Gianyar, BerandaBali.id – Sosok I Made Dwiantara, S.AP., M.AP. kini menjadi salah satu figur yang membawa semangat pengabdian untuk Desa Blahbatuh. Berbekal latar belakang sebagai akademisi, pelaku usaha serta kepedulian sosial yang selama ini dijalankannya, Dwiantara memilih melangkah ke ruang pengabdian yang lebih dekat dengan masyarakat.
Pada Jumat, 17 Juli 2026, Dwiantara resmi mendaftarkan diri sebagai Calon Perbekel Desa Blahbatuh. Langkah tersebut bukan sekadar keputusan politik, tetapi menjadi bagian dari keinginannya untuk membawa pengalaman, pengetahuan dan kepedulian yang dimiliki ke tengah kehidupan masyarakat desa.
Sebagai akademisi, Dwiantara memiliki pengalaman di dunia pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Di sisi lain, pengalaman sebagai pelaku usaha memberinya perspektif tentang kemandirian, pengelolaan potensi dan pentingnya membangun jejaring. Pengalaman tersebut ingin ia satukan dengan kepedulian sosial dalam membangun Desa Blahbatuh.
Karakter kepemimpinan yang ditawarkan Dwiantara bertumpu pada satu prinsip sederhana: pemerintah desa harus dekat dengan masyarakat. Karena itu, salah satu gagasan yang dibawanya adalah penguatan pengobatan gratis dan homecare, sebagai bentuk pelayanan yang menurutnya dapat membuat pemerintah hadir hingga ke tingkat banjar.
Homecare, kata dia, nantinya bukan sekadar layanan bagi masyarakat yang sedang sakit. Program tersebut juga dapat menjadi sarana bagi pemerintah desa untuk mengetahui kondisi kesehatan warga secara lebih nyata, dari banjar ke banjar.
“Kita ingin mengoptimalkan pengobatan gratis homecare. Kita bisa menggandeng beberapa dokter muda yang ada di kawasan Blahbatuh untuk sesekali bersama-sama melakukan aksi sosial,” jelasnya di Gianyar.
Gagasan tersebut disebutnya telah mendapat respons positif dari sejumlah tenaga medis. Bahkan, terdapat dokter yang menyatakan kesediaannya untuk ikut membantu apabila program pengobatan gratis tersebut dapat direalisasikan.
Bagi Dwiantara, dukungan itu menjadi bukti bahwa pembangunan desa tidak harus selalu bergantung pada kekuatan anggaran. Desa memiliki sumber daya manusia yang besar, mulai dari dokter, akademisi, pelaku usaha, generasi muda hingga komunitas sosial yang dapat diajak bergerak bersama.
“Sudah ada yang menyatakan siap membantu. Yang mereka harapkan bukan semata-mata nilai atau uang, tetapi bagaimana masyarakat bisa sehat dan ada perhatian dari pemerintah desa, kader serta para penggerak desa,” ujarnya.
Dirinya menilai pemerintahan desa akan kehilangan makna apabila hanya bekerja berdasarkan data dan laporan tanpa pernah melihat realitas masyarakat secara langsung.
Karena itu, apabila mendapat kepercayaan memimpin Desa Blahbatuh, ia ingin kegiatan pelayanan kesehatan dilakukan secara berkala dan menyentuh setiap banjar.
Menurutnya, pemerintah desa harus mengetahui secara langsung bagaimana kondisi masyarakatnya. Dengan begitu, kebijakan yang dilahirkan tidak sekadar bersifat administratif, tetapi benar-benar berangkat dari kebutuhan warga.
“Harapan saya, dengan adanya homecare atau pengobatan gratis, setiap kegiatan di tiap-tiap banjar bisa menjadi bagian dari perubahan. Blahbatuh sehat ke depan harus menjadi sesuatu yang nyata,” sebutnya.
Dirinya menegaskan, kehadiran pemerintah bukan hanya tentang mendengar laporan dari perangkat desa.
