata, Kedewatan membutuhkan situasi yang aman dan kondusif.

Menurutnya, tidak mungkin membangun ekonomi, pariwisata dan kesejahteraan masyarakat jika rasa aman tidak menjadi prioritas.

Karena itu, ia ingin memperkuat sinergi antara Desa Dinas, Desa Adat, pecalang, masyarakat dan aparat keamanan.

“Pondasi dari pembangunan yang maju adalah keamanan. Kalau keamanan terjaga, masyarakat nyaman, wisatawan nyaman dan aktivitas ekonomi masyarakat juga dapat berkembang,” ujarnya.

Dengan kata lain, aman dulu, baru pembangunan bisa melaju.

Sampah Jangan Hanya Jadi Urusan Pemerintah Desa

Persoalan sampah juga masuk dalam agenda utama Jayawijaya.

Ia menawarkan pengelolaan sampah berbasis banjar secara periodik dengan melibatkan para juru dan masyarakat.

Gagasannya sederhana, tetapi membutuhkan keberanian untuk dijalankan: kebersihan harus menjadi gerakan bersama.

Pemerintah desa tidak boleh hanya bergerak ketika persoalan sampah sudah menumpuk. Masyarakat pun harus dilibatkan sejak dari lingkungan banjar.

Dengan sistem yang rutin dan partisipatif, Jayawijaya ingin Kedewatan tidak hanya dikenal karena potensi pariwisatanya, tetapi juga karena kebersihan dan kenyamanan lingkungannya.

30 Persen Gaji Perbekel untuk Desa Adat

Salah satu pernyataan yang paling mencolok dalam visi-misi Jayawijaya adalah komitmennya terhadap Desa Adat.

Ia menyampaikan gagasan untuk mengalokasikan 30 persen dari gaji Perbekel setiap bulan untuk dipuniakan kepada Desa Adat di seluruh wilayah Desa Kedewatan, sesuai komitmen yang ia sampaikan kepada masyarakat.

Bagi Jayawijaya, Perbekel bukan hanya menerima hak sebagai pejabat desa, tetapi juga harus memiliki tanggung jawab moral untuk ikut memperkuat kehidupan adat.

“Jabatan Perbekel bukan semata-mata tentang kewenangan, tetapi juga tanggung jawab dan pengabdian kepada masyarakat serta desa,” tegasnya.

READ  Kesumawijaya, sebelum Gunakan Gak pilih Bersembahyang: “Mari Datang ke TPS, Gunakan Hak Pilih untuk Masa Depan Sayan

Komitmen ini menjadi salah satu pesan kuat yang ingin ditanamkan Jayawijaya: kekuasaan harus memiliki manfaat yang kembali kepada masyarakat dan desa.

Perbekel Harus Turun, Bukan Berjarak

Di bagian lain, Jayawijaya menyentil pentingnya karakter seorang pemimpin desa.

Menurutnya, Perbekel tidak boleh menciptakan jarak dengan masyarakat.

Ada tiga prinsip yang ia tekankan.

Mau mendengar.

Tahu dan memahami kemauan masyarakat.

Dan turun langsung ke tengah masyarakat.

Tiga hal tersebut menjadi ukuran kepemimpinan yang ingin ia bangun.

Sebab, menurutnya, banyak persoalan masyarakat tidak akan pernah benar-benar dipahami apabila pemimpin hanya melihat dari balik meja.

Pemimpin harus datang ke banjar. Bertemu warga. Mendengar keluhan. Melihat kondisi lapangan. Kemudian mencari solusi bersama.

Itulah politik ngayah yang ditawarkan Jayawijaya.

“Tulus, Jujur, Transparan dan Adil”

Jayawijaya pun mempertegas arah kepemimpinannya melalui slogan:

“Ngayah Bersama: Paras-Paros, Tulus, Jujur, Transparan dan Adil.”

Lima kata tersebut menjadi pesan politik yang ingin ia bawa dalam Pilkel Kedewatan.

Ia ingin tata kelola pemerintahan desa berjalan terbuka dan berkeadilan.

Tidak ada pembangunan yang hanya dinikmati kelompok tertentu. Tidak ada masyarakat yang merasa ditinggalkan.

Seluruh wilayah dan seluruh lapisan masyarakat harus mendapatkan perhatian secara proporsional.

Pilkel Bukan Sekadar Memilih Nomor

Di tengah kontestasi Pilkel Desa Kedewatan, Jayawijaya mengajak masyarakat menjadikan pesta demokrasi desa sebagai momentum memilih arah masa depan Kedewatan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan.

Perbedaan pilihan politik, menurutnya, jangan sampai merusak hubungan menyama braya yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Bali.

Siapapun yang terpilih nantinya, Kedewatan tetaplah satu.

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat menjaga Pilkel tetap aman, damai dan bermartabat.

Dan di penghujung penyampaian visi-misinya, Jayawijaya menyampaikan seruan yang menjadi identitas politiknya:

READ  Tut Lengoh calon Kades Desa tulikup Nunas Restu dan Mejaya Jaya di Griya Kertha Yoga Tulikup jelang Pilkades 

“Coblos nomor 2, tiga kali. Rahayu, tiga kali.”

Nomor 2 kini membawa satu pesan besar yang ditawarkan Jayawijaya kepada masyarakat Kedewatan:

Perbekel harus hadir.

Perbekel harus mendengar.

Perbekel harus turun.

Dan yang paling utama, Perbekel harus siap ngayah bersama masyarakat.

Sebab bagi Jayawijaya, membangun Kedewatan bukan pekerjaan satu orang. Kedewatan hanya akan maju apabila pemerintah dan masyarakat berjalan dalam satu semangat: paras-paros, gotong royong dan ngayah bersama. (Tim)

Populer

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10

Terbaru

Dari Supir Trek dan Warisan Keluarga, Bakso Balung Babi Beranak Tut Lonto Jadi Buruan Pecinta Kuliner di Bali 

Selama 37 Tahun Menekuni Aktuaria dan Hukum, Arya Bagiastra Bawa Perspektif Profesional dalam Tata Kelola PPPSRS

Mamaka Fun Run Vol. 3: Lari Lebih Besar, Komunitas Lebih Besar, Tujuan Lebih Besar

Lansia Terperosok ke Jurang Dalam di Karangasem Berhasil Dievakuasi

Pemkab Badung Berpartisipasi dalam Colours of Cultures Festival Ke-10