GIANYAR | Berandabali.id – Membangun desa tidak selalu harus dimulai dari pembangunan fisik. Bagi I Ketut Gede Kesumawijaya, S.Sos., M.Ag., pembangunan juga harus menyentuh manusia, terutama generasi muda yang kelak menjadi penerus desa.
Hal itu diwujudkannya ketika masih dipercaya menjabat sebagai Penjabat (Pj) Kepala Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Salah satu program yang digagas adalah membentuk wadah pembinaan Tekwondo/Taekwondo Sayan, yang kemudian terintegrasi dengan pembinaan Tekwondo Garuda Muda Ubud.
Kini, Kesumawijaya kembali maju sebagai Calon Perbekel Desa Sayan nomor urut 1 dalam kontestasi Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Sayan periode mendatang. Program pembinaan generasi muda tersebut menjadi salah satu jejak pengabdiannya yang ingin terus dilanjutkan dan dikembangkan.
Menurut Kesumawijaya, pembentukan Tekwondo bukan semata-mata untuk mengajarkan anak-anak mengenai teknik bela diri. Lebih jauh, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang positif bagi anak-anak untuk mengisi waktu luang sekaligus membangun karakter, kedisiplinan, keberanian dan prestasi.
“Tujuannya adalah bagaimana anak-anak kita memiliki kegiatan positif. Di samping soft skill, mereka juga harus mempunyai hard skill, termasuk kemampuan bela diri dan kemampuan untuk berprestasi,” ujar Kesumawijaya.
Ia menilai perkembangan teknologi saat ini membawa tantangan tersendiri bagi generasi muda. Penggunaan telepon seluler (HP) yang tidak terkontrol berpotensi membuat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital.
Karena itu, menurutnya, desa harus hadir menyediakan ruang kegiatan yang sehat dan produktif.
“Waktu luang anak-anak harus diarahkan kepada hal-hal positif. Jangan sampai mereka selalu tergantung pada HP. Kita ingin mereka memiliki kegiatan, mengatur waktu, berinteraksi, berlatih dan kemudian mampu mengimplementasikan hal-hal positif dalam kehidupan,” katanya.
Dari Bela Diri hingga Seni
Program pembinaan generasi muda yang digagas Kesumawijaya tidak berhenti pada Tekwondo. Ia berpandangan bahwa anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan berbagai potensi sesuai bakat dan minat masing-masing.
Selain bela diri, terdapat pula ruang pengembangan seni seperti seni lukis, seni tari hingga seni gamelan.
Menurutnya, keberagaman kegiatan tersebut penting agar generasi muda Desa Sayan memiliki pilihan untuk mengembangkan kemampuan mereka sejak usia dini.
“Anak-anak muda harus mempunyai skill. Tidak hanya bahasa Inggris dan komputer, tetapi juga keterampilan lain yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Salah satunya bela diri, kemudian seni lukis, seni tari, seni gamelan dan berbagai kegiatan positif lainnya,” ungkapnya.
Tekwondo sendiri memiliki kegiatan yang cukup beragam. Selain latihan bela diri, anak-anak juga mendapatkan pembinaan fisik, latihan lari dan kegiatan lainnya yang mendukung kebugaran serta pembentukan karakter.
Kegiatan tersebut dilaksanakan sekitar tiga kali dalam seminggu dan diikuti anak-anak dari berbagai banjar di Desa Sayan.
Kini Diramaikan Sekitar 125 Anak
Program yang awalnya dibentuk sebagai wadah pembinaan tersebut kini berkembang cukup pesat. Sekitar 125 anak tercatat mengikuti kegiatan Tekwondo.
Pesertanya berasal dari berbagai wilayah di Desa Sayan, termasuk anak-anak dari jenjang sekolah dasar. Bahkan, pembinaan tersebut diharapkan terus berkembang hingga menjangkau siswa SMP dan SMA.
“Sekarang kurang lebih sudah 125 anak. Dari SD 1 sampai SD 5 bergabung. Ke depan, kalau ada anak SMP dan SMA yang ingin bergabung, tentu kita buka ruang,” jelas Kesumawijaya.
Yang menarik, pembinaan tersebut juga telah melahirkan kader pelatih dari kalangan anak-anak yang sejak kecil mengikuti latihan.
Ia mencontohkan seorang anak yang mulai berlatih sejak duduk di bangku SD kelas satu. Kini, anak tersebut telah memasuki semester tiga di perguruan tinggi, bahkan sudah dipercaya menjadi pelatih dan mampu menorehkan prestasi di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Bagi Kesumawijaya, perjalanan anak tersebut menjadi contoh nyata bahwa pembinaan yang dilakukan sejak dini dapat melahirkan generasi berikutnya yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga mampu menjadi inspirasi bagi adik-adiknya.