“Pemerintah desa itu harus hadir dan tahu sendiri bagaimana situasi serta kondisi masyarakatnya di tengah masyarakat itu sendiri. Bukan hanya sekadar mendengar data dari pekerjaan yang ada,” lanjutnya.
Menurut Dwiantara, turun langsung ke tengah masyarakat merupakan bentuk perhatian yang paling sederhana sekaligus paling penting.
“Bukan hanya sekadar mendengar, bukan hanya sekadar menyajikan, tetapi melihat langsung. Itu yang lebih penting. Karena perhatian itu yang lebih penting,” katanya.
Selain sektor kesehatan, Dwiantara juga menaruh perhatian terhadap keberadaan kader desa yang selama ini menjadi salah satu ujung tombak pelayanan masyarakat.
Ia menilai keberhasilan berbagai program desa sangat ditentukan oleh mereka yang berada paling dekat dengan warga. Kader, menurutnya, bukan sekadar pelaksana program, melainkan penghubung antara pemerintah desa dengan masyarakat.
Namun, ia melihat masih terdapat persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama menyangkut kesejahteraan kader.
“Kader yang bergerak di Desa Blahbatuh masih belum maksimal dengan pendapatan yang ada. Terkadang dengan pendapatan yang sekian dan berbagai potongan, masih ada beberapa keluhan,” paparnya.
Jika dipercaya menjadi Perbekel, Dwiantara berencana melakukan penataan dan penguatan terhadap para kader. Ia ingin kesejahteraan mereka menjadi salah satu bagian dari skala prioritas pemerintahan desa.
Sebab, menurutnya, pelayanan yang baik hanya dapat lahir dari sumber daya manusia yang memiliki semangat, kapasitas dan dukungan yang memadai.
“Pelayanan kepada masyarakat bisa berkualitas karena tergantung dari sumber penggeraknya. Kader merupakan salah satu penggerak utama di desa,” sebutnya.
Ia juga membuka ruang untuk menyusun berbagai proposal program yang dapat memperkuat kapasitas, peran serta kesejahteraan para kader.
Dwiantara melihat Desa Blahbatuh sesungguhnya memiliki banyak potensi. Berbagai aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi telah tumbuh, namun masih terdapat tantangan, salah satunya berkaitan dengan permodalan serta keterbatasan kemampuan anggaran desa.
Karena itu, ia menilai pemerintah desa harus hadir sebagai fasilitator sekaligus penghubung berbagai potensi tersebut agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
Kolaborasi menjadi kata kunci yang ingin ia dorong. Pemerintah desa dapat menggandeng tenaga kesehatan, akademisi, pelaku usaha, generasi muda, komunitas hingga berbagai elemen masyarakat untuk bersama-sama menggerakkan pembangunan.
Baginya, membangun Blahbatuh tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah desa seorang diri. Diperlukan kebersamaan dan rasa memiliki dari seluruh komponen masyarakat.
“Skala prioritasnya adalah bagaimana penggerak-penggerak di desa bisa bergerak lebih maksimal. Kita ingin menyehatkan warga Blahbatuh, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para kader yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan masyarakat,” cetusnya.
Profil dan pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi Dwiantara dalam menawarkan pemerintahan desa yang lebih humanis, terbuka dan dekat dengan krama.
Ia ingin pembangunan Desa Blahbatuh tidak hanya diukur dari infrastruktur yang berdiri atau jumlah program yang dilaksanakan, tetapi dari seberapa besar masyarakat merasakan manfaatnya.
Pada akhirnya, bagi Dwiantara, desa yang maju bukan hanya desa yang memiliki pembangunan fisik yang baik. Desa yang benar-benar maju adalah desa yang pemerintahnya hadir ketika masyarakat membutuhkan, mau mendengar ketika warga menyampaikan keluhan, dan turun tangan ketika persoalan muncul.
“Perhatian itu yang lebih penting. Pemerintah harus melihat langsung, hadir langsung, dan mengetahui langsung apa yang dirasakan masyarakat,” tutupnya. (TBB)