Gianyar, BerandaBali, id – Dukungan terhadap Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., atau yang akrab disapa Tut Lengoh, dalam Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Tulikup 2026 terus mengalir. Salah satu dukungan datang dari tokoh masyarakat yang pernah menjabat sebagai Bendesa Adat Tulikup Kaler periode 2011–2021, Made Darma.
Made Darma mengaku telah mengenal sosok Tut Lengoh sejak lama. Baginya, Tut Lengoh bukan sosok yang baru muncul menjelang kontestasi Pilkel. Ia mengenal perjalanan, karakter serta kepedulian Tut Lengoh terhadap masyarakat dan pembangunan Desa Tulikup.
Karena itu, ketika Tut Lengoh maju sebagai calon Perbekel Desa Tulikup dan mendapatkan nomor urut 3, Made Darma melihat ada gagasan yang patut diperjuangkan, terutama menyangkut penguatan ekonomi masyarakat melalui program “Satu Rumah Satu Sapi” berbasis kemitraan.
Menurut Made Darma, pembangunan desa membutuhkan sosok yang tidak hanya mampu berbicara mengenai perubahan, tetapi juga memahami persoalan masyarakat dari dekat.
“Saya sudah mengenal Tut Lengoh sejak lama. Jadi saya tahu bagaimana sosok beliau. Beliau memiliki pengalaman, pengetahuan dan kepedulian terhadap masyarakat. Menurut saya, gagasan-gagasan yang disampaikan sangat bagus kalau memang bisa diwujudkan untuk kepentingan warga Tulikup,” ujar Made Darma.
Ia menilai, salah satu hal menarik dari gagasan Tut Lengoh adalah upaya menjadikan sektor peternakan sebagai bagian dari kekuatan ekonomi keluarga.
Program “Satu Rumah Satu Sapi”, kata Made Darma, tidak semestinya dipahami hanya sebagai pemberian ternak kepada masyarakat. Lebih dari itu, program tersebut harus dibangun sebagai sebuah sistem yang memberikan manfaat jangka panjang.
“Kalau hanya memberikan sapi, tentu belum selesai. Harus ada bagaimana pakannya, bagaimana pemeliharaannya, bagaimana kesehatan ternaknya dan bagaimana nanti memasarkannya. Saya melihat Tut Lengoh memikirkan hal itu secara lebih luas,” katanya.
Mengenal Tut Lengoh Sejak Lama
Sebagai mantan Bendesa Adat Tulikup Kaler selama dua periode, Made Darma memahami bahwa kebutuhan masyarakat desa terus berkembang. Pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur, tetapi juga harus menyentuh sektor ekonomi keluarga.
Menurutnya, desa memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan apabila dikelola secara serius dan berbasis pengetahuan.
Di titik itulah, latar belakang Tut Lengoh sebagai dokter hewan dan akademisi dinilai menjadi salah satu modal penting.
Tut Lengoh tidak sekadar menawarkan sapi sebagai aset, tetapi mencoba membangun mata rantai ekonomi yang dimulai dari penyediaan pakan, pemeliharaan, kesehatan ternak, penggemukan hingga pemasaran.
“Beliau punya latar belakang di bidang peternakan. Jadi saya kira ketika berbicara soal sapi, beliau tidak asal bicara. Ada ilmu dan pengalaman yang menjadi dasar pemikirannya,” ujar Made Darma.
Bagi Made Darma, program yang baik adalah program yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Seekor sapi, apabila dikelola dengan benar, dapat menjadi aset produktif yang nilainya terus berkembang.
“Satu Rumah Satu Sapi”, Bukan Sekadar Bagi-Bagi Ternak
Tut Lengoh sendiri menegaskan bahwa program “Satu Rumah Satu Sapi” bukanlah program bagi-bagi sapi tanpa perhitungan.
Konsep tersebut diarahkan menjadi sistem peternakan berbasis kemitraan. Masyarakat yang memiliki kesiapan dapat memperoleh akses terhadap ternak, pendampingan, pakan, layanan kesehatan hewan hingga pemasaran.
Menurut Tut Lengoh, persoalan utama peternakan justru bukan hanya bagaimana mendapatkan sapi, tetapi bagaimana memastikan sapi tersebut dapat tumbuh sehat dan memberikan keuntungan bagi pemiliknya.
“Jangan hanya berpikir bagaimana memiliki sapi, tetapi harus dipikirkan juga apa yang dimakan sapi. Kalau semua rumah memelihara sapi, kebutuhan pakan tentu sangat besar,” ujar Tut Lengoh.
Karena itu, ia menggagas pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan baku pakan ternak.
Jerami, batang tanaman, leguminosa dan limbah organik pertanian dapat diolah melalui teknologi fermentasi sehingga menjadi pakan yang lebih awet, praktis dan memiliki kandungan nutrisi yang terukur.
Bahkan, Tut Lengoh membayangkan pakan tersebut dapat dibuat dalam bentuk balok padat yang ia analogikan sebagai “roti pakan”.
Dengan teknologi tersebut, masyarakat tidak harus setiap hari mencari rumput dalam jumlah besar. Limbah pertanian yang sebelumnya kurang bernilai dapat diubah menjadi sumber pakan yang memiliki nilai ekonomi.
CSR Perusahaan Bisa Jadi Penggerak
Gagasan Tut Lengoh juga menyentuh peran dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Menurutnya, perusahaan yang menjalankan usaha di wilayah Desa Tulikup dapat dilibatkan sebagai mitra dalam membangun ekonomi masyarakat.
CSR tidak harus berhenti pada bantuan yang sifatnya sesaat. Dukungan tersebut dapat diarahkan untuk penyediaan sapi, pembangunan kandang, pengembangan pakan, pendampingan kesehatan ternak maupun penguatan kelompok peternak.