“Ini memberikan manfaat kepada generasi berikutnya. Anak-anak bisa melihat kakaknya yang sudah sukses, kemudian mereka termotivasi untuk mengikuti jejak yang positif,” tuturnya.
Dibiayai Melalui APBDes, Pelatih Juga Diberikan Penghargaan
Keseriusan terhadap pembinaan generasi muda juga diwujudkan melalui dukungan pemerintah desa.
Dalam program tersebut, pemerintah desa memberikan dukungan melalui APBDes 2026, termasuk membantu pembiayaan honor pelatih.
Menurut Kesumawijaya, dukungan anggaran desa merupakan bentuk keberpihakan terhadap pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam menyediakan ruang tumbuh bagi generasi muda.
“Dari APBDes kita bantu untuk pelatih. Ada honor bagi pelatih. Ini bagian dari pemberdayaan masyarakat dan pendidikan masyarakat yang kita lakukan melalui program desa,” jelasnya.
Pembinaan juga mendapat dukungan dari masyarakat adat. Prestasi anak-anak yang mengikuti kegiatan tersebut diberikan apresiasi, termasuk dalam bentuk dukungan dari banjar adat.
Desa dinas, menurut Kesumawijaya, harus mampu bersinergi dengan desa adat dalam menciptakan ekosistem pembinaan generasi muda.
Desa Sayan sendiri memiliki delapan banjar, dan seluruh wilayah tersebut dirangkul dalam program pembinaan.
Bukan Sekadar Juara, tetapi Membentuk Karakter
Bagi Kesumawijaya, prestasi memang penting. Namun, tujuan paling utama dari kegiatan tersebut adalah membentuk karakter anak.
Melalui latihan rutin, anak-anak belajar disiplin, menghargai waktu, bekerja sama, menghormati pelatih dan teman, serta memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan.
“Kalau generasi muda sudah mampu mengisi waktu, mengatur waktu dan mengimplementasikan kehidupan yang positif, tentu mereka akan menjadi generasi yang mampu mengantarkan bangsa ini menuju kemajuan,” ujarnya.
Ia menegaskan, pembangunan generasi muda harus dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni desa. Dari desa, kemudian berkembang ke tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga akhirnya berkontribusi bagi bangsa dan negara.
Akan Dikembangkan ke Cabang Olahraga Lain
Jika kembali dipercaya memimpin Desa Sayan, Kesumawijaya memastikan pembinaan generasi muda tidak akan berhenti pada Tekwondo.
Program tersebut akan terus dibina dan dikembangkan, termasuk membuka peluang bagi cabang olahraga lainnya.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah olahraga futsal dan berbagai cabang olahraga yang memiliki potensi dikembangkan di kalangan anak muda Sayan.
Apalagi, Desa Sayan juga memiliki peluang untuk mengembangkan pusat kegiatan olahraga yang dapat menjadi ruang bersama bagi masyarakat dan generasi muda.
“Ini akan terus kita bina dan berkelanjutan. Ke depan mungkin cabang olahraga lainnya juga kita potensikan, misalnya futsal dan olahraga lainnya,” katanya.
Ia melihat pembangunan fasilitas olahraga dan pembinaan sumber daya manusia harus berjalan beriringan. Infrastruktur olahraga tanpa aktivitas pembinaan tidak akan maksimal, sementara pembinaan tanpa fasilitas yang memadai juga memiliki keterbatasan.
Karena itu, sinergi antara pemerintah desa, desa adat, masyarakat, pelatih, orang tua dan anak-anak menjadi kunci.
Pada akhirnya, Tekwondo Sayan bukan hanya tentang bagaimana seorang anak mampu melakukan teknik tendangan atau memenangkan pertandingan.
Lebih dari itu, ia menjadi sebuah ruang kecil tempat karakter dibentuk, disiplin ditanamkan, persaudaraan tumbuh dan mimpi-mimpi anak desa mulai menemukan jalannya.
Sebab bagi Kesumawijaya, masa depan Desa Sayan tidak hanya dibangun dari jalan, fasilitas dan infrastruktur, tetapi juga dari anak-anak muda yang hari ini diberi ruang untuk tumbuh, belajar dan berprestasi.
“Generasi muda adalah penerus. Karena itu, mereka harus kita siapkan sejak sekarang agar mampu membawa desa, daerah dan bangsa ini menuju kemajuan,” pungkasnya. (Tim Newsyess)