“Ini konsep kemitraan. Jadi bukan sekadar perusahaan memberikan bantuan sapi kemudian selesai. Kita ingin ada sistem yang berkelanjutan. Perusahaan melalui CSR bisa menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat, sementara warga menjadi pelaku usaha peternakan,” kata Tut Lengoh.
Made Darma menilai pola kemitraan seperti itu justru penting agar program pemberdayaan masyarakat memiliki keberlanjutan.
Menurutnya, apabila masyarakat hanya menerima bantuan tanpa pendampingan, maka manfaatnya bisa cepat hilang. Sebaliknya, jika masyarakat dibekali sistem, pengetahuan dan akses pasar, bantuan tersebut dapat berkembang menjadi sumber pendapatan keluarga.
Dari Limbah Pertanian Menjadi Rupiah
Konsep “Satu Rumah Satu Sapi” juga menyimpan gagasan yang lebih besar: membangun mata rantai ekonomi desa.
Petani menghasilkan limbah pertanian. Limbah tersebut diolah menjadi pakan. Pakan diberikan kepada sapi. Sapi dipelihara dan digemukkan. Setelah memiliki nilai jual, ternak dipasarkan dan menghasilkan pendapatan bagi keluarga.
Dengan demikian, sektor pertanian dan peternakan dapat saling menguatkan.
Tut Lengoh ingin agar masyarakat Tulikup perlahan memiliki sistem peternakan yang modern, efisien dan berbasis ilmu pengetahuan.
Bagi Made Darma, gagasan seperti inilah yang menurutnya perlu mendapat ruang dalam pembangunan desa.
“Yang penting bagi masyarakat adalah bagaimana program itu nantinya benar-benar bisa dirasakan manfaatnya. Jangan hanya bagus di atas kertas. Kalau bisa diwujudkan, saya kira ini akan menjadi peluang ekonomi yang baik bagi warga,” katanya.
Nomor 3 dan Harapan Baru Tulikup
Dalam pengundian nomor urut calon Perbekel Desa Tulikup yang berlangsung Kamis, 27 Agustus 2026, di Kantor Desa Tulikup, Tut Lengoh mendapatkan nomor urut 3.
Nomor tersebut kini menjadi bagian dari identitas perjuangannya menuju Pilkel Tulikup 2026–2034.
Namun, bagi Made Darma, angka bukanlah yang paling utama. Yang jauh lebih penting adalah sosok yang berada di balik nomor tersebut dan gagasan yang ditawarkan kepada masyarakat.
Ia berharap masyarakat Tulikup dapat melihat setiap calon secara objektif, memahami program yang ditawarkan dan menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan yang matang.
“Saya berharap masyarakat memilih dengan hati nurani dan melihat siapa yang benar-benar punya kemampuan serta gagasan untuk membangun Tulikup. Saya sendiri mengenal Tut Lengoh sudah lama dan melihat beliau punya kepedulian serta pemikiran yang menurut saya baik untuk masyarakat,” tutur Made Darma.
Sementara Tut Lengoh menegaskan, apabila mendapat kepercayaan masyarakat untuk memimpin Desa Tulikup periode 2026–2034, dirinya ingin menjadikan program pemberdayaan ekonomi sebagai salah satu prioritas pembangunan.
Ia menyadari bahwa “Satu Rumah Satu Sapi” tidak dapat dilaksanakan secara instan. Tidak semua keluarga harus langsung memiliki sapi. Program akan disesuaikan dengan kesiapan keluarga, kemampuan pemeliharaan, ketersediaan kandang serta sistem kemitraan yang dibangun.
“Kalau saya dipercaya dan menang, saya ingin program satu rumah satu sapi ini benar-benar kita perjuangkan. Kita mulai dari kemampuan masyarakat, kemudian kita kembangkan bersama. Jangan sampai masyarakat diberi sapi, tetapi kemudian bingung memberi makan,” tegasnya.
Dukungan yang Berangkat dari Pengenalan Panjang
Dukungan Made Darma terhadap Tut Lengoh menjadi menarik karena lahir bukan semata dari momentum politik menjelang Pilkel.
Pengakuannya yang telah mengenal Tut Lengoh sejak lama menjadi gambaran bahwa pilihan politik di tingkat desa sering kali tumbuh dari hubungan sosial, rekam pengenalan, karakter dan keyakinan terhadap kemampuan seseorang.
Bagi Tulikup, Pilkel bukan sekadar memilih siapa yang akan duduk di kursi Perbekel. Di baliknya ada harapan masyarakat tentang masa depan desa, tentang ekonomi keluarga, tentang lapangan usaha dan tentang bagaimana potensi yang ada di desa dapat dikelola menjadi kesejahteraan.
Tut Lengoh dengan nomor urut 3 menawarkan gagasan “Satu Rumah Satu Sapi” sebagai salah satu jalan menuju ekonomi produktif. Made Darma, tokoh yang pernah memimpin Desa Adat Tulikup Kaler selama satu dekade, menyatakan dukungannya karena merasa telah mengenal sosok Tut Lengoh sejak lama.
Pada akhirnya, seekor sapi mungkin hanyalah seekor sapi.
Namun ketika ia dikelola dengan ilmu, didukung kemitraan dan diarahkan menjadi aset produktif, ia bisa berubah menjadi tabungan, penghasilan, bahkan harapan baru bagi sebuah keluarga.
Dari satu rumah, tumbuh satu aset. Dari banyak keluarga, tumbuh kekuatan ekonomi. Dan dari sana, Desa Tulikup diharapkan dapat melangkah menuju masa depan yang lebih mandiri.
(Tim